27.2 C
Madiun
Friday, December 9, 2022

Festival Gubernur Soerjo

KABUPATEN Magetan beruntung memiliki salah satu putra terbaik bangsa, RMTA Soerjo. Dia lahir di Magetan, 9 Juli 1898. Pahlawan nasional yang juga pernah menjabat Bupati Magetan pada 1938-1943. Seorang terpelajar dari sekolah pamong praja, atau lebih dikenal dengan Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA).

Tentu tak semua orang bisa mengenyam pendidikan kepamongprajaan pada masa itu. Hanya putra para bangsawan yang diberi kesempatan. Setelah lulus, Soerjo meniti karier dari bawah sebagai kontroler di Ngawi, kemudian Wedana Pacitan.

Di masa pemerintahan Jepang, dia diangkat sebagai Residen Bojonegoro 1943-1945. Tentu pengangkatan sebagai residen melalui berbagai pertimbangan matang. Yang pasti, dianggap punya kapasitas memadai. Mengingat sejak era Mataram, bupati belum punya pengaruh besar. Sehingga kapasitas pribadi menjadi salah satu pertimbangan.

Ketika Indonesia berdaulat, RMTA Soerjo diangkat sebagai Gubernur Jawa Timur. Dalam situasi masa transisi dan usaha kembalinya penjajah Belanda dengan membonceng Inggris, tentu tugasnya sangat berat.

Jiwa kepahlawan dan nasionalismenya betul-betul diuji. Sejarah mencatat, di tengah tekanan Inggris yang begitu hebat, Gubernur Soerjo menolak ultimatum untuk menyerah sesuai kemauan Inggris.

Ketika pemerintahan Republik Indonesia berpindah ke Jogjakarta, pemerintah melakukan mutasi. Termasuk gubernur Jawa Timur.

Semula, RP Soeroso diangkat sebagai Gubernur Jawa Timur menggantikan RMTA Soerjo yang dilantik sebagai wakil ketua di Dewan Pertimbangan Agung Jogjakarta. Pengangkatan RP Soeroso mendapat penolakan. Lantas diangkatlah Dr Moerdjani sebagai Gubernur Jawa Timur.

Sebagai pejabat tinggi negara, RMTA Soerjo harus memberi pertimbangan terhadap setiap masalah kepada pemerintah di Jogjakarta. Situasi keamanan Jawa Timur saat itu menjadi perhatian RMTA Soerjo untuk disampaikan kepada pemerintah. Akibat peristiwa Madiun, situasi menjadi tidak stabil. Pertumpahan darah di mana-mana.

Pertumpahan darah itu bahkan membawa korban adik RMTA Soerjo. Adiknya dimakamkan di Madiun. Pada peringatan 40 hari, dia terpanggil untuk hadir berziarah. Mengingat kondisi situasi Madiun yang tidak aman, dia dicegah Bung Hatta untuk tidak berangkat ke Madiun.

Setelah upacara peringatan 10 November 1948, RMTA Soerjo memaksa pergi ke Madiun. Di tengah jalan, tepatnya di wilayah hutan jati di Ngawi, dia bertemu dengan rombongan Amir Sjariffudin yang akan menyingkir ke Purwodadi karena terdesak pasukan Siliwangi. Di situlah beliau dibunuh dengan keji.

Baca Juga :  Pemangkasan Eselon

Kesaksian itu disampaikan kamituwa Desa Plang Lor (lihat buku Lubang-lubang Pembantaian yang diterbitkan Jawa Pos): Waktu itu saya merasa kaget melihat beribu-ribu orang, sampai jalan besar jurusan Ngawi-Solo menjadi penuh sesak. Bukan hanya yang berpakaian tentara, ada pula yang berpakaian hitam-hitam dan ada pula ibu-ibu menggendong anaknya.

Belum lagi hilang kekagetan Kromo Astro dan orang desanya, mendadak dari arah barat meluncur sebuah mobil sedan berwarna hitam. Menurut Kromo Astro, mobil itu kemudian dihentikan oleh rombongan manusia tersebut. Dari mobil keluar tiga orang, yang langsung ditodong senapan.

