alexametrics
31.8 C
Madiun
Tuesday, August 16, 2022

Afirmasi Produk Lokal

ADA pertemuan penting pada akhir pekan kemarin. Seluruh kepala daerah tingkat dua dengan wilayah berbentuk kota bertemu. Daerah tingkat dua memang memiliki asosiasi tersendiri. Untuk wilayah perkotaan ada Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia atau Apeksi. Sedangkan untuk wilayah kabupaten ada Apkasi. Pertemuan kali ini spesial karena sekaligus peringatan HUT ke-22 Apeksi. Tuan rumahnya Kota Bandar Lampung. Rangkaian peringatan dimulai Jumat (27/5). Dibuka oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Bapak Tjahjo Kumolo.

Kegiatan tidak sekadar silaturahmi. Ada banyak hal yang mengemuka. Pertemuan antar-wali kota itu memang selalu menjadi ajang sharing solusi permasalahan perkotaan. Kita berbagi masalah dan bermusyawarah mencari solusinya. Selain itu, tentu juga membahas isu-isu nasional terkini. Sebelum pertemuan itu, para pemimpin daerah sejatinya sudah bertemu secara daring. Ada arahan Bapak Presiden dengan diikuti seluruh kepala daerah. Topiknya kala itu terkait afirmasi bangga buatan Indonesia. Saya sepakat dengan arahan Bapak Presiden. Bagaimanapun, kita harus bangga dengan produk kita sendiri. Kita harus kedepankan produk lokal. Topik itu juga yang mengemuka saat Apeksi.

Seperti yang disampaikan Ketua Apeksi sekaligus Wali Kota Bogor Bapak Bima Arya. Beliau mengajak para wali kota untuk semakin mengedepankan penggunaan produk lokal. Hal itu bisa dimulai dari lingkup pemerintah daerah. Beliau mencontohkan dari penggunaan seragam ASN. Abdi negara memiliki banyak seragam dalam sepekan bekerja. Bila pengadaannya melibatkan pengusaha lokal masing-masing daerah, sudah berapa persen ekonomi yang tumbuh. Itu baru satu daerah. Di tanah air ini lebih dari empat juta ASN. Jika semua diberdayakan, ASN akan menjadi garda terdepan dalam pemanfaatan produk lokal.

Saya sepakat dan bahkan kita sudah memulainya. Intervensi berbasis lokal yang disampaikan Bapak Presiden sudah kita lakukan sejak awal penanganan Covid-19 lalu. Kita tahu, pandemi memukul segala sektor, terlebih ekonomi. ASN cukup diuntungkan karena tetap menerima hak seperti biasa. Karenanya, ASN di Kota Madiun kita libatkan untuk membantu ekonomi yang tengah lesu. ASN kita wajibkan untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari di UMKM dan PKL sekitar tempat tinggal dan kantor. Setiap pembelian wajib dilaporkan melalui aplikasi proUMKM. Kebijakan itu masih berjalan sampai saat ini. Total belanja ASN sudah mencapai belasan miliar. Ada kalau Rp 16 miliar.

Baca Juga :  Bazar Murah Ramadan

Penguatan produk lokal dalam berbagai kegiatan ini juga merambah ke pengadaan barang dan jasa. Sering saya tekankan dalam kegiatan untuk harus ada produk lokal yang dilibatkan. Paling tidak makanan dan minuman (mamin)-nya. Mamin yang disediakan dalam kegiatan tidak perlu mendatangkan dari jauh-jauh. Cukup dari kelurahan setempat. Setiap kelurahan pastinya punya UMKM. Kita juga sudah memberikan tempat untuk menampung mereka. Setiap kelurahan punya lapak UMKM. Produknya luar biasa dan beragam. Saya rasa tidak akan bisa habis dalam sebulan biarpun digilir bergantian setiap hari.

Pengadaan barang dan jasa juga seperti itu. Harus mengedepankan produk lokal. Apalagi, kita sudah punya e-katalog lokal. Seperti yang disampaikan Bapak Presiden. Dari ratusan pemda, hanya 43 di antaranya yang sudah memiliki katalog lokal. Kota Madiun, salah satunya. Ini harus semakin kita dorong agar semakin besar. Agar produknya semakin beragam. Produk-produk lokal kita tampung agar bisa ikut lelang. Persyaratannya juga mudah. Bisa langsung ke bagian Administrasi Pembangunan. Sudah banyak yang masuk. Silakan itu dimanfaatkan. Kita dorong ekonomi kita dari produk-produk lokal ini.

Penguatan produk lokal bukan hanya urusan memajukan UMKM. Tetapi multiplier effect-nya luar biasa. Kalau produk-produk ini laku keras, produksinya pasti bertambah. Untuk mengejarnya butuh penambahan tenaga kerja. Artinya, mengurangi pengangguran. Itu baru satu jenis usaha. Semakin banyak semakin baik. Semakin banyak pengangguran yang terserap dunia kerja. Masyarakat berpenghasilan tentu menekan kemiskinan. Tak heran, presiden menekankan bangga produk buatan sendiri. Agar perekonomian semakin meningkat dan pengangguran semakin terkurangi. (Penulis adalah Wali Kota Madiun Maidi)

ADA pertemuan penting pada akhir pekan kemarin. Seluruh kepala daerah tingkat dua dengan wilayah berbentuk kota bertemu. Daerah tingkat dua memang memiliki asosiasi tersendiri. Untuk wilayah perkotaan ada Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia atau Apeksi. Sedangkan untuk wilayah kabupaten ada Apkasi. Pertemuan kali ini spesial karena sekaligus peringatan HUT ke-22 Apeksi. Tuan rumahnya Kota Bandar Lampung. Rangkaian peringatan dimulai Jumat (27/5). Dibuka oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Bapak Tjahjo Kumolo.

