Jawa Pos Radar Pacitan – Alun-alun mendadak jadi panggung bonsai.
Ratusan tanaman hias itu tertata rapi dalam kontes terbuka dan pameran.
Kegiatan tersebut menjadi bagian peringatan Hari Jadi Ke-281 Pacitan.
Tak hanya diikuti peserta lokal, kontes ini juga menarik pegiat bonsai dari luar daerah.
Di antaranya dari Solo, Trenggalek, Ponorogo, Bantul, Wonogiri, Gunung Kidul, Sukoharjo, hingga Madiun.
“Kontes ini terbuka untuk umum. Ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus adu kualitas bonsai,” ujar panitia pameran Triyono, kemarin (8/2).
Panitia membagi kontes dalam tiga kelas. Yakni kelas bahan, semi matang, dan matang.
Kelas bahan menjadi kategori paling