Jawa Pos Radar Pacitan – Kondisi perikanan benih bening lobster (BBL) atau benur di Pacitan tengah terpuruk.
Daerah yang selama ini dikenal sebagai penyumbang benur terbesar di Jawa Timur kini menghadapi kejatuhan harga cukup tajam.
Harga benur yang sebelumnya mencapai Rp 15 ribu per ekor, kini merosot di kisaran Rp 3 ribu hingga Rp 5 ribu per ekor.
Dampaknya, aktivitas nelayan benur praktis terhenti.
Kepala Dinas Perikanan Pacitan Nanang Hardwijono mengatakan, mandeknya aktivitas nelayan bukan semata persoalan harga, melainkan dampak moratorium kebijakan pemerintah pusat yang hingga kini belum dicabut.
“Berhenti karena memang ada moratorium,” kata Nanang, Minggu (1/2).
Nanang menegaskan, selama moratorium masih berlaku, nelayan tidak diperbolehkan melakukan penangkapan maupun pengiriman benur ke luar daerah.
Kondisi tersebut membuat nelayan kehilangan kepastian usaha.
“Selama moratorium belum dicabut, aktivitas penangkapan dan distribusi belum bisa dilakukan. Jadi saat ini kami masih menunggu kebijakan pemerintah pusat,” jelasnya.
Ia mengakui, hingga kini belum ada perkembangan terbaru terkait regulasi lanjutan dari pemerintah pusat.
Sementara soal harga benur di lapangan, pihaknya belum melakukan pengecekan ulang secara detail karena minimnya transaksi akibat terhentinya aktivitas nelayan.
“Untuk harga benur kami belum cek lagi secara detail, karena aktivitasnya memang masih menunggu kebijakan,” pungkasnya. (hyo/den)
Editor : Hengky Ristanto