alexametrics
29.3 C
Madiun
Wednesday, May 18, 2022

Perpustakaan (Upaya meraih eksistensi)

KEBETULAN seminggu yang lalu saya berkunjung ke perpustakaan nasional di Jakarta. Perpustakaan yang saat ini berdiri megah di Jalan Merdeka Selatan tersebut sungguh membanggakan. Menurut hemat saya gedung tersebut mungkin merupakan gedung yang tertinggi di sekitar Tugu Monas. Karena di sekitar Tugu Monas merupakan wilayah yang memang diperuntukkan sebagai kantor pemerintahan. Malahan menurut informasi, ketika Presiden Jokowi meresmikan gedung ini yang tingginya 27 latai itu, dinyatakan sebagai perpustakaan yang gedungnya tertinggi di dunia.

Sedang kantor dan pelayanan sebelumnya ada di Jalan Salemba. Gedung perpustakaan di Jalan Salemba sebenarnya juga sudah baik. Gedung tersebut dibangun di era Orde Baru. Pada era tersebut gedung perpustakaan di Jalan Salemba juga sudah terhitung sangat baik. Di tengah ada bangunan lama era Belanda dan di sampingnya dibangun gedung pelayanan.

Karena saya termasuk penggemar buku dan juga menulis artikel dan buku, dan sering berkunjung maka saya tahu persis seluk beluknya. Malahan tidak hanya di perpustakaan nasional. Saya juga sering berkunjung di perpustakaan pemda DKI yang terletak di Taman Ismail Marzuki di Cikini. Malahan saya tidak hanya menjadi anggota perpustakaan nasional tapi juga menjadi anggota perpustakaan DKI.

Di gedung perpustakaan nasional yang baru, pengunjung betul-betul dimanjakan akan koleksi dan pelayanannya. Tempatnya yang sangat baik. Dan ditata demikian indah. Mulai dari lobi yang juga menyajikan hal-hal yang menarik pengunjung mulai dengan naskah lama, buku-buku sesuai tema. Kemudian setiap lantai dikhususkan sebagai layanan tertentu. Seperti lantai dua sebagai Ruang Layanan Keanggotaan Perpustakaan dan Ruang Teater. Lantai  empat belas sebagai layanan Koleksi Buku Langka. Dan banyak layanan lainnya.

Tentu, peran perpustakaan nasional tidak perlu diragukan lagi. Unuk saya pribadi, telah banyak membantu saya. Baik dalam penulisan tesis, ketika saya menyelesaikan tesis S2 Ilmu Politik di Unair maupun S3 Administrasi Publik di Unibraw. Ketika menyelesaikan tesis S2 saya, karena judulnya Politik Pers Berbahasa Jawa maka saya harus banyak membaca penerbitan pers berbahasa Jawa terbitan lama-lama. Oleh sebab itu saya harus bergelut dengan naskah lama di perpustakaan nasional.

Demikian pula ketika saya menulis buku, saya harus banyak meminjam koleksi buku milik perpustakaan nasional. Begitu berartinya perpustakaan bagi saya, sampai-sampai saya membeli apartemen di Jakarta salah satu pertimbangannya adalah harus dekat dengan perpustakaan. Oleh sebab itulah kemudian ketika bertugas di Jakarta selama empat belas tahun, saya memutuskan untuk membeli apartemen di dekat perpustakaan nasional Jalan salemba yaitu apartemen Menteng Square. Jarak antara apartemen dengan gedung perpustakaan nasional hanya dipisahkan dengan Kementerian Sosial RI. Jadi kalau mau ke perpustakaan tinggal berjalan kaki saja.

Walaupun gedung dan koleksi perpustakaan nasional demikian megah dan cukup lengkap, akan tetapi ketika saya mengunjungi berbagai negara menjadi lebih kagum. Kehadiran saya di berbagai universitas, dalam rangka melakukan kerjasama maupun monitoring terhadap mahasiswa yang kebetulan mendapat beasiswa khususnya Belanda (sampai beberapa kali karena tugas dinas maupun mengunjungi dua anak saya yang kebetulan dapat beasiswa mengambil master di Belanda), perpustakaan di sana menjadikan saya betul-betul iri sekali. Demikian lengkap koleksi dan perhatian pemerintahnya. Perpustakaan umum, baik milik pemerintah daerah maupun nasional sungguh mendapat perhatian yang begitu besarnya.

