alexametrics
25.5 C
Madiun
Wednesday, May 18, 2022

Mario

MAGETAN beruntung. Lahir seorang anak yang luar biasa. Prestasinya di bidang olahraga begitu menakjubkan. Prestasinya juga mengubah cara pandang orang tua dalam membantu merealisasikan cita-cita putra-putrinya; yang biasanya selalu menghindarkan sejauh mungkin dari risiko, apalagi membahayakan nyawa.

Akhir 2018 saya mulai akrab dengan orang tua Mario Suryo Aji. Orang tua yang luar biasa. Seorang yang dulunya juga pembalap. Putra-putrinya dididik sesuai passion-nya. Tentu sedikit orang tua, apalagi orang Jawa, yang punya pandangan sedemikian terbuka terhadap masa depan putra-putrinya.

Umumnya orang Jawa, terutama di wilayah Mataraman seperti Magetan, pasti menginginkan anak-anaknya menjadi priyayi. Sebuah simbol status yang menjadi impian para orang tua. Clifford Geertz dalam karyanya yang berjudul Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa menguraikan posisi priyayi dalam masyarakat Jawa.

Dalam salah satu diskusi dengan informannya, priyayi menurut pandangan orang Jawa adalah orang yang mengerjakan pekerjaan halus, yakni mereka yang bekerja di pemerintahan. Awalnya priyayi adalah keturunan atau darah bangsawan. Karena perkembangan zaman, priyayi bisa diperolah karena pekerjaan.

Mungkin ada yang ingat kudangan orang tua kita dulu terhadap anak atau cucunya seperti ini, “mbesok yen gedhe dadi apa?’’ Yang kemudian dijawab sendiri, ‘’tak dongakke mbesok dadi dokter, insinyur, ya. Sekolah sing pinter.”

Jangan heran kalau orang Jawa umumnya ngudi pendidikan putra-putrinya. Luwih becik mangan sega aking, nanging anak-anake bisa sekolah, menjadi pandangan hidup banyak orang tua. Keberhasilan mengantar putra-putri menjadi priyayi ibarat tolok ukur keberhasilan pola pendidikan orang tua.

Tak heran setiap rekrutmen CPNS selalu diserbu peminat. Bahkan, segala cara ditempuh. Kita bisa lihat, dengan model rekrutmen CPNS yang kini sudah transparan dan tidak mungkin ada permainan, masih saja banyak masyarakat teperdaya. Mau membayar uang puluhan atau bahkan ratusan juta untuk menjadi CPNS.

Karena itu, saya sangat kagum dengan ayah Mario, almarhum Mas Hartoto. Orang tua yang mempunyai cara pandang anti-mainstream. Saya jadi ingat suatu pertemuan dengan beliau. ‘’Mas, panjenengan itu orang tua yang luar biasa. Menjungkirbalikkan pandangan orang pada umumnya. Saja jujur tidak bisa berpikir seperti panjenengan dalam mendidik putra-putri, khususnya Mario. Mulai kecil panjenengan penuhi kemauan anak untuk belajar naik sepeda motor. Bahkan ikut lomba sejak kecil.” Demikian sepenggal dialog saya dengan ayah Mario.

Baca Juga :  Catatan Perjalanan Umrah Ladima Tour & Travel Semasih Pandemi Covid-19 (1)

Saya juga sampaikan kepadanya, bahwa kebanyakan orang tua sedikit-sedikit pasti mengingatkan anak supaya hati-hati ketika belajar naik sepeda motor. Kok bisa beliau begitu tatag melihat putranya berlaga di setiap lomba.

Tentu, keberhasilan Mario sedikit banyak mengubah pandangan mainstream orang tua dan anak muda. Anak disebut hebat bukan hanya karena menjadi dokter, insinyur, atau mendapat gelar lain. Profesi seperti pembalap pun, kalau ditekuni, juga membuahkan hasil luar biasa.

Keyakinan orang tua Mario membuahkan hasil. Salah seorang putra terbaik Magetan yang masih belia itu berhasil mengharumkan nama bangsa. Berlaga di ajang balap motor dunia. Tentu prestasi ini dapat menginspirasi anak-anak muda Indonesia.

Ada anak muda Magetan yang mengikuti jejak Mario. Mohammad Adenanta namanya. Saat ini berlaga di tingkat Asia. Dua tahun lalu saya sengaja menerima keduanya. Selain memberi semangat, saya juga berharap ada anak-anak muda lain dari Magetan yang bisa mengikuti jejak mereka.

Akhir tahun kemarin Sirkuit Mandalika selesai dibangun. Dengan panjang lintasan 4,32 kilometer, sirkuit itu dibangun di kawasan wisata kelas dunia. Tempat para pembalap muda Indonesia merealisasikan mimpi mereka.

Pertengahan Maret nanti akan digelar balapan MotoGP 2022 di Sirkuit Mandalika. Mario akan ikut berlaga. Sebagian warga Magetan sudah berencana menonton langsung. Juga akan ada acara nonton bareng siaran langsungnya.

Pembangunan Sirkuit Mandalika salah satunya bertujuan menggerakkan perekonomian dan pariwisata lewat olahraga. Kebetulan di saat yang sama, prestasi Mario tengah menanjak. Apa tidak boleh kalau kemudian saya mengatakan bahwa pembangunan Sirkuit Mandalika sebenarnya juga untuk menyediakan tempat bagi Mario dalam menunjukkan prestasinya. Selamat bertanding Mario. Doa masyarakat Magetan selalu menyertaimu. (penulis adalah Bupati Magetan Suprawoto/naz/c1)

MAGETAN beruntung. Lahir seorang anak yang luar biasa. Prestasinya di bidang olahraga begitu menakjubkan. Prestasinya juga mengubah cara pandang orang tua dalam membantu merealisasikan cita-cita putra-putrinya; yang biasanya selalu menghindarkan sejauh mungkin dari risiko, apalagi membahayakan nyawa.

