alexametrics
24.7 C
Madiun
Thursday, May 19, 2022

Ruang Satu: Waspada Bencana

SAYA bangga dengan warga Kota Madiun. Kesadarannya besar. Kepeduliannya tinggi. Khususnya dalam menjaga lingkungan. Kalau mau berkeliling, ada saja giat kerja bakti di lingkungan masyarakat tiap akhir pekan. Seperti Jumat kemarin (19/11) di Kelurahan Mojorejo. Warga yang tergabung dalam tim Madiun SAR Humanity membersihkan saluran air di sekitar Lapangan Mojorejo hingga sungai di Jalan Setia Budi. Bukan karena saya perintah. Tetapi karena kewaspadaan akan bencana.

Memang ada petugasnya juga. Dari dinas pekerjaan umum dan tata ruang (PUTR) serta dinas perumahan rakyat dan kawasan permukiman (perkim). Itu wajar karena memang tugas mereka. Saya memang membentuk tim khusus. Ada tim 29 yang bertugas membersihkan sungai. Ada lagi tim yang khusus memangkas pohon. Mereka bekerja bukan hanya menjelang musim penghujan. Melainkan setiap hari. Namun, tentu itu belum cukup. Ya, karena jumlah sungai cukup banyak. Belum saluran lingkungan. Karenanya, butuh peran masyarakat. Butuh peran kita bersama.

Kota Madiun memang berpotensi bencana. Utamanya banjir. Maklum, kita berada di dataran rendah. Di antara dua gunung. Wilis di sebelah timur dan Lawu di sebelah barat. Artinya, menerima air kiriman dari banyak arah. Belum lagi dari Ponorogo. Air kiriman bisa datang dari timur, barat, dan selatan. Kalau selatan atau barat hujan, Bengawan Madiun penuh. Dulu sempat merendam kolam pemancingan dan areal perkebunan warga yang memanfaatkan bibir sungai. Bahkan, hampir naik ke Taman Lalu Lintas. Tentu ini harus diwaspadai.

Karenanya, kita siagakan petugas di sana. Di Taman Lalu Lintas Bantaran Kali Madiun ada tenda darurat BPBD Kota Madiun. Petugas siaga 24 jam. Bergantian. Juga kita siagakan peralatan dan logistik. Perahu dan mesin pemotong wajib ada. Urusan bencana saat musim penghujan memang tidak hanya banjir. Tetapi juga pohon tumbang. Karenanya, mesin pemotong juga harus ready setiap saat. Saya perintahkan untuk selalu dicek.

Satu lagi ada di timur. Tenda serupa ada di areal Embung Pilangbango. Juga lengkap dengan peralatan dan logistik. Bahkan, juga ada dapur umumnya. Saya siapkan beras hingga 1 ton. Juga ada mi instan, makanan kaleng, dan lainnya. Wilayah timur memang juga rawan banjir. Khususnya wilayah yang dekat dengan Sungai Kalipiring. Yang ini air kiriman dari timur. Air kiriman dimungkinkan datangnya lebih cepat saat ini. Beberapa areal hutan sudah dibuka untuk lahan. Akar dari tanaman perkebunan tak cukup bisa menahan air. Berbeda saat masih pepohonan besar. Karenanya, turunnya air juga semakin cepat. Ini juga perlu diwaspadai.

Baca Juga :  Kebaikan Bertemu Kebaikan untuk Semoga

Upaya antisipasi tentu terus kita lakukan. Sudah saya kerahkan semuanya sesuai dengan tugas pokok fungsi masing-masing. Dinas PUTR dan perkim jelas dengan melakukan pembersihan-pembersihan. Petugas juga melakukan pengerukan sedimen. Seperti yang terlihat di sungai Jalan Setia Budi, tepatnya samping Asrama Brimob. Pengerukan masih berjalan di sana. Selain bersih-bersih saluran, tim pemangkas pohon juga berkeliling setiap hari. Minimal ada dua lokasi tiap harinya. Pohon besar tidak boleh lebih dari tujuh meter. Sudah saya perintahkan untuk memangkas seragam, menyisakan tujuh meter dari tanah. Pohon tetap rindang tetapi tidak membahayakan.

