alexametrics
26.6 C
Madiun
Monday, June 27, 2022

Pesta Perkawinan

BEBERAPA pekan terakhir, media mainstream maupun medsos dipenuhi berita temanten pria yang tidak datang di hari perkawinan. Peristiwa ini tentu sangat disesalkan. Apalagi pihak perempuan sudah menyiapkan dari jauh hari. Kita bisa bayangkan bagaimana perasaannya. Wajar bila muncul banyak simpati dari netizen menyikapi peristiwa ini. Sebaliknya, kecaman ditujukan kepada calon mempelai laki-laki.

Dari pemberitaan yang berkembang, salah satu sebab ketidakhadiran si calon laki-laki karena biaya pesta pernikahan tidak sesuai kesepakatan sebelumnya. Itu dijadikan salah satu alasan untuk tidak datang. Tentu, terlepas dari persoalan yang sebenarnya terjadi, ketidakhadirannya patut disesalkan. Dan mestinya tidak perlu terjadi.

Mengapa harus ada ritual dalam sebuah perkawinan? Dalam pandangan orang Jawa dan masyarakat timur umumnya, memohon pertolongan di luar kekuatan dirinya (transenden) itu penting untuk menghadapi segala sesuatu yang belum pasti. Supaya perkawinan langgeng, bahagia, dilimpahkan rezeki, juga anak. Ritual, doa, dan restu dalam bentuk pesta, digelar untuk memohon agar masa depan perkawinan sesuai yang diharapkan.

Dalam masyarakat Jawa, malah ada petungan. Kalau dalam perkawinan substansinya supaya rumah tangga yang dibangun memberi kebahagiaan sampai kaken-kaken dan ninen-ninen. Jangan harap seorang calon mempelai walau sudah saling mencintai, tapi kalau petungan-nya tidak tepat, orang tua yang masih ngugemi petungan akan menolak.

Di Jawa ada pasaran yang disebut Pon, Wage, Kliwon, Legi, Pahing. Dengan menjumlah hari dan pasaran masing-masing calon, kehidupan rumah tangganya kelak dapat diramalkan. Bila tidak cocok, orang tua akan membatalkan. Bila masih ingin berlanjut, biasanya ada syarat dan ritual tertentu.

Juga ada keyakinan, bila anak lahir pasaran Wage, jangan sekali-kali dipasangkan dengan Pahing. Orang Jawa mengatakan gehing. Kalau itu di-terak, akan menimbulkan kehidupan yang tidak baik dalam rumah tangganya kelak. Biasanya orang tua akan mencontohkan kejadian-kejadian yang pernah terjadi bila wewaler itu tetap di-terak.

Dulu, sebelum ada media semacam kontak jodoh dan saat ini medsos, ada profesi yang namanya dhandhan. Sebuah profesi yang tugasnya mencarikan jodoh perempuan dan laki-laki yang dianggap cukup usia. Kebanyakan orang Jawa menganggap tugas orang tua selesai jika semua anak-anaknya sudah diantarkan berumah tangga. Orang Jawa mengatakan mungkur.

Mungkur adalah sebuah beban kalimat yang berat untuk orang tua Jawa yang punya anak. Apalagi anak perempuan. Kadidene ancik-ancik pucuking eri, salah mengasuh akan berakibat kurang baik bagi keluarga. Begitu anak dianggap dewasa, segera dicarikan jodoh.

Dalam mencarikan pasangan, dhandhan akan melihat bobot, bibit, dan bebet. Juga menanyakan weton masing-masing. Jangan sampai weton menjadi pantangan. Juga jangan sampai jumlah hari pasarannya dari calon dirasa kurang baik.

Waktu itu, anak perempuan tidak akan menolak. Bentuk bekti kepada orang tua salah satunya adalah penentuan jodoh. Maka, banyak cerita novel Jawa, baik pra kemerdekaan maupun awal kemerdekaan, banyak membuat setting kawin paksa. Demikian pula novel berbahasa Melayu seperti Siti Nurbaya yang terkenal itu.

