alexametrics
33.7 C
Madiun
Thursday, September 29, 2022

Wayang Cangkem

PEKAN lalu, ketika membuka sosialisasi pencegahan rokok ilegal di Kecamatan Kartoharjo, saya disuguhi pertunjukan wayang kulit. Namun, sebelum wayang kulit pentas, ada pergelaran wayang cangkem. Wayang khas Desa Sukowidi, Kecamatan Kartoharjo.

Enam bulan lalu, saya dengar ada pertunjukan wayang cangkem di desa ini ketika mengadakan bersih desa. Ketika saya mau menyaksikan, pertunjukannya sudah selesai. Saya jadi penasaran. Ingin menyaksikan sendiri. Seperti apa? Akhirnya saya pesan Mas Camat, suatu saat saya ingin menonton. Karena sejak kecil, saya salah satu penggemar wayang kulit.

Kita semua tahu, pergelaran wayang kulit membutuhkan banyak perangkat. Wayang dengan segala perlengkapannya. Juga gamelan dan lainnya. Sinden saat ini harus lebih dari satu. Zaman saya kecil, sinden cukup seorang. Pakai bintang tamu agar menarik penonton. Pertunjukannya sekitar enam jam. Ini kok unik, ada wayang cangkem. Gamelannya memakai cangkem (mulut).

Saya membayangkan, kalau gamelan pakai cangkem, bagaimana pembagian perannya. Siapa yang bertindak sebagai dirigen atau kendhang. Kemudian, siapa bonang, gong, centhe, dan sebagainya. Lalu, apakah peraga tidak lelah dengan durasi waktu pertunjukan yang lama. Karena  harus menggantikan gamelan, apa tidak meniren.

Sabtu malam, 20 Agustus lalu, rasa penasaran saya terjawab. Sebelum pertunjukan wayang kulit dan sosialisasi pencegahan rokok ilegal, dipentaskan wayang cangkem selama 30 menit. Pertunjukan sengaja digelar di panggung depan. Supaya mudah dikemas ketika selesai.

Wayang cangkem terdiri dari dalang dan dua sinden. Sedangkan yang memainkan gamelan ada empat laki-laki. Wayangnya sendiri tak sebanyak wayang kulit. Beberapa ditancapkan pada batang pisang. Demikian juga kelir, hanya berukuran sekitar empat meter.

Seperti layaknya wayang kulit, wayang cangkem juga mengambil lakon cerita pakem. Hanya, durasi waktunya tergantung kepentingan atau bahkan permintaan. Malam itu hanya setengah jam. Tapi bisa juga semalam suntuk layaknya pentas wayang kulit.

Baru mulai saja, saya sudah tertawa. Staf saya yang baru melihat, semua juga tertawa. Tentu tertawa saya bisa dimaknai macam-macam. Bisa jadi wayang cangkem juga lucu, mengingatkan saya waktu kecil, sebuah perlawanan terhadap mahalnya pentas wayang. Keisengan warga yang ternyata mendapat apresiasi.

Atau, ini pentas wayang waktu kecil, kemudian dibawa setelah dewasa. Karena ketika saya kecil dulu, waktu memainkan wayang, gamelannya pakai mulut sendiri. Atau dibantu teman-teman saya.

Setelah selesai pertunjukan, saya sengaja bertemu dengan para peraga, baik dalang, sinden, maupun yang memainkan gamelan. Dalang wayang cangkem diperankan Suparlan yang sehari-hari bakul bakso. Kemudian, sindennya ibu rumah tangga yang buruh tani. Pun yang bertindak sebagai pengganti gamelan juga buruh tani.

Baca Juga :  Ekonomi Pasca-Idul Fitri

Wayang cangkem mulai dipentaskan di Desa Sukowidi pada 2019, sebelum pandemi. Awalnya pertunjukan dilakukan hanya iseng untuk mengisi waktu. Suatu ketika ada yang mengundang pentas di desa, dalam rangka peringatan tujuh hari meninggalnya warga. Tentu ceritanya disesuaikan dengan acaranya.

Pentas pertama tanpa bayaran alias gratis. Setelah pentas pertama, beberapa warga desa akhirnya mengundang. Masih gratis juga. Pada pentas yang keempat, baru kemudian dibayar. Itu pun hanya Rp 50 ribu. Hanya cukup untuk beli rokok dan kemudian dibagi.

