alexametrics
30.6 C
Madiun
Thursday, August 18, 2022

Pengorbanan

MENURUT catatan Jawa Pos, dalam pemilu 2019 ada 326 petugas pemilu yang meninggal dunia. Adapun rinciannya 253 dari jajaran KPU, 55 dari unsur Bawaslu dan 18 dari personel Polri. Adapun meninggalnya para petugas tersebut kebanyakan karena kelelahan. Pemilu yang demikian rumit dan menurut para pengamat pemilu paling rumit di dunia tersebut menyebabkan para pelaksana di lapangan menjadi sangat kelelahan. Mungkin juga pemilu 2019 mencatat rekor sebuah pemilu yang menyebabkan korban tewas terbanyak karena kelelahan.

Tentu, kalau kita tidak segera mengevaluasi pemilu ini, akan menciptakan korban tewas peristiwa yang selalu berulang setiap lima tahun. Karena ada beberapa peristiwa berulang yang menyebabkan korban tewas demikian banyak. Di antaranya adalah peristiwa, perayaan hari raya Idul Fitri, korban gempa bumi dan tsunami, demam berdarah dan lain sebagainya.

Untuk korban dalam perayaan Idul Fitri 2018 saja, menurut humas Polri dengan menghitung H-7 dan H+2 selama Idul Fitri ada korban tewas sebanyak 333 orang. Korban sebanyak itu disebabkan sebanyak 1.438 kejadian kecelakaan lalu-lintas yang melibatkan 2.950 kendaraan. Tentu yang paling banyak mengalami kecelakaan adalah sepeda motor walaupun setiap tahun mengalami penurunan.

Korban dalam rangka perayaan Idul Fitri terjadi setiap tahun. Dan jumlahnya setiap tahun demikian banyak. Juga penyebab tewasnya yang mudik tersebut paling banyak sepeda motor. Tentu dalam setiap perayaan Idhul Fitri perhatian pemerintah sudah demikian besar. Namun mengapa korban jiwa masih demikian banyak.

Demikian juga peristiwa lainnya yang berulang setiap tahun, yaitu demam berdarah. Penyakit ini pasti berulang setiap tahun. Penyebabnya diketahui nyamuk demam berdarah. Kejadian selalu bisa diprediksi yaitu pada msim penghujan sekitar bulan Nopember sampai dengan Januari. Tetapi mengapa korban selalu banyak terjadi. Dalam catatan Kemenkes mulai tanggal 1 Januari 2019 hingga 29 Januari 2019 saja ada 13.683 kasus dengan korban meninggal sebanyak 132 orang. Bayangkan hanya dalam jangka waktu sebulan saja demikian banyak korban yang meninggal.

Kejadian berulang seperti demam berdarah ini demikian banyak memakan korban. Mengapa harus terjadi. Apakah tidak ada upaya untuk menanggulangi. Menurut hemat kami sudah banyak usaha pemerintah yang dilakukan sebenarnya. Akan tetapi tidak mungkin pemerintah sendirian tanpa peran serta masyarakat. Karena sumber nyamuk adalah air menggenang yang seringkali hidup di lingkungan yang tidak terdeteksi. Akhirnya pendekatannya lebih banyak pada kuratif atau pengobatan. Mulai berkurangnya pendekatan preventif dan promotif.

Demikian juga korban gempa dan tsunami. Indonesia adalah mal-nya bencana. Bencana apa saja ada di Indonesia. Ada gempa, tsunami, lutusan gunung berapi, banjir, tanah longsor, kebakaran hutan. Mencari bentuk bencana di Indonesia itu lengkap. Oleh sebab itu tidaklah salah kalau Indonesia kemudian disebut mall-nya bencana. Sebenarnya yang namanya bencana seperti gempa dan tsunami pasti akan terjadi. Dan kejadian tersebut tidak dapat diprediksi kapan akan terjadi. Karena pasti akan terjadi, metinya korban bisa diminimalisir dengan cara selalu waspada. Seperti di negara Jepang. Demikian minimnya korban gempa dan tsunami. Yang menjadi pertanyaan kemudian, mengapa gempa dan tsunami di Indonesia harus menelan begitu banyak korban.