Bahkan, laki-laki harus nurut pilihan orang tua. Seperti terjadi pada penyair Amir Hamzah. Walau sudah punya calon gadis Surakarta ketika sama-sama sekolah AMS, akhirnya tetap nurut orang tua.

Baca Juga :  Investasi di Tengah Pandemi

Kemudian ada unen-unen tresna jalaran saka kulina. Orang tua dulu percaya itu. Jangan heran sebagian besar jodohnya pilihan orang tua. Termasuk bapak ibu saya dulu juga dijodohkan. Bukan pilihan sendiri. Demikian pula saudara bapak dan ibu saya. Namun, semua sudah melalui petungan; pasaran; bobot, bibit, bebet; serta syarat lain.

Setelah semua dianggap cukup, ritual untuk upaya transenden dilakukan. Dengan mencari hari baik, ritual, dan slametan. Bulan yang paling baik bagi orang Jawa untuk perkawinan adalah bulan Besar. Harapannya, agar kelak dalam berumah tangga selalu mandapat kebahagiaan.  Sebagai bentuk upaya membantu, masyarakat Jawa kemudian ada buwuhan.

Buwuhan merupakan bentuk gotong royong membantu mengadakan ritual. Karena dalam ritual dan slametan dilarang berutang. Masyarakat Jawa kemudian gotong royong membantu tenaga dan alat. Juga buwuhan dalam bentuk beras, pisang, ayam, dan keperluan lain.

Clifford Geertz dalam buku disertasinya The Religion of Java menuliskan, slametan dalam ritual perkawinan tidak boleh utang. ‘’…Ia mengatakan bahwa sangat penting untuk tidak berutang dalam menyelenggarakan slametan, karena apabila itu dilakukan, slametan itu tidak sah. Para arwah akan hadir dan menyaksikan, tetapi mereka tidak akan makan.’’

Pesta perkawinan besar sebenarnya bukan merupakan ritual transenden sebuah perkawinan. Bisa jadi itu budaya raja dan priyayi yang punya sumber daya luar biasa ketika itu. Namun, seiring perkembangan zaman, perayaan mewah merupakan simbol prestise keluarga.

Tak heran setiap rezim di negeri ini selalu menganjurkan pejabat mencontohkan hidup sederhana. Bahkan, pemerintahan Orde Baru harus mengeluarkan Keputusan Presiden untuk memaksa pola hidup sederhana. Pesta perkawinan pun harus dilaksanakan dengan sederhana.

Sayangnya, menggelar pesta sudah seperti keharusan. Bahkan, media televisi sering menyiarkan langsung pesta perkawinan artis yang penuh kemewahan. Yang mengherankan, siaran langsung berjam-jam itu tidak diingatkan KPI. Televisi yang menggunakan sumber daya alam berupa frekuensi itu mestinya digunakan untuk kepentingan publik.

Siaran semacam itu seolah semakin mengesahkan bahwa sebuah pesta perkawinan adalah keharusan. Perkawinan yang semula penuh ritual dan penuh upaya transenden menjadi ajang prestise. Kalau demikian, acara perkawinan akan menjadi beban berat bagi keluarga dan kedua calon mempelai.

Saya punya menantu orang Belanda. Ketika saya bilang kepada keluarganya bahwa hari perkawinan menunggu hari baik, mereka bingung. Ketika saya sebagai bupati harus mengundang ribuan tamu, mereka tambah bingung. Di masyarakatnya, semua hari baik. Pesta perkawinan bukan keharusan, cukup dicatat di Dutch City Hall Gemeente. Kalaupun ada pesta, hanya mengundang keluarga dan teman terdekat. Hanya 25 orang di restoran. Sangat efisien.

Kapan kita kembali kepada budaya yang penuh dengan ritual simbol agar kembali terjadi transformasi nilai-nilai Jawa? Bukan sebuah pesta perkawinan penuh kemewahan semu, yang kemudian menjadi beban keluarga dan calon. Harapannya, tidak ada lagi pesta perkawinan yang tidak dihadiri salah satu calon. Di era digital, informasi mudah viral dan menjadi santapan. Namun, betapa menderitanya bagi yang mengalami, karena nilai yang kita kembangkan sendiri. (*/naz/c1)

BEBERAPA pekan terakhir, media mainstream maupun medsos dipenuhi berita temanten pria yang tidak datang di hari perkawinan. Peristiwa ini tentu sangat disesalkan. Apalagi pihak perempuan sudah menyiapkan dari jauh hari. Kita bisa bayangkan bagaimana perasaannya. Wajar bila muncul banyak simpati dari netizen menyikapi peristiwa ini. Sebaliknya, kecaman ditujukan kepada calon mempelai laki-laki.