Ketiga orang tersebut kemudian dilucuti dan diseret beramai-ramai sambil diteriaki, ‘’wah iki penggedhe sing gaweane mangan enak turu kepenak.”

Waktu itu penunggang kudha jragem yang dipanggil pak Amir oleh yang lain, membatalkan pembunuhan itu. Dia memerintahkan agar ketiganya dibunuh saja di dalam hutan yang lebih jauh. Dan ketiga orang yang kemudian dibunuh dalam hutan adalah RMTA Soerjo, Kombes M Doerjat dan Komisaris Polisi Soeroko.

Dalam rangka haul RMTA Soerjo yang jatuh pada 11 November 2022, Pemerintah Provinsi, DPRD Provinsi dan Pemkab Magetan melaksanakan Festival Gubernur Soerjo. Dengan tujuan mengenang nilai perjuangan beliau untuk tegaknya republik ini, sekaligus mendoakan beliau.

Rangkaian acara dikemas sedemikian rupa agar tujuan mulia ini tercapai. Dimulai pada 11 November 2022 dengan ziarah mendoakan beliau. Semoga mendapat tempat paling mulia disisi-Nya. Malam harinya, didepan makam, dilaksanakan ceramah kebangsaan oleh Gus Muwafiq.

Festival diisi berbagai kegiatan. Seperti lomba qasidah hadrah, lomba melukis sketsa Gubernur Soerjo, fashion show anak, lomba mewarnai, lomba vocal. Juga malam kesenian, pasar rakyat dan masih banyak lagi. Tentu festival ini sangat besar nilainya, tidak hanya bagi masyarakat Magetan atau Madiun Raya, tapi bangsa ini.

Begitu banyak tokoh telah mengorbankan jiwa dan raganya untuk kemerdekaan bangsa. Kewajiban kita mengisi kemerdekaan dengan nilai kebaikan dan keluhuran budi. Seperti yang dicontohkan oleh RMTA Soerjo. Magetan beruntung memiliki tokoh panutan ini. Yang harus selalu kita teladani. Festival ini sebagai salah satu upaya pengingat kembali. (*/naz)

KABUPATEN Magetan beruntung memiliki salah satu putra terbaik bangsa, RMTA Soerjo. Dia lahir di Magetan, 9 Juli 1898. Pahlawan nasional yang juga pernah menjabat Bupati Magetan pada 1938-1943. Seorang terpelajar dari sekolah pamong praja, atau lebih dikenal dengan Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA).

Tentu tak semua orang bisa mengenyam pendidikan kepamongprajaan pada masa itu. Hanya putra para bangsawan yang diberi kesempatan. Setelah lulus, Soerjo meniti karier dari bawah sebagai kontroler di Ngawi, kemudian Wedana Pacitan.

Di masa pemerintahan Jepang, dia diangkat sebagai Residen Bojonegoro 1943-1945. Tentu pengangkatan sebagai residen melalui berbagai pertimbangan matang. Yang pasti, dianggap punya kapasitas memadai. Mengingat sejak era Mataram, bupati belum punya pengaruh besar. Sehingga kapasitas pribadi menjadi salah satu pertimbangan.

Ketika Indonesia berdaulat, RMTA Soerjo diangkat sebagai Gubernur Jawa Timur. Dalam situasi masa transisi dan usaha kembalinya penjajah Belanda dengan membonceng Inggris, tentu tugasnya sangat berat.

Jiwa kepahlawan dan nasionalismenya betul-betul diuji. Sejarah mencatat, di tengah tekanan Inggris yang begitu hebat, Gubernur Soerjo menolak ultimatum untuk menyerah sesuai kemauan Inggris.

Ketika pemerintahan Republik Indonesia berpindah ke Jogjakarta, pemerintah melakukan mutasi. Termasuk gubernur Jawa Timur.

Semula, RP Soeroso diangkat sebagai Gubernur Jawa Timur menggantikan RMTA Soerjo yang dilantik sebagai wakil ketua di Dewan Pertimbangan Agung Jogjakarta. Pengangkatan RP Soeroso mendapat penolakan. Lantas diangkatlah Dr Moerdjani sebagai Gubernur Jawa Timur.