Saya pernah mengunjungi Rijks Museum di Amsterdam yang juga memiliki koleksi buku-buku lama. Juga pernah mengunjungi perpustakaan milik pemerintah Amsterdam. Saya lihat, orang-orang Belanda membawa anaknya ke perpustakaan sebagai tempat rekreasi sekaligus mengenalkan bacaan sejak dini. Perpustakaan ditata sedemikian rupa dan sangat nyaman. Sebagai sumber informasi sekaligus tempat rekreasi.  Apalagi tempatnya di tepi sungai besar semacam mungkin pelabuhan. Sambil baca bisa memandang ke luar pemandangan yang demikian indah.

Demikian juga ketika saya mengunjungi berbagai universitas seperti Leiden demikian lengkap koleksinya. Malahan perpustakaan Universitas Leiden yang disokong Pemerintah Belanda telah membuka Leiden University’s Asian Library di Kota Leiden. Begitu besar perhatian pemerintah, sehingga perpustakaan tersebut diresmikan sendiri oleh Ratu Maxima di tahun 2017. Dan perpustakaan ini memuat koleksi literatur negara-negara di Asia. Untuk koleksinya, perpustakaan ini digadang-gadang sebagai perpustakaan terbesar yang memuat koleksi tentang Indonesia. Coba bayangkan apakah kita tidak iri karenanya. Tidak heran kalau kita mau belajar tentang Indonesia, kita harus ke Belanda karena begitu lengkapnya koleksi perpustakaannya tentang Indonesia. Juga demikian besar perhatian pemerintahnya.

Baca Juga :  Diguyur Hujan Deras, Dua Desa Terendam Banjir

Di Indonesia, untuk pemerintah pusat juga sudah demikian besar perhatiannya. Namun khusus untuk pemerintah daerah saya kira rasanya kok belum. Untuk sistem karier saja, pejabat yang ditempatkan di perpustakaan biasanya dianggap dikotak. Malah kalau seorang pejabat dari tempat yang dianggap strategis kemudian dimutasi dan ditempatkan di perpustakaan istilahnya di-“perpus”-kan. Betapa tidak mengenakannya didengar.

Demikian juga kantor dan anggarannya juga biasanya juga kecil sekali. Tidak sebanding dengan bidang tugasnya sebagai lembaga yang harus membawa masyarakat ke jendela dunia. Bukankah buku merupakan “jendela dunia.” Namun mengapa masih banyak pemerintah daerah belum menempatkan perpustakaan pada posisi yang semestinya.

Belum ditambah, biasanya lembaga perpustakaan di daerah digabung dengan arsip. Yang menurut pendekatan organisasi dianggap sebagai satu rumpun. Kalau perpustakaan saja belum mendapat perhatian yang semestinya apalagi dengan arsip. Di Magetan sendiri kalau boleh jujur, tentu nasibnya juga tidak lebih baik. Untuk arsip sendiri belum banyak arsip yang tersimpan. Nampaknya semua arsip diletakkan di organisasi pemerintah daerah sendiri-sendiri.

Saya sendiri terkejut ketika mengunjungi perpustakaan Kabupaten Magetan. Alhamdulillah letaknya memang sudah strategis sekali di sebelah Barat alun-alun Magetan. Bersebelahan dengan Masjid Agung Magetan. Letak yang strategis tersebut belum ditunjang dengan tempat yang memadai. Letak layanan dan kantor perpustakaan dan arsip, masih ditempatkan di lantai dua. Sehingga kalau pengunjung mau ke perpustakaan harus naik tangga. Menurut hemat saya, posisi tersebut sangat berbahaya bagi pengunjung anak dan orang tua. Sedang lantai bawah ditempati kantor Badan Kesatuan Bangsa dan Politik.

Selain bentuk gedung yang kesannya kurang ramah, juga dikelilingi tembok tinggi seperti benteng. Sehingga tidak bisa dilihat dari luar. Siapa pun akan takut. Apalagi bagi anak-anak. Bagi yang belum terbiasa berkunjung, rasanya akan enggan apabila diminta atau niat mampir ke gedung perpustakaan dan arsip.