Dari pemberitaan yang berkembang, salah satu sebab ketidakhadiran si calon laki-laki karena biaya pesta pernikahan tidak sesuai kesepakatan sebelumnya. Itu dijadikan salah satu alasan untuk tidak datang. Tentu, terlepas dari persoalan yang sebenarnya terjadi, ketidakhadirannya patut disesalkan. Dan mestinya tidak perlu terjadi.

Mengapa harus ada ritual dalam sebuah perkawinan? Dalam pandangan orang Jawa dan masyarakat timur umumnya, memohon pertolongan di luar kekuatan dirinya (transenden) itu penting untuk menghadapi segala sesuatu yang belum pasti. Supaya perkawinan langgeng, bahagia, dilimpahkan rezeki, juga anak. Ritual, doa, dan restu dalam bentuk pesta, digelar untuk memohon agar masa depan perkawinan sesuai yang diharapkan.

Dalam masyarakat Jawa, malah ada petungan. Kalau dalam perkawinan substansinya supaya rumah tangga yang dibangun memberi kebahagiaan sampai kaken-kaken dan ninen-ninen. Jangan harap seorang calon mempelai walau sudah saling mencintai, tapi kalau petungan-nya tidak tepat, orang tua yang masih ngugemi petungan akan menolak.

Di Jawa ada pasaran yang disebut Pon, Wage, Kliwon, Legi, Pahing. Dengan menjumlah hari dan pasaran masing-masing calon, kehidupan rumah tangganya kelak dapat diramalkan. Bila tidak cocok, orang tua akan membatalkan. Bila masih ingin berlanjut, biasanya ada syarat dan ritual tertentu.

Juga ada keyakinan, bila anak lahir pasaran Wage, jangan sekali-kali dipasangkan dengan Pahing. Orang Jawa mengatakan gehing. Kalau itu di-terak, akan menimbulkan kehidupan yang tidak baik dalam rumah tangganya kelak. Biasanya orang tua akan mencontohkan kejadian-kejadian yang pernah terjadi bila wewaler itu tetap di-terak.

Dulu, sebelum ada media semacam kontak jodoh dan saat ini medsos, ada profesi yang namanya dhandhan. Sebuah profesi yang tugasnya mencarikan jodoh perempuan dan laki-laki yang dianggap cukup usia. Kebanyakan orang Jawa menganggap tugas orang tua selesai jika semua anak-anaknya sudah diantarkan berumah tangga. Orang Jawa mengatakan mungkur.

Mungkur adalah sebuah beban kalimat yang berat untuk orang tua Jawa yang punya anak. Apalagi anak perempuan. Kadidene ancik-ancik pucuking eri, salah mengasuh akan berakibat kurang baik bagi keluarga. Begitu anak dianggap dewasa, segera dicarikan jodoh.

Dalam mencarikan pasangan, dhandhan akan melihat bobot, bibit, dan bebet. Juga menanyakan weton masing-masing. Jangan sampai weton menjadi pantangan. Juga jangan sampai jumlah hari pasarannya dari calon dirasa kurang baik.

Waktu itu, anak perempuan tidak akan menolak. Bentuk bekti kepada orang tua salah satunya adalah penentuan jodoh. Maka, banyak cerita novel Jawa, baik pra kemerdekaan maupun awal kemerdekaan, banyak membuat setting kawin paksa. Demikian pula novel berbahasa Melayu seperti Siti Nurbaya yang terkenal itu.

Bahkan, laki-laki harus nurut pilihan orang tua. Seperti terjadi pada penyair Amir Hamzah. Walau sudah punya calon gadis Surakarta ketika sama-sama sekolah AMS, akhirnya tetap nurut orang tua.