Sebagai pejabat tinggi negara, RMTA Soerjo harus memberi pertimbangan terhadap setiap masalah kepada pemerintah di Jogjakarta. Situasi keamanan Jawa Timur saat itu menjadi perhatian RMTA Soerjo untuk disampaikan kepada pemerintah. Akibat peristiwa Madiun, situasi menjadi tidak stabil. Pertumpahan darah di mana-mana.

Pertumpahan darah itu bahkan membawa korban adik RMTA Soerjo. Adiknya dimakamkan di Madiun. Pada peringatan 40 hari, dia terpanggil untuk hadir berziarah. Mengingat kondisi situasi Madiun yang tidak aman, dia dicegah Bung Hatta untuk tidak berangkat ke Madiun.

Setelah upacara peringatan 10 November 1948, RMTA Soerjo memaksa pergi ke Madiun. Di tengah jalan, tepatnya di wilayah hutan jati di Ngawi, dia bertemu dengan rombongan Amir Sjariffudin yang akan menyingkir ke Purwodadi karena terdesak pasukan Siliwangi. Di situlah beliau dibunuh dengan keji.

Baca Juga :  PPPK dan Nasib Honorer

Kesaksian itu disampaikan kamituwa Desa Plang Lor (lihat buku Lubang-lubang Pembantaian yang diterbitkan Jawa Pos): Waktu itu saya merasa kaget melihat beribu-ribu orang, sampai jalan besar jurusan Ngawi-Solo menjadi penuh sesak. Bukan hanya yang berpakaian tentara, ada pula yang berpakaian hitam-hitam dan ada pula ibu-ibu menggendong anaknya.

Belum lagi hilang kekagetan Kromo Astro dan orang desanya, mendadak dari arah barat meluncur sebuah mobil sedan berwarna hitam. Menurut Kromo Astro, mobil itu kemudian dihentikan oleh rombongan manusia tersebut. Dari mobil keluar tiga orang, yang langsung ditodong senapan.

Ketiga orang tersebut kemudian dilucuti dan diseret beramai-ramai sambil diteriaki, ‘’wah iki penggedhe sing gaweane mangan enak turu kepenak.”

Waktu itu penunggang kudha jragem yang dipanggil pak Amir oleh yang lain, membatalkan pembunuhan itu. Dia memerintahkan agar ketiganya dibunuh saja di dalam hutan yang lebih jauh. Dan ketiga orang yang kemudian dibunuh dalam hutan adalah RMTA Soerjo, Kombes M Doerjat dan Komisaris Polisi Soeroko.

Dalam rangka haul RMTA Soerjo yang jatuh pada 11 November 2022, Pemerintah Provinsi, DPRD Provinsi dan Pemkab Magetan melaksanakan Festival Gubernur Soerjo. Dengan tujuan mengenang nilai perjuangan beliau untuk tegaknya republik ini, sekaligus mendoakan beliau.

Rangkaian acara dikemas sedemikian rupa agar tujuan mulia ini tercapai. Dimulai pada 11 November 2022 dengan ziarah mendoakan beliau. Semoga mendapat tempat paling mulia disisi-Nya. Malam harinya, didepan makam, dilaksanakan ceramah kebangsaan oleh Gus Muwafiq.

Festival diisi berbagai kegiatan. Seperti lomba qasidah hadrah, lomba melukis sketsa Gubernur Soerjo, fashion show anak, lomba mewarnai, lomba vocal. Juga malam kesenian, pasar rakyat dan masih banyak lagi. Tentu festival ini sangat besar nilainya, tidak hanya bagi masyarakat Magetan atau Madiun Raya, tapi bangsa ini.

Begitu banyak tokoh telah mengorbankan jiwa dan raganya untuk kemerdekaan bangsa. Kewajiban kita mengisi kemerdekaan dengan nilai kebaikan dan keluhuran budi. Seperti yang dicontohkan oleh RMTA Soerjo. Magetan beruntung memiliki tokoh panutan ini. Yang harus selalu kita teladani. Festival ini sebagai salah satu upaya pengingat kembali. (*/naz)

Most Read

Artikel Terbaru

/