Melihat fakta-fakta tersebut, kemudian saya berpikir, bagaimana perpustakaan dan arsip mendapat tempat dan fungsi yang semestinya. Kemudian pertama yang saya lakukan adalah, dengan memindahkan Kantor Bandan Kesatuan Bangsa dan Politik ke tempat lainnya. Dan gedung tersebut hanya untuk kantor dan pelayanan perpustakaan saja. Yang lantai atas untuk administrasi kantor. Sedang yang bawah khusus untuk koleksi buku dan pelayanan. Sedang untuk arsip tahun depan akan saya bangun depo arsip, sehingga arsip pemerintah daerah Kabupaten Magetan akan tersimpan dengan baik.

Saat ini Badan Perpustakaan dan Arip Kabupaten Magetan sedang direnovasi. Pagar depan separo dihilangkan. Sehingga kesannya nanti akan ramah dengan pengunjung. Untuk gerbang pagar yang lama satu sisi masih dipertahankan. Diharapkan nantinya tidak menghilangkan sejarah lama gedung tersebut. Walaupun gedung tersebut bukan cagar Budaya. Sedang untuk pelayanan perpustakaan bagi anak-anak akan dibangun tahun depan. Walaupun sedang direnovasi, akan tetapi inovasi pelayanan tetap harus terus dibangun.

Salah satu inovasi pelayanan perpustakaan Magetan yaitu program pelayanan peminjaman bagi lansia yang masih jernih daya pikir dan senang membaca. Tidak perlu datang ke perpustakaan. Bekerjasam dengan dinsos, yang memiliki data lansia yang perlu layanan cukup via WA buku akan diantar (masih khusus dalam kota dan sekitarnya) ke alamat. Demikian juga kalau mengembalikan. Tentu selain program perpustakaan mainstream lainnya.

Memang perlu waktu menghilangkan kesan perpustakaan sebagai tempat buangan pada sistem karier pegawai. Juga sebagai tempat yang baik untuk membuka cakrawala sebagai jendela dunia. Namun harus terus dimulai dan diupayakan. Walaupun secara fisik perpustakaan kabupaten Magetan belum seperti perpustakaan yang baik di kabupaten/kota, Provinsi lainnya. Maupun dibandingkan di Pusat. Apalagi dibandingakan di Belanda. Namun harus dimulai. Inovasi dan peran kehadirannya di masyarakat harus terus didorong. (*)

KEBETULAN seminggu yang lalu saya berkunjung ke perpustakaan nasional di Jakarta. Perpustakaan yang saat ini berdiri megah di Jalan Merdeka Selatan tersebut sungguh membanggakan. Menurut hemat saya gedung tersebut mungkin merupakan gedung yang tertinggi di sekitar Tugu Monas. Karena di sekitar Tugu Monas merupakan wilayah yang memang diperuntukkan sebagai kantor pemerintahan. Malahan menurut informasi, ketika Presiden Jokowi meresmikan gedung ini yang tingginya 27 latai itu, dinyatakan sebagai perpustakaan yang gedungnya tertinggi di dunia.

Sedang kantor dan pelayanan sebelumnya ada di Jalan Salemba. Gedung perpustakaan di Jalan Salemba sebenarnya juga sudah baik. Gedung tersebut dibangun di era Orde Baru. Pada era tersebut gedung perpustakaan di Jalan Salemba juga sudah terhitung sangat baik. Di tengah ada bangunan lama era Belanda dan di sampingnya dibangun gedung pelayanan.

Karena saya termasuk penggemar buku dan juga menulis artikel dan buku, dan sering berkunjung maka saya tahu persis seluk beluknya. Malahan tidak hanya di perpustakaan nasional. Saya juga sering berkunjung di perpustakaan pemda DKI yang terletak di Taman Ismail Marzuki di Cikini. Malahan saya tidak hanya menjadi anggota perpustakaan nasional tapi juga menjadi anggota perpustakaan DKI.

Di gedung perpustakaan nasional yang baru, pengunjung betul-betul dimanjakan akan koleksi dan pelayanannya. Tempatnya yang sangat baik. Dan ditata demikian indah. Mulai dari lobi yang juga menyajikan hal-hal yang menarik pengunjung mulai dengan naskah lama, buku-buku sesuai tema. Kemudian setiap lantai dikhususkan sebagai layanan tertentu. Seperti lantai dua sebagai Ruang Layanan Keanggotaan Perpustakaan dan Ruang Teater. Lantai  empat belas sebagai layanan Koleksi Buku Langka. Dan banyak layanan lainnya.