Seperti korban gempa Palu Donggala menurut Laporan BNPB, korban tewas yang diketemukan di Palu saja 1.601 orang. Sementera di Donggala 171 orang dan di Sigi 222 orang. Sedangkan korban hilang mencapai 671 orang. Baru saja mengalami gempa dan tsunami di Palu Donggala Indonesia dikejutkan lagi tsunami di Selat Sunda. Tsunami di Selat Sunda baru-baru ini juga banyak menelan korban. Yang tewas saja tidak kurang dari 430 orang. Sedang korban yang hilang sebanyak 159 orang.

Baca Juga :  Defisit Anggaran Tembus Rp 277,7 M, Wali Kota Madiun Usul Ditutup dari Silpa

Kembali kepada korban tewas pemilu 2019. Gawe besar seperti pemilu tentu sangat menguras tenaga. Baik tenaga dan dana dari unsur pemerintah, masyarakat dan juga partai politik. Bayangkan anggaran Pemilu 2019 sebesar 24,7 triliun. Belum support dari pemda masing-masing daerah untuk ikut mensukseskan pemilu. Juga peran serta masyarakat yang juga tidak kecil.

Kemudian berapa tenaga yang diperlukan untuk penyelenggaran pemilu. Dari petugas yang di TPS saja minimal ada 7 orang dan 2 orang keamanan. Belum kemudian saksi dari partai politik atau DPD. Kalau pada waktu pemilu 2019 ada 810.328 TPS. Berapa juta orang yang terlibat dalam gawe besar tersebut untuk petugas di TPS. Belum dihitung dari unsur penyelenggara pemilu seperti KPU, Bawaslu dan sebagainya.

Gawe akbar yan melibatkan begitu banyak orang tersebut, kita harus jujur tidak terbayangkan sebelumnya akan memakan korban yang demikian banyak. Kalau pemilu 2014 korban tewas bisa dihitung dengan jari. Namun yang sungguh mengejutkan korban pemilu 2019 demikian banyak.

Kalau kita boleh jujur, kita tidak membayangkan sebelumnya bahwa akan terjadi begitu banyak korban. Anggapan kita waktu itu, bahwa pemilu 2019 rumit ya. Demikian juga akan memakan waktu menghitungnya, ya. Namun kita tidak pernah membayangkan kalau akan memakan korban tewas demikian banyak.

Malahan surat edaran dari Dirjen Pelayanan Kesehatan Kemenkes baru beredar tertanggal 23 April 2019. Setelah adanya korban tewas. Isi edaran tersebut agar berkoordinasi dengan KPU setempat untuk membantu KPPS dan PPK yang memerlukan pelayanan kesehatan. Sedang pemilu dilaksanakan tanggal 17 April 2019.

Untungnya kami sendiri, begitu mendengar adanya informasi yang meninggal karena kelelahan, segera menerjunkan petugas kesehatan (puskesmas) untuk membantu KPPS dan PPK. Namun sayangnya korban begitu banyak akhirnya kalau dihitung se-Indonesia.

Gawe besar seperti pemilu akan terus berulang. Tentu kita harus belajar banyak kepada peristiwa yang berulang di Indonesia yang selalu membawa korban tewas. Seperti setiap tahun pemudik yang akan merayakan Idul Fitri, penyakit demam berdarah, gempa dan tsunami dan mungkin juga peristiwa lainnya. Apakah sekarang mau ditambah peristiwa pemilu harus menjadi peristiwa berulang yang selalu akan memakan korban tewas.