Selain itu, Rusunawa II kita siapkan untuk tempat evakuasi jika sewaktu-waktu banjir terjadi dan warga membutuhkan tempat tinggal. Petugas sudah saya minta melakukan pendataan rumah-rumah mana saja yang dulu sempat terendam banjir. Jadi, agar kita tahu berapa kebutuhannya. Apartemen Rusunawa II memiliki 44 hunian. Rusunawa II memang belum digunakan. Masih proses pendataan calon penghuni. Sebelumnya juga kita siagakan untuk Rumah Sakit Lapangan (RSL) Covid-19. Karena kasus melandai, status RSL pada Rusunawa II kita cabut. Kalau masih kurang, ada Asrama Haji. Memang masih kita siagakan untuk RSL Covid-19. Tetapi bisa kita siasati. Kita pisahkan tempat isolasi dan evakuasi. Asrama Haji hanya digunakan kalau rusunawa penuh.

Semuanya harus siap dari sekarang. Bahkan, Sekda Soeko Dwi Handiarto juga saya minta untuk menyiapkan segala sesuatunya. Ya, Kota Madiun sudah memiliki Sekda definitif. Pelantikannya malam Jumat kemarin. Sengaja saya lantik di areal Musala Kakbah Sumber Umis. Seperti kita ketahui, Kakbah merupakan kiblat umat muslim dan malam Jumat adalah malam keramat untuk tirakat dan iktikaf. Sekda yang baru ini juga harus siap siaga bencana. Siap turun sewaktu-waktu untuk menangani kejadian di lapangan. Kita tidak mengharapkan bencana datang. Tetapi kita harus siap sewaktu-waktu bencana itu datang. (*)

Penulis adalah Wali Kota Madiun Maidi

SAYA bangga dengan warga Kota Madiun. Kesadarannya besar. Kepeduliannya tinggi. Khususnya dalam menjaga lingkungan. Kalau mau berkeliling, ada saja giat kerja bakti di lingkungan masyarakat tiap akhir pekan. Seperti Jumat kemarin (19/11) di Kelurahan Mojorejo. Warga yang tergabung dalam tim Madiun SAR Humanity membersihkan saluran air di sekitar Lapangan Mojorejo hingga sungai di Jalan Setia Budi. Bukan karena saya perintah. Tetapi karena kewaspadaan akan bencana.

Memang ada petugasnya juga. Dari dinas pekerjaan umum dan tata ruang (PUTR) serta dinas perumahan rakyat dan kawasan permukiman (perkim). Itu wajar karena memang tugas mereka. Saya memang membentuk tim khusus. Ada tim 29 yang bertugas membersihkan sungai. Ada lagi tim yang khusus memangkas pohon. Mereka bekerja bukan hanya menjelang musim penghujan. Melainkan setiap hari. Namun, tentu itu belum cukup. Ya, karena jumlah sungai cukup banyak. Belum saluran lingkungan. Karenanya, butuh peran masyarakat. Butuh peran kita bersama.

Kota Madiun memang berpotensi bencana. Utamanya banjir. Maklum, kita berada di dataran rendah. Di antara dua gunung. Wilis di sebelah timur dan Lawu di sebelah barat. Artinya, menerima air kiriman dari banyak arah. Belum lagi dari Ponorogo. Air kiriman bisa datang dari timur, barat, dan selatan. Kalau selatan atau barat hujan, Bengawan Madiun penuh. Dulu sempat merendam kolam pemancingan dan areal perkebunan warga yang memanfaatkan bibir sungai. Bahkan, hampir naik ke Taman Lalu Lintas. Tentu ini harus diwaspadai.