Tentu, peran perpustakaan nasional tidak perlu diragukan lagi. Unuk saya pribadi, telah banyak membantu saya. Baik dalam penulisan tesis, ketika saya menyelesaikan tesis S2 Ilmu Politik di Unair maupun S3 Administrasi Publik di Unibraw. Ketika menyelesaikan tesis S2 saya, karena judulnya Politik Pers Berbahasa Jawa maka saya harus banyak membaca penerbitan pers berbahasa Jawa terbitan lama-lama. Oleh sebab itu saya harus bergelut dengan naskah lama di perpustakaan nasional.

Demikian pula ketika saya menulis buku, saya harus banyak meminjam koleksi buku milik perpustakaan nasional. Begitu berartinya perpustakaan bagi saya, sampai-sampai saya membeli apartemen di Jakarta salah satu pertimbangannya adalah harus dekat dengan perpustakaan. Oleh sebab itulah kemudian ketika bertugas di Jakarta selama empat belas tahun, saya memutuskan untuk membeli apartemen di dekat perpustakaan nasional Jalan salemba yaitu apartemen Menteng Square. Jarak antara apartemen dengan gedung perpustakaan nasional hanya dipisahkan dengan Kementerian Sosial RI. Jadi kalau mau ke perpustakaan tinggal berjalan kaki saja.

Walaupun gedung dan koleksi perpustakaan nasional demikian megah dan cukup lengkap, akan tetapi ketika saya mengunjungi berbagai negara menjadi lebih kagum. Kehadiran saya di berbagai universitas, dalam rangka melakukan kerjasama maupun monitoring terhadap mahasiswa yang kebetulan mendapat beasiswa khususnya Belanda (sampai beberapa kali karena tugas dinas maupun mengunjungi dua anak saya yang kebetulan dapat beasiswa mengambil master di Belanda), perpustakaan di sana menjadikan saya betul-betul iri sekali. Demikian lengkap koleksi dan perhatian pemerintahnya. Perpustakaan umum, baik milik pemerintah daerah maupun nasional sungguh mendapat perhatian yang begitu besarnya.

Saya pernah mengunjungi Rijks Museum di Amsterdam yang juga memiliki koleksi buku-buku lama. Juga pernah mengunjungi perpustakaan milik pemerintah Amsterdam. Saya lihat, orang-orang Belanda membawa anaknya ke perpustakaan sebagai tempat rekreasi sekaligus mengenalkan bacaan sejak dini. Perpustakaan ditata sedemikian rupa dan sangat nyaman. Sebagai sumber informasi sekaligus tempat rekreasi.  Apalagi tempatnya di tepi sungai besar semacam mungkin pelabuhan. Sambil baca bisa memandang ke luar pemandangan yang demikian indah.

Demikian juga ketika saya mengunjungi berbagai universitas seperti Leiden demikian lengkap koleksinya. Malahan perpustakaan Universitas Leiden yang disokong Pemerintah Belanda telah membuka Leiden University’s Asian Library di Kota Leiden. Begitu besar perhatian pemerintah, sehingga perpustakaan tersebut diresmikan sendiri oleh Ratu Maxima di tahun 2017. Dan perpustakaan ini memuat koleksi literatur negara-negara di Asia. Untuk koleksinya, perpustakaan ini digadang-gadang sebagai perpustakaan terbesar yang memuat koleksi tentang Indonesia. Coba bayangkan apakah kita tidak iri karenanya. Tidak heran kalau kita mau belajar tentang Indonesia, kita harus ke Belanda karena begitu lengkapnya koleksi perpustakaannya tentang Indonesia. Juga demikian besar perhatian pemerintahnya.

Baca Juga :  Pasien Positif Covid-19 di Pacitan Bertambah, Pak In Minta Maaf

Di Indonesia, untuk pemerintah pusat juga sudah demikian besar perhatiannya. Namun khusus untuk pemerintah daerah saya kira rasanya kok belum. Untuk sistem karier saja, pejabat yang ditempatkan di perpustakaan biasanya dianggap dikotak. Malah kalau seorang pejabat dari tempat yang dianggap strategis kemudian dimutasi dan ditempatkan di perpustakaan istilahnya di-“perpus”-kan. Betapa tidak mengenakannya didengar.