Yang pasti, jawaban yang bijaksana pasti tidak. Dan akan lebih bijaksana bila kita menghargai pengorbanan nyawa dari petugas pemilu tersebut dengan cara menempatkan pemilu sebagai peristiwa yang berulang, namun mendewasakan. Kalau ada yang tidak puas terhadap hasil, sudah ada mekanisme yang telah disepakati mekanismenya. Kalau boleh membayangkan, bagaimana jadinya sukma dari korban tewas tersebut melihat pengorbanannya tidak mendapat tempat yang semestinya. Semoga kita menjadi lebih dewasa karenanya. (*/ota)

MENURUT catatan Jawa Pos, dalam pemilu 2019 ada 326 petugas pemilu yang meninggal dunia. Adapun rinciannya 253 dari jajaran KPU, 55 dari unsur Bawaslu dan 18 dari personel Polri. Adapun meninggalnya para petugas tersebut kebanyakan karena kelelahan. Pemilu yang demikian rumit dan menurut para pengamat pemilu paling rumit di dunia tersebut menyebabkan para pelaksana di lapangan menjadi sangat kelelahan. Mungkin juga pemilu 2019 mencatat rekor sebuah pemilu yang menyebabkan korban tewas terbanyak karena kelelahan.

Tentu, kalau kita tidak segera mengevaluasi pemilu ini, akan menciptakan korban tewas peristiwa yang selalu berulang setiap lima tahun. Karena ada beberapa peristiwa berulang yang menyebabkan korban tewas demikian banyak. Di antaranya adalah peristiwa, perayaan hari raya Idul Fitri, korban gempa bumi dan tsunami, demam berdarah dan lain sebagainya.

Untuk korban dalam perayaan Idul Fitri 2018 saja, menurut humas Polri dengan menghitung H-7 dan H+2 selama Idul Fitri ada korban tewas sebanyak 333 orang. Korban sebanyak itu disebabkan sebanyak 1.438 kejadian kecelakaan lalu-lintas yang melibatkan 2.950 kendaraan. Tentu yang paling banyak mengalami kecelakaan adalah sepeda motor walaupun setiap tahun mengalami penurunan.

Korban dalam rangka perayaan Idul Fitri terjadi setiap tahun. Dan jumlahnya setiap tahun demikian banyak. Juga penyebab tewasnya yang mudik tersebut paling banyak sepeda motor. Tentu dalam setiap perayaan Idhul Fitri perhatian pemerintah sudah demikian besar. Namun mengapa korban jiwa masih demikian banyak.

Demikian juga peristiwa lainnya yang berulang setiap tahun, yaitu demam berdarah. Penyakit ini pasti berulang setiap tahun. Penyebabnya diketahui nyamuk demam berdarah. Kejadian selalu bisa diprediksi yaitu pada msim penghujan sekitar bulan Nopember sampai dengan Januari. Tetapi mengapa korban selalu banyak terjadi. Dalam catatan Kemenkes mulai tanggal 1 Januari 2019 hingga 29 Januari 2019 saja ada 13.683 kasus dengan korban meninggal sebanyak 132 orang. Bayangkan hanya dalam jangka waktu sebulan saja demikian banyak korban yang meninggal.

Kejadian berulang seperti demam berdarah ini demikian banyak memakan korban. Mengapa harus terjadi. Apakah tidak ada upaya untuk menanggulangi. Menurut hemat kami sudah banyak usaha pemerintah yang dilakukan sebenarnya. Akan tetapi tidak mungkin pemerintah sendirian tanpa peran serta masyarakat. Karena sumber nyamuk adalah air menggenang yang seringkali hidup di lingkungan yang tidak terdeteksi. Akhirnya pendekatannya lebih banyak pada kuratif atau pengobatan. Mulai berkurangnya pendekatan preventif dan promotif.

Demikian juga korban gempa dan tsunami. Indonesia adalah mal-nya bencana. Bencana apa saja ada di Indonesia. Ada gempa, tsunami, lutusan gunung berapi, banjir, tanah longsor, kebakaran hutan. Mencari bentuk bencana di Indonesia itu lengkap. Oleh sebab itu tidaklah salah kalau Indonesia kemudian disebut mall-nya bencana. Sebenarnya yang namanya bencana seperti gempa dan tsunami pasti akan terjadi. Dan kejadian tersebut tidak dapat diprediksi kapan akan terjadi. Karena pasti akan terjadi, metinya korban bisa diminimalisir dengan cara selalu waspada. Seperti di negara Jepang. Demikian minimnya korban gempa dan tsunami. Yang menjadi pertanyaan kemudian, mengapa gempa dan tsunami di Indonesia harus menelan begitu banyak korban.