Semakin lama, semakin banyak yang tertarik. Bahkan, pernah ada yang nanggap pentas sampai di sebuah desa di Caruban. Karena alatnya sederhana, semua peralatan cukup dibawa dengan sepeda motor. Kemudian saya tanya, berapa tarif sekarang kalau sekali pentas. Jawabannya khas warga desa yang masih lekat dengan gotong royong. ‘’Walah, Pak, mboten natos masang tarif. Monggo sakersa angsalipun maringi ingkang nanggap.”

Setelah saya desak, akhirnya menyampaikan umumnya memberi Rp 1 juta. Kalau agak jauh, Rp 1,5 juta. Pentasnya juga bisa sampai pagi layaknya wayang kulit. Waktu pentas, yang ngelawak tidak hanya dalang, pemeran gamelan juga bisa dengan sengaja membuat lelucon. Salah satunya dengan membuat mblero nadanya. Jadinya saling hujat, yang menimbulkan kelucuan. Tentu kelucuan khas masyarakat biasa.

Ketika saya tanya, apa kira-kira yang bisa dibantu. Mereka meminta wayangnya dibuat bagus. Saya justru bilang, wayangnya biar tetap dari karton saja. Jangan diganti wayang sungguhan dari kulit. Agar keunikannya tetap terjaga. Juga kalau perlu, waktu Perang Baratayuda, kalau kepala harus lepas kena anak panah, disobek tidak apa-apa. Demikian juga ketika harus disobek untuk tuntutan sebuah cerita. Tentu akan lebih dramatis.

Yang diganti cukup kotak wayang dengan kepyek-nya. Agar suara kethok dan kepyek terdengar bagus. Belajar dari pertunjukan Wayang Kampung Sebelah dari Surakarta, yang kemudian mendapat sambutan bagus dari masyarakat. Alasannya biaya lebih ringan, sederhana, ceritanya juga sehari-hari, lucu dan fleksibel.

Kesederhanaan, sangat murah, unik dan praktis. Itulah keunggulan wayang cangkem. Mengisi ruang bagi masyarakat yang ingin nanggap wayang dengan sangat murah. Sebab, mementaskan wayang kulit butuh biaya mahal. Itu hanya mimpi bagi masyarakat umum. Dan, menurut hemat saya, wayang cangkem bisa menjadi alternatif mengenalkan kepada anak-anak kita tentang wayang. Saat ini, pementasan wayang sudah semakin jarang di masyarakat. Penasaran dengan wayang cangkem, silakan nanggap. (*/naz/c1)

PEKAN lalu, ketika membuka sosialisasi pencegahan rokok ilegal di Kecamatan Kartoharjo, saya disuguhi pertunjukan wayang kulit. Namun, sebelum wayang kulit pentas, ada pergelaran wayang cangkem. Wayang khas Desa Sukowidi, Kecamatan Kartoharjo.

Enam bulan lalu, saya dengar ada pertunjukan wayang cangkem di desa ini ketika mengadakan bersih desa. Ketika saya mau menyaksikan, pertunjukannya sudah selesai. Saya jadi penasaran. Ingin menyaksikan sendiri. Seperti apa? Akhirnya saya pesan Mas Camat, suatu saat saya ingin menonton. Karena sejak kecil, saya salah satu penggemar wayang kulit.

Kita semua tahu, pergelaran wayang kulit membutuhkan banyak perangkat. Wayang dengan segala perlengkapannya. Juga gamelan dan lainnya. Sinden saat ini harus lebih dari satu. Zaman saya kecil, sinden cukup seorang. Pakai bintang tamu agar menarik penonton. Pertunjukannya sekitar enam jam. Ini kok unik, ada wayang cangkem. Gamelannya memakai cangkem (mulut).

Saya membayangkan, kalau gamelan pakai cangkem, bagaimana pembagian perannya. Siapa yang bertindak sebagai dirigen atau kendhang. Kemudian, siapa bonang, gong, centhe, dan sebagainya. Lalu, apakah peraga tidak lelah dengan durasi waktu pertunjukan yang lama. Karena  harus menggantikan gamelan, apa tidak meniren.

Sabtu malam, 20 Agustus lalu, rasa penasaran saya terjawab. Sebelum pertunjukan wayang kulit dan sosialisasi pencegahan rokok ilegal, dipentaskan wayang cangkem selama 30 menit. Pertunjukan sengaja digelar di panggung depan. Supaya mudah dikemas ketika selesai.

Wayang cangkem terdiri dari dalang dan dua sinden. Sedangkan yang memainkan gamelan ada empat laki-laki. Wayangnya sendiri tak sebanyak wayang kulit. Beberapa ditancapkan pada batang pisang. Demikian juga kelir, hanya berukuran sekitar empat meter.