Demikian juga kantor dan anggarannya juga biasanya juga kecil sekali. Tidak sebanding dengan bidang tugasnya sebagai lembaga yang harus membawa masyarakat ke jendela dunia. Bukankah buku merupakan “jendela dunia.” Namun mengapa masih banyak pemerintah daerah belum menempatkan perpustakaan pada posisi yang semestinya.

Belum ditambah, biasanya lembaga perpustakaan di daerah digabung dengan arsip. Yang menurut pendekatan organisasi dianggap sebagai satu rumpun. Kalau perpustakaan saja belum mendapat perhatian yang semestinya apalagi dengan arsip. Di Magetan sendiri kalau boleh jujur, tentu nasibnya juga tidak lebih baik. Untuk arsip sendiri belum banyak arsip yang tersimpan. Nampaknya semua arsip diletakkan di organisasi pemerintah daerah sendiri-sendiri.

Saya sendiri terkejut ketika mengunjungi perpustakaan Kabupaten Magetan. Alhamdulillah letaknya memang sudah strategis sekali di sebelah Barat alun-alun Magetan. Bersebelahan dengan Masjid Agung Magetan. Letak yang strategis tersebut belum ditunjang dengan tempat yang memadai. Letak layanan dan kantor perpustakaan dan arsip, masih ditempatkan di lantai dua. Sehingga kalau pengunjung mau ke perpustakaan harus naik tangga. Menurut hemat saya, posisi tersebut sangat berbahaya bagi pengunjung anak dan orang tua. Sedang lantai bawah ditempati kantor Badan Kesatuan Bangsa dan Politik.

Selain bentuk gedung yang kesannya kurang ramah, juga dikelilingi tembok tinggi seperti benteng. Sehingga tidak bisa dilihat dari luar. Siapa pun akan takut. Apalagi bagi anak-anak. Bagi yang belum terbiasa berkunjung, rasanya akan enggan apabila diminta atau niat mampir ke gedung perpustakaan dan arsip.

Melihat fakta-fakta tersebut, kemudian saya berpikir, bagaimana perpustakaan dan arsip mendapat tempat dan fungsi yang semestinya. Kemudian pertama yang saya lakukan adalah, dengan memindahkan Kantor Bandan Kesatuan Bangsa dan Politik ke tempat lainnya. Dan gedung tersebut hanya untuk kantor dan pelayanan perpustakaan saja. Yang lantai atas untuk administrasi kantor. Sedang yang bawah khusus untuk koleksi buku dan pelayanan. Sedang untuk arsip tahun depan akan saya bangun depo arsip, sehingga arsip pemerintah daerah Kabupaten Magetan akan tersimpan dengan baik.

Saat ini Badan Perpustakaan dan Arip Kabupaten Magetan sedang direnovasi. Pagar depan separo dihilangkan. Sehingga kesannya nanti akan ramah dengan pengunjung. Untuk gerbang pagar yang lama satu sisi masih dipertahankan. Diharapkan nantinya tidak menghilangkan sejarah lama gedung tersebut. Walaupun gedung tersebut bukan cagar Budaya. Sedang untuk pelayanan perpustakaan bagi anak-anak akan dibangun tahun depan. Walaupun sedang direnovasi, akan tetapi inovasi pelayanan tetap harus terus dibangun.

Salah satu inovasi pelayanan perpustakaan Magetan yaitu program pelayanan peminjaman bagi lansia yang masih jernih daya pikir dan senang membaca. Tidak perlu datang ke perpustakaan. Bekerjasam dengan dinsos, yang memiliki data lansia yang perlu layanan cukup via WA buku akan diantar (masih khusus dalam kota dan sekitarnya) ke alamat. Demikian juga kalau mengembalikan. Tentu selain program perpustakaan mainstream lainnya.

Memang perlu waktu menghilangkan kesan perpustakaan sebagai tempat buangan pada sistem karier pegawai. Juga sebagai tempat yang baik untuk membuka cakrawala sebagai jendela dunia. Namun harus terus dimulai dan diupayakan. Walaupun secara fisik perpustakaan kabupaten Magetan belum seperti perpustakaan yang baik di kabupaten/kota, Provinsi lainnya. Maupun dibandingkan di Pusat. Apalagi dibandingakan di Belanda. Namun harus dimulai. Inovasi dan peran kehadirannya di masyarakat harus terus didorong. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/