Seperti korban gempa Palu Donggala menurut Laporan BNPB, korban tewas yang diketemukan di Palu saja 1.601 orang. Sementera di Donggala 171 orang dan di Sigi 222 orang. Sedangkan korban hilang mencapai 671 orang. Baru saja mengalami gempa dan tsunami di Palu Donggala Indonesia dikejutkan lagi tsunami di Selat Sunda. Tsunami di Selat Sunda baru-baru ini juga banyak menelan korban. Yang tewas saja tidak kurang dari 430 orang. Sedang korban yang hilang sebanyak 159 orang.

Baca Juga :  Radio dan Informasi Bencana

Kembali kepada korban tewas pemilu 2019. Gawe besar seperti pemilu tentu sangat menguras tenaga. Baik tenaga dan dana dari unsur pemerintah, masyarakat dan juga partai politik. Bayangkan anggaran Pemilu 2019 sebesar 24,7 triliun. Belum support dari pemda masing-masing daerah untuk ikut mensukseskan pemilu. Juga peran serta masyarakat yang juga tidak kecil.

Kemudian berapa tenaga yang diperlukan untuk penyelenggaran pemilu. Dari petugas yang di TPS saja minimal ada 7 orang dan 2 orang keamanan. Belum kemudian saksi dari partai politik atau DPD. Kalau pada waktu pemilu 2019 ada 810.328 TPS. Berapa juta orang yang terlibat dalam gawe besar tersebut untuk petugas di TPS. Belum dihitung dari unsur penyelenggara pemilu seperti KPU, Bawaslu dan sebagainya.

Gawe akbar yan melibatkan begitu banyak orang tersebut, kita harus jujur tidak terbayangkan sebelumnya akan memakan korban yang demikian banyak. Kalau pemilu 2014 korban tewas bisa dihitung dengan jari. Namun yang sungguh mengejutkan korban pemilu 2019 demikian banyak.

Kalau kita boleh jujur, kita tidak membayangkan sebelumnya bahwa akan terjadi begitu banyak korban. Anggapan kita waktu itu, bahwa pemilu 2019 rumit ya. Demikian juga akan memakan waktu menghitungnya, ya. Namun kita tidak pernah membayangkan kalau akan memakan korban tewas demikian banyak.

Malahan surat edaran dari Dirjen Pelayanan Kesehatan Kemenkes baru beredar tertanggal 23 April 2019. Setelah adanya korban tewas. Isi edaran tersebut agar berkoordinasi dengan KPU setempat untuk membantu KPPS dan PPK yang memerlukan pelayanan kesehatan. Sedang pemilu dilaksanakan tanggal 17 April 2019.

Untungnya kami sendiri, begitu mendengar adanya informasi yang meninggal karena kelelahan, segera menerjunkan petugas kesehatan (puskesmas) untuk membantu KPPS dan PPK. Namun sayangnya korban begitu banyak akhirnya kalau dihitung se-Indonesia.

Gawe besar seperti pemilu akan terus berulang. Tentu kita harus belajar banyak kepada peristiwa yang berulang di Indonesia yang selalu membawa korban tewas. Seperti setiap tahun pemudik yang akan merayakan Idul Fitri, penyakit demam berdarah, gempa dan tsunami dan mungkin juga peristiwa lainnya. Apakah sekarang mau ditambah peristiwa pemilu harus menjadi peristiwa berulang yang selalu akan memakan korban tewas.

Yang pasti, jawaban yang bijaksana pasti tidak. Dan akan lebih bijaksana bila kita menghargai pengorbanan nyawa dari petugas pemilu tersebut dengan cara menempatkan pemilu sebagai peristiwa yang berulang, namun mendewasakan. Kalau ada yang tidak puas terhadap hasil, sudah ada mekanisme yang telah disepakati mekanismenya. Kalau boleh membayangkan, bagaimana jadinya sukma dari korban tewas tersebut melihat pengorbanannya tidak mendapat tempat yang semestinya. Semoga kita menjadi lebih dewasa karenanya. (*/ota)

Most Read

Artikel Terbaru