Kegiatan tidak sekadar silaturahmi. Ada banyak hal yang mengemuka. Pertemuan antar-wali kota itu memang selalu menjadi ajang sharing solusi permasalahan perkotaan. Kita berbagi masalah dan bermusyawarah mencari solusinya. Selain itu, tentu juga membahas isu-isu nasional terkini. Sebelum pertemuan itu, para pemimpin daerah sejatinya sudah bertemu secara daring. Ada arahan Bapak Presiden dengan diikuti seluruh kepala daerah. Topiknya kala itu terkait afirmasi bangga buatan Indonesia. Saya sepakat dengan arahan Bapak Presiden. Bagaimanapun, kita harus bangga dengan produk kita sendiri. Kita harus kedepankan produk lokal. Topik itu juga yang mengemuka saat Apeksi.

Seperti yang disampaikan Ketua Apeksi sekaligus Wali Kota Bogor Bapak Bima Arya. Beliau mengajak para wali kota untuk semakin mengedepankan penggunaan produk lokal. Hal itu bisa dimulai dari lingkup pemerintah daerah. Beliau mencontohkan dari penggunaan seragam ASN. Abdi negara memiliki banyak seragam dalam sepekan bekerja. Bila pengadaannya melibatkan pengusaha lokal masing-masing daerah, sudah berapa persen ekonomi yang tumbuh. Itu baru satu daerah. Di tanah air ini lebih dari empat juta ASN. Jika semua diberdayakan, ASN akan menjadi garda terdepan dalam pemanfaatan produk lokal.

Saya sepakat dan bahkan kita sudah memulainya. Intervensi berbasis lokal yang disampaikan Bapak Presiden sudah kita lakukan sejak awal penanganan Covid-19 lalu. Kita tahu, pandemi memukul segala sektor, terlebih ekonomi. ASN cukup diuntungkan karena tetap menerima hak seperti biasa. Karenanya, ASN di Kota Madiun kita libatkan untuk membantu ekonomi yang tengah lesu. ASN kita wajibkan untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari di UMKM dan PKL sekitar tempat tinggal dan kantor. Setiap pembelian wajib dilaporkan melalui aplikasi proUMKM. Kebijakan itu masih berjalan sampai saat ini. Total belanja ASN sudah mencapai belasan miliar. Ada kalau Rp 16 miliar.

Baca Juga :  Pahlawan Bisnis Center

Penguatan produk lokal dalam berbagai kegiatan ini juga merambah ke pengadaan barang dan jasa. Sering saya tekankan dalam kegiatan untuk harus ada produk lokal yang dilibatkan. Paling tidak makanan dan minuman (mamin)-nya. Mamin yang disediakan dalam kegiatan tidak perlu mendatangkan dari jauh-jauh. Cukup dari kelurahan setempat. Setiap kelurahan pastinya punya UMKM. Kita juga sudah memberikan tempat untuk menampung mereka. Setiap kelurahan punya lapak UMKM. Produknya luar biasa dan beragam. Saya rasa tidak akan bisa habis dalam sebulan biarpun digilir bergantian setiap hari.

Pengadaan barang dan jasa juga seperti itu. Harus mengedepankan produk lokal. Apalagi, kita sudah punya e-katalog lokal. Seperti yang disampaikan Bapak Presiden. Dari ratusan pemda, hanya 43 di antaranya yang sudah memiliki katalog lokal. Kota Madiun, salah satunya. Ini harus semakin kita dorong agar semakin besar. Agar produknya semakin beragam. Produk-produk lokal kita tampung agar bisa ikut lelang. Persyaratannya juga mudah. Bisa langsung ke bagian Administrasi Pembangunan. Sudah banyak yang masuk. Silakan itu dimanfaatkan. Kita dorong ekonomi kita dari produk-produk lokal ini.

Penguatan produk lokal bukan hanya urusan memajukan UMKM. Tetapi multiplier effect-nya luar biasa. Kalau produk-produk ini laku keras, produksinya pasti bertambah. Untuk mengejarnya butuh penambahan tenaga kerja. Artinya, mengurangi pengangguran. Itu baru satu jenis usaha. Semakin banyak semakin baik. Semakin banyak pengangguran yang terserap dunia kerja. Masyarakat berpenghasilan tentu menekan kemiskinan. Tak heran, presiden menekankan bangga produk buatan sendiri. Agar perekonomian semakin meningkat dan pengangguran semakin terkurangi. (Penulis adalah Wali Kota Madiun Maidi)

Most Read

Artikel Terbaru

/