Baca Juga :  Harga Sejumlah Bahan Pokok di Magetan Melambung Jelang Lebaran

Kemudian ada unen-unen tresna jalaran saka kulina. Orang tua dulu percaya itu. Jangan heran sebagian besar jodohnya pilihan orang tua. Termasuk bapak ibu saya dulu juga dijodohkan. Bukan pilihan sendiri. Demikian pula saudara bapak dan ibu saya. Namun, semua sudah melalui petungan; pasaran; bobot, bibit, bebet; serta syarat lain.

Setelah semua dianggap cukup, ritual untuk upaya transenden dilakukan. Dengan mencari hari baik, ritual, dan slametan. Bulan yang paling baik bagi orang Jawa untuk perkawinan adalah bulan Besar. Harapannya, agar kelak dalam berumah tangga selalu mandapat kebahagiaan.  Sebagai bentuk upaya membantu, masyarakat Jawa kemudian ada buwuhan.

Buwuhan merupakan bentuk gotong royong membantu mengadakan ritual. Karena dalam ritual dan slametan dilarang berutang. Masyarakat Jawa kemudian gotong royong membantu tenaga dan alat. Juga buwuhan dalam bentuk beras, pisang, ayam, dan keperluan lain.

Clifford Geertz dalam buku disertasinya The Religion of Java menuliskan, slametan dalam ritual perkawinan tidak boleh utang. ‘’…Ia mengatakan bahwa sangat penting untuk tidak berutang dalam menyelenggarakan slametan, karena apabila itu dilakukan, slametan itu tidak sah. Para arwah akan hadir dan menyaksikan, tetapi mereka tidak akan makan.’’

Pesta perkawinan besar sebenarnya bukan merupakan ritual transenden sebuah perkawinan. Bisa jadi itu budaya raja dan priyayi yang punya sumber daya luar biasa ketika itu. Namun, seiring perkembangan zaman, perayaan mewah merupakan simbol prestise keluarga.

Tak heran setiap rezim di negeri ini selalu menganjurkan pejabat mencontohkan hidup sederhana. Bahkan, pemerintahan Orde Baru harus mengeluarkan Keputusan Presiden untuk memaksa pola hidup sederhana. Pesta perkawinan pun harus dilaksanakan dengan sederhana.

Sayangnya, menggelar pesta sudah seperti keharusan. Bahkan, media televisi sering menyiarkan langsung pesta perkawinan artis yang penuh kemewahan. Yang mengherankan, siaran langsung berjam-jam itu tidak diingatkan KPI. Televisi yang menggunakan sumber daya alam berupa frekuensi itu mestinya digunakan untuk kepentingan publik.

Siaran semacam itu seolah semakin mengesahkan bahwa sebuah pesta perkawinan adalah keharusan. Perkawinan yang semula penuh ritual dan penuh upaya transenden menjadi ajang prestise. Kalau demikian, acara perkawinan akan menjadi beban berat bagi keluarga dan kedua calon mempelai.

Saya punya menantu orang Belanda. Ketika saya bilang kepada keluarganya bahwa hari perkawinan menunggu hari baik, mereka bingung. Ketika saya sebagai bupati harus mengundang ribuan tamu, mereka tambah bingung. Di masyarakatnya, semua hari baik. Pesta perkawinan bukan keharusan, cukup dicatat di Dutch City Hall Gemeente. Kalaupun ada pesta, hanya mengundang keluarga dan teman terdekat. Hanya 25 orang di restoran. Sangat efisien.

Kapan kita kembali kepada budaya yang penuh dengan ritual simbol agar kembali terjadi transformasi nilai-nilai Jawa? Bukan sebuah pesta perkawinan penuh kemewahan semu, yang kemudian menjadi beban keluarga dan calon. Harapannya, tidak ada lagi pesta perkawinan yang tidak dihadiri salah satu calon. Di era digital, informasi mudah viral dan menjadi santapan. Namun, betapa menderitanya bagi yang mengalami, karena nilai yang kita kembangkan sendiri. (*/naz/c1)

Most Read

Artikel Terbaru

/