Seperti layaknya wayang kulit, wayang cangkem juga mengambil lakon cerita pakem. Hanya, durasi waktunya tergantung kepentingan atau bahkan permintaan. Malam itu hanya setengah jam. Tapi bisa juga semalam suntuk layaknya pentas wayang kulit.

Baru mulai saja, saya sudah tertawa. Staf saya yang baru melihat, semua juga tertawa. Tentu tertawa saya bisa dimaknai macam-macam. Bisa jadi wayang cangkem juga lucu, mengingatkan saya waktu kecil, sebuah perlawanan terhadap mahalnya pentas wayang. Keisengan warga yang ternyata mendapat apresiasi.

Atau, ini pentas wayang waktu kecil, kemudian dibawa setelah dewasa. Karena ketika saya kecil dulu, waktu memainkan wayang, gamelannya pakai mulut sendiri. Atau dibantu teman-teman saya.

Setelah selesai pertunjukan, saya sengaja bertemu dengan para peraga, baik dalang, sinden, maupun yang memainkan gamelan. Dalang wayang cangkem diperankan Suparlan yang sehari-hari bakul bakso. Kemudian, sindennya ibu rumah tangga yang buruh tani. Pun yang bertindak sebagai pengganti gamelan juga buruh tani.

Baca Juga :  Pondok Lansia Mulia

Wayang cangkem mulai dipentaskan di Desa Sukowidi pada 2019, sebelum pandemi. Awalnya pertunjukan dilakukan hanya iseng untuk mengisi waktu. Suatu ketika ada yang mengundang pentas di desa, dalam rangka peringatan tujuh hari meninggalnya warga. Tentu ceritanya disesuaikan dengan acaranya.

Pentas pertama tanpa bayaran alias gratis. Setelah pentas pertama, beberapa warga desa akhirnya mengundang. Masih gratis juga. Pada pentas yang keempat, baru kemudian dibayar. Itu pun hanya Rp 50 ribu. Hanya cukup untuk beli rokok dan kemudian dibagi.

Semakin lama, semakin banyak yang tertarik. Bahkan, pernah ada yang nanggap pentas sampai di sebuah desa di Caruban. Karena alatnya sederhana, semua peralatan cukup dibawa dengan sepeda motor. Kemudian saya tanya, berapa tarif sekarang kalau sekali pentas. Jawabannya khas warga desa yang masih lekat dengan gotong royong. ‘’Walah, Pak, mboten natos masang tarif. Monggo sakersa angsalipun maringi ingkang nanggap.”

Setelah saya desak, akhirnya menyampaikan umumnya memberi Rp 1 juta. Kalau agak jauh, Rp 1,5 juta. Pentasnya juga bisa sampai pagi layaknya wayang kulit. Waktu pentas, yang ngelawak tidak hanya dalang, pemeran gamelan juga bisa dengan sengaja membuat lelucon. Salah satunya dengan membuat mblero nadanya. Jadinya saling hujat, yang menimbulkan kelucuan. Tentu kelucuan khas masyarakat biasa.

Ketika saya tanya, apa kira-kira yang bisa dibantu. Mereka meminta wayangnya dibuat bagus. Saya justru bilang, wayangnya biar tetap dari karton saja. Jangan diganti wayang sungguhan dari kulit. Agar keunikannya tetap terjaga. Juga kalau perlu, waktu Perang Baratayuda, kalau kepala harus lepas kena anak panah, disobek tidak apa-apa. Demikian juga ketika harus disobek untuk tuntutan sebuah cerita. Tentu akan lebih dramatis.

Yang diganti cukup kotak wayang dengan kepyek-nya. Agar suara kethok dan kepyek terdengar bagus. Belajar dari pertunjukan Wayang Kampung Sebelah dari Surakarta, yang kemudian mendapat sambutan bagus dari masyarakat. Alasannya biaya lebih ringan, sederhana, ceritanya juga sehari-hari, lucu dan fleksibel.

Kesederhanaan, sangat murah, unik dan praktis. Itulah keunggulan wayang cangkem. Mengisi ruang bagi masyarakat yang ingin nanggap wayang dengan sangat murah. Sebab, mementaskan wayang kulit butuh biaya mahal. Itu hanya mimpi bagi masyarakat umum. Dan, menurut hemat saya, wayang cangkem bisa menjadi alternatif mengenalkan kepada anak-anak kita tentang wayang. Saat ini, pementasan wayang sudah semakin jarang di masyarakat. Penasaran dengan wayang cangkem, silakan nanggap. (*/naz/c1)

Most Read

Artikel Terbaru

/