Akhir 2018 saya mulai akrab dengan orang tua Mario Suryo Aji. Orang tua yang luar biasa. Seorang yang dulunya juga pembalap. Putra-putrinya dididik sesuai passion-nya. Tentu sedikit orang tua, apalagi orang Jawa, yang punya pandangan sedemikian terbuka terhadap masa depan putra-putrinya.

Umumnya orang Jawa, terutama di wilayah Mataraman seperti Magetan, pasti menginginkan anak-anaknya menjadi priyayi. Sebuah simbol status yang menjadi impian para orang tua. Clifford Geertz dalam karyanya yang berjudul Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa menguraikan posisi priyayi dalam masyarakat Jawa.

Dalam salah satu diskusi dengan informannya, priyayi menurut pandangan orang Jawa adalah orang yang mengerjakan pekerjaan halus, yakni mereka yang bekerja di pemerintahan. Awalnya priyayi adalah keturunan atau darah bangsawan. Karena perkembangan zaman, priyayi bisa diperolah karena pekerjaan.

Mungkin ada yang ingat kudangan orang tua kita dulu terhadap anak atau cucunya seperti ini, “mbesok yen gedhe dadi apa?’’ Yang kemudian dijawab sendiri, ‘’tak dongakke mbesok dadi dokter, insinyur, ya. Sekolah sing pinter.”

Jangan heran kalau orang Jawa umumnya ngudi pendidikan putra-putrinya. Luwih becik mangan sega aking, nanging anak-anake bisa sekolah, menjadi pandangan hidup banyak orang tua. Keberhasilan mengantar putra-putri menjadi priyayi ibarat tolok ukur keberhasilan pola pendidikan orang tua.

Tak heran setiap rekrutmen CPNS selalu diserbu peminat. Bahkan, segala cara ditempuh. Kita bisa lihat, dengan model rekrutmen CPNS yang kini sudah transparan dan tidak mungkin ada permainan, masih saja banyak masyarakat teperdaya. Mau membayar uang puluhan atau bahkan ratusan juta untuk menjadi CPNS.

Karena itu, saya sangat kagum dengan ayah Mario, almarhum Mas Hartoto. Orang tua yang mempunyai cara pandang anti-mainstream. Saya jadi ingat suatu pertemuan dengan beliau. ‘’Mas, panjenengan itu orang tua yang luar biasa. Menjungkirbalikkan pandangan orang pada umumnya. Saja jujur tidak bisa berpikir seperti panjenengan dalam mendidik putra-putri, khususnya Mario. Mulai kecil panjenengan penuhi kemauan anak untuk belajar naik sepeda motor. Bahkan ikut lomba sejak kecil.” Demikian sepenggal dialog saya dengan ayah Mario.

Baca Juga :  Potensi Baru

Saya juga sampaikan kepadanya, bahwa kebanyakan orang tua sedikit-sedikit pasti mengingatkan anak supaya hati-hati ketika belajar naik sepeda motor. Kok bisa beliau begitu tatag melihat putranya berlaga di setiap lomba.

Tentu, keberhasilan Mario sedikit banyak mengubah pandangan mainstream orang tua dan anak muda. Anak disebut hebat bukan hanya karena menjadi dokter, insinyur, atau mendapat gelar lain. Profesi seperti pembalap pun, kalau ditekuni, juga membuahkan hasil luar biasa.

Keyakinan orang tua Mario membuahkan hasil. Salah seorang putra terbaik Magetan yang masih belia itu berhasil mengharumkan nama bangsa. Berlaga di ajang balap motor dunia. Tentu prestasi ini dapat menginspirasi anak-anak muda Indonesia.

Ada anak muda Magetan yang mengikuti jejak Mario. Mohammad Adenanta namanya. Saat ini berlaga di tingkat Asia. Dua tahun lalu saya sengaja menerima keduanya. Selain memberi semangat, saya juga berharap ada anak-anak muda lain dari Magetan yang bisa mengikuti jejak mereka.

Akhir tahun kemarin Sirkuit Mandalika selesai dibangun. Dengan panjang lintasan 4,32 kilometer, sirkuit itu dibangun di kawasan wisata kelas dunia. Tempat para pembalap muda Indonesia merealisasikan mimpi mereka.

Pertengahan Maret nanti akan digelar balapan MotoGP 2022 di Sirkuit Mandalika. Mario akan ikut berlaga. Sebagian warga Magetan sudah berencana menonton langsung. Juga akan ada acara nonton bareng siaran langsungnya.

Pembangunan Sirkuit Mandalika salah satunya bertujuan menggerakkan perekonomian dan pariwisata lewat olahraga. Kebetulan di saat yang sama, prestasi Mario tengah menanjak. Apa tidak boleh kalau kemudian saya mengatakan bahwa pembangunan Sirkuit Mandalika sebenarnya juga untuk menyediakan tempat bagi Mario dalam menunjukkan prestasinya. Selamat bertanding Mario. Doa masyarakat Magetan selalu menyertaimu. (penulis adalah Bupati Magetan Suprawoto/naz/c1)

Most Read

Artikel Terbaru

/