alexametrics
23.9 C
Madiun
Sunday, May 29, 2022

Ruang Satu

Belum PTM 100 Persen

KEKHAWATIRAN meningkatnya kasus Covid-19 usai libur akhir tahun benar-benar terjadi. Sepekan terakhir kita dikejutkan dengan klaster BNI Kantor Cabang Madiun. Memang tidak dapat dipastikan kapan, di mana, dan bagaimana terjangkitnya. Informasi yang saya dapat, keluarga ini bukan habis bepergian. Tetapi kebetulan kejadiannya di awal tahun. Artinya, setelah libur akhir tahun 2021 lalu. Dari satu menjadi belasan kasus. Tidak menutup kemungkinan akan bertambah. Semoga saja tidak.

Fokus kita memang tidak pada bagaimana mereka terjangkit. Kita fokus untuk pengendaliannya. Agar tidak semakin melebar ke mana-mana. Makanya, tracing kita masifkan. Kita lakukan penelusuran sebanyak mungkin. Setelah ditemukan tujuh kasus penularan, kita lakukan tracing sebanyak 149 karyawannya. Kita temukan lagi sembilan kasus. Besoknya, ada tambahan dua kasus lagi. Kita tracing lagi. Bahkan, sampai ke instansi sekolah. Ada anak-anak yang turut terkonfirmasi. Anak dari salah seorang karyawan itu. Kita lakukan rapid antigen kepada 172 guru dan siswa di dua sekolah. Alhamdulillah semuanya negatif.

Selesai? belum. Ada kekhawatiran nasabah yang bertransaksi di BNI sebelum muncul kasus. Kita lakukan penelusuran juga. Para karyawan yang terjangkit kita mintai keterangan. Selain itu, kita lihat riwayat transaksinya. Namun, tentu itu tidak mudah. Karenanya, wali kota mengimbau nasabah yang merasa melakukan transaksi pada hari-hari sebelum kasus mengemuka untuk datang ke puskesmas. Kalau memang kontak erat, kita fasilitasi rapid antigennya. Saya ingin semua kemungkinan penularan untuk dilakukan penelusuran. Segera di-rapid, segera ditemukan, dan segera dilakukan penanganan.

Adanya Covid-19 memang mengubah segalanya. Termasuk klaster BNI ini. Sejatinya sudah kita jadwalkan untuk pembelajaran tatap muka (PTM) 100 persen mulai minggu ini. Secara aturan, kota kita sudah memenuhi syaratnya. Saat ini kita ada di level 1. Tapi, mungkin sedikit terusik. Biarpun di level 2, PTM 100 persen tetap boleh dilakukan. Vaksinasi anak usia 6-11 tahun juga sudah 100 persen lebih untuk dosis 1. Pemberian dosis 2 dijadwalkan selesai akhir bulan ini. Artinya, vaksinasi primer untuk usia 6-11 tahun segera tuntas.

Baca Juga :  Wali Kota Madiun: Hipmi Harus Menjadi Pemain di Kota Sendiri

Tetapi saya tidak ingin gegabah. Tentu karena ada klaster ini. Biarpun hasil tracing di instansi sekolah tidak ditemukan kasus, tetap saya putuskan untuk ditunda. Pembelajaran masih menggunakan skema seperti biasa. PTM secara terbatas. Lima puluh persen kapasitas. Untuk tingkat dasar kita bagi dua sif. Bahkan, dua siswa yang terkonfirmasi mengikuti pembelajaran secara daring selama masa isolasi. Setelahnya, kita rapid lagi dan bisa masuk jika hasilnya negatif.

Memang tidak berdampak pada instansi sekolah yang lain. Tetapi saya tidak mau sembrono. Saya takut ada kasus lain lagi. Covid-19 ini tak kasatmata. Kita tidak tahu apakah tempat yang kita datangi benar-benar steril. Kita tidak tahu apakah orang yang kita jumpai bersih dari virus. Ini pentingnya protokol kesehatan. Kita harus selalu curiga. Sebab, siapa pun berpotensi tertular dan menulari. Kalau sudah seperti itu, kita akan disiplin. Minimal selalu pakai masker dan berjaga jarak. Setelahnya langsung cuci tangan.

Orang dewasa mungkin lebih disiplin. Tapi, bagaimana dengan anak-anak. Apalagi, kalau sudah bermain. Bisa lupa kalau pandemi. Lupa cara menerapkan protokol kesehatan. Pihak sekolah memang selalu kita ingatkan tentang itu. Selalu mengawasi anak-anak. Tapi, bagaimana saat di rumah. Bisa jadi terjangkitnya di lingkungan rumah lantas menulari teman-temannya di sekolah. Sekali lagi, Covid-19 ini tak kasatmata. Semua berpotensi tertular dan menulari. Kita sendiri yang menentukan. Selalu disiplin protokol kesehatan untuk cegah penularan atau abai dengan potensi tertular yang lebih besar. Pemerintah sudah berupaya dengan berbagai cara untuk menekan ini. Masyarakat juga harus membantu. Paling tidak dengan mengikuti anjuran dan mematuhi aturan. Pandemi ini belum berakhir. Penularan masih terjadi. Jaga diri, keluarga, dan sesama. (penulis adalah Wali Kota Madiun Maidi)

KEKHAWATIRAN meningkatnya kasus Covid-19 usai libur akhir tahun benar-benar terjadi. Sepekan terakhir kita dikejutkan dengan klaster BNI Kantor Cabang Madiun. Memang tidak dapat dipastikan kapan, di mana, dan bagaimana terjangkitnya. Informasi yang saya dapat, keluarga ini bukan habis bepergian. Tetapi kebetulan kejadiannya di awal tahun. Artinya, setelah libur akhir tahun 2021 lalu. Dari satu menjadi belasan kasus. Tidak menutup kemungkinan akan bertambah. Semoga saja tidak.