Karenanya, kita siagakan petugas di sana. Di Taman Lalu Lintas Bantaran Kali Madiun ada tenda darurat BPBD Kota Madiun. Petugas siaga 24 jam. Bergantian. Juga kita siagakan peralatan dan logistik. Perahu dan mesin pemotong wajib ada. Urusan bencana saat musim penghujan memang tidak hanya banjir. Tetapi juga pohon tumbang. Karenanya, mesin pemotong juga harus ready setiap saat. Saya perintahkan untuk selalu dicek.

Satu lagi ada di timur. Tenda serupa ada di areal Embung Pilangbango. Juga lengkap dengan peralatan dan logistik. Bahkan, juga ada dapur umumnya. Saya siapkan beras hingga 1 ton. Juga ada mi instan, makanan kaleng, dan lainnya. Wilayah timur memang juga rawan banjir. Khususnya wilayah yang dekat dengan Sungai Kalipiring. Yang ini air kiriman dari timur. Air kiriman dimungkinkan datangnya lebih cepat saat ini. Beberapa areal hutan sudah dibuka untuk lahan. Akar dari tanaman perkebunan tak cukup bisa menahan air. Berbeda saat masih pepohonan besar. Karenanya, turunnya air juga semakin cepat. Ini juga perlu diwaspadai.

Baca Juga :  PHRI Dukung Penerapan PPKM Level 3 Nataru

Upaya antisipasi tentu terus kita lakukan. Sudah saya kerahkan semuanya sesuai dengan tugas pokok fungsi masing-masing. Dinas PUTR dan perkim jelas dengan melakukan pembersihan-pembersihan. Petugas juga melakukan pengerukan sedimen. Seperti yang terlihat di sungai Jalan Setia Budi, tepatnya samping Asrama Brimob. Pengerukan masih berjalan di sana. Selain bersih-bersih saluran, tim pemangkas pohon juga berkeliling setiap hari. Minimal ada dua lokasi tiap harinya. Pohon besar tidak boleh lebih dari tujuh meter. Sudah saya perintahkan untuk memangkas seragam, menyisakan tujuh meter dari tanah. Pohon tetap rindang tetapi tidak membahayakan.

Selain itu, Rusunawa II kita siapkan untuk tempat evakuasi jika sewaktu-waktu banjir terjadi dan warga membutuhkan tempat tinggal. Petugas sudah saya minta melakukan pendataan rumah-rumah mana saja yang dulu sempat terendam banjir. Jadi, agar kita tahu berapa kebutuhannya. Apartemen Rusunawa II memiliki 44 hunian. Rusunawa II memang belum digunakan. Masih proses pendataan calon penghuni. Sebelumnya juga kita siagakan untuk Rumah Sakit Lapangan (RSL) Covid-19. Karena kasus melandai, status RSL pada Rusunawa II kita cabut. Kalau masih kurang, ada Asrama Haji. Memang masih kita siagakan untuk RSL Covid-19. Tetapi bisa kita siasati. Kita pisahkan tempat isolasi dan evakuasi. Asrama Haji hanya digunakan kalau rusunawa penuh.

Semuanya harus siap dari sekarang. Bahkan, Sekda Soeko Dwi Handiarto juga saya minta untuk menyiapkan segala sesuatunya. Ya, Kota Madiun sudah memiliki Sekda definitif. Pelantikannya malam Jumat kemarin. Sengaja saya lantik di areal Musala Kakbah Sumber Umis. Seperti kita ketahui, Kakbah merupakan kiblat umat muslim dan malam Jumat adalah malam keramat untuk tirakat dan iktikaf. Sekda yang baru ini juga harus siap siaga bencana. Siap turun sewaktu-waktu untuk menangani kejadian di lapangan. Kita tidak mengharapkan bencana datang. Tetapi kita harus siap sewaktu-waktu bencana itu datang. (*)

Penulis adalah Wali Kota Madiun Maidi

Most Read

Artikel Terbaru

/