Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Pesona Batik Pace Pacitan, Tiap Karya Tiada Duanya

Hengky Ristanto • Selasa, 4 Oktober 2022 | 01:00 WIB
ORISINAL: Yayuk mengombinasikan gaya abstrak dalam setiap batik pace gubahannya. (SUGENG DWI N./JAWA POS RADAR PACITAN)
ORISINAL: Yayuk mengombinasikan gaya abstrak dalam setiap batik pace gubahannya. (SUGENG DWI N./JAWA POS RADAR PACITAN)

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun - Klasik tapi tak udik. Cerahnya pewarnaan membuat batik pace layak dipadupadankan dengan gaya busana masa kini. Itulah yang membuat batik khas Pacitan tersebut digandrungi beragam kalangan. Layak dikenakan untuk pakaian bergaya formal hingga kasual. Pace, sesuai namanya, merupakan buah mengkudu. Gambar buah beserta daunnya itulah yang menjadi corak khas batik ini.


Pesona batik memantik perhatian Sumarni Rahayu Slamet. Dua tahun belakangan, dia beralih profesi dari seniman lukis menjadi perajin batik tulis. Produknya sukses menjadi jujukan pesanan dari berbagai daerah. Mulai kota-kota besar di Jawa hingga merambah Nusa Tenggara Barat dan Sumatera. ‘’Awalnya suami yang diminta mengajari anak sekolah menggambar batik. Dari sanalah kami cocok dan terus menekuni kerajinan ini,’’ ujarnya, Senin (3/10).


Yayuk, sapaan Sumarni Rahayu Slamet, menggubah batik pace dikombinasi dengan lukisan abstrak. Seluruh prosesnya dikerjakan manual menggunakan canting dan kuas. Saban lembar dibuat limited edition. ‘’Karena ini abstrak, jadi karyanya dibuat langsung tanpa cetakan atau pola. Seleluasa kami berimajinasi. Kalau semuanya dibuat mirip, justru susah,’’ terang perempuan 42 tahun itu.


Memproduksi batik pace kontemporer gampang-gampang susah. Namun, seniman yang tinggal di lingkungan Barean, Sidoharjo, Pacitan, itu cukup telaten. Rampung membuat pola menggunakan pensil, gambarnya lantas dipertegas menggunakan malam. Setelah itu, langsung diwarnai sesuai abstrak yang diimajinasikan. ‘’Sebenarnya simpel, yang susah itu kreasinya,’’ kata istri Prabowo tersebut.


Meski eksklusif, Yayuk tak mamatok mahal karyanya. Per meter kainnya hanya dibanderol Rp 200 ribu hingga Rp 400 ribu. Dipasarkan dari mulut ke mulut saja sudah membuatnya kewalahan melayani pesanan. ‘’Banyak yang suka karena motifnya nggak pasaran. Jadi, kalau dipakai ke tempat umum nggak akan kembar,’’ pungkasnya. (gen/c1/fin)

Editor : Hengky Ristanto
#kreasi batik #batik #batik pace #Batik Pacitan #kerajinan