Fokus kita memang tidak pada bagaimana mereka terjangkit. Kita fokus untuk pengendaliannya. Agar tidak semakin melebar ke mana-mana. Makanya, tracing kita masifkan. Kita lakukan penelusuran sebanyak mungkin. Setelah ditemukan tujuh kasus penularan, kita lakukan tracing sebanyak 149 karyawannya. Kita temukan lagi sembilan kasus. Besoknya, ada tambahan dua kasus lagi. Kita tracing lagi. Bahkan, sampai ke instansi sekolah. Ada anak-anak yang turut terkonfirmasi. Anak dari salah seorang karyawan itu. Kita lakukan rapid antigen kepada 172 guru dan siswa di dua sekolah. Alhamdulillah semuanya negatif.

Selesai? belum. Ada kekhawatiran nasabah yang bertransaksi di BNI sebelum muncul kasus. Kita lakukan penelusuran juga. Para karyawan yang terjangkit kita mintai keterangan. Selain itu, kita lihat riwayat transaksinya. Namun, tentu itu tidak mudah. Karenanya, wali kota mengimbau nasabah yang merasa melakukan transaksi pada hari-hari sebelum kasus mengemuka untuk datang ke puskesmas. Kalau memang kontak erat, kita fasilitasi rapid antigennya. Saya ingin semua kemungkinan penularan untuk dilakukan penelusuran. Segera di-rapid, segera ditemukan, dan segera dilakukan penanganan.

Adanya Covid-19 memang mengubah segalanya. Termasuk klaster BNI ini. Sejatinya sudah kita jadwalkan untuk pembelajaran tatap muka (PTM) 100 persen mulai minggu ini. Secara aturan, kota kita sudah memenuhi syaratnya. Saat ini kita ada di level 1. Tapi, mungkin sedikit terusik. Biarpun di level 2, PTM 100 persen tetap boleh dilakukan. Vaksinasi anak usia 6-11 tahun juga sudah 100 persen lebih untuk dosis 1. Pemberian dosis 2 dijadwalkan selesai akhir bulan ini. Artinya, vaksinasi primer untuk usia 6-11 tahun segera tuntas.

Baca Juga :  Pacitan setelah In(i)

Tetapi saya tidak ingin gegabah. Tentu karena ada klaster ini. Biarpun hasil tracing di instansi sekolah tidak ditemukan kasus, tetap saya putuskan untuk ditunda. Pembelajaran masih menggunakan skema seperti biasa. PTM secara terbatas. Lima puluh persen kapasitas. Untuk tingkat dasar kita bagi dua sif. Bahkan, dua siswa yang terkonfirmasi mengikuti pembelajaran secara daring selama masa isolasi. Setelahnya, kita rapid lagi dan bisa masuk jika hasilnya negatif.

Memang tidak berdampak pada instansi sekolah yang lain. Tetapi saya tidak mau sembrono. Saya takut ada kasus lain lagi. Covid-19 ini tak kasatmata. Kita tidak tahu apakah tempat yang kita datangi benar-benar steril. Kita tidak tahu apakah orang yang kita jumpai bersih dari virus. Ini pentingnya protokol kesehatan. Kita harus selalu curiga. Sebab, siapa pun berpotensi tertular dan menulari. Kalau sudah seperti itu, kita akan disiplin. Minimal selalu pakai masker dan berjaga jarak. Setelahnya langsung cuci tangan.

Orang dewasa mungkin lebih disiplin. Tapi, bagaimana dengan anak-anak. Apalagi, kalau sudah bermain. Bisa lupa kalau pandemi. Lupa cara menerapkan protokol kesehatan. Pihak sekolah memang selalu kita ingatkan tentang itu. Selalu mengawasi anak-anak. Tapi, bagaimana saat di rumah. Bisa jadi terjangkitnya di lingkungan rumah lantas menulari teman-temannya di sekolah. Sekali lagi, Covid-19 ini tak kasatmata. Semua berpotensi tertular dan menulari. Kita sendiri yang menentukan. Selalu disiplin protokol kesehatan untuk cegah penularan atau abai dengan potensi tertular yang lebih besar. Pemerintah sudah berupaya dengan berbagai cara untuk menekan ini. Masyarakat juga harus membantu. Paling tidak dengan mengikuti anjuran dan mematuhi aturan. Pandemi ini belum berakhir. Penularan masih terjadi. Jaga diri, keluarga, dan sesama. (penulis adalah Wali Kota Madiun Maidi)

Most Read

Artikel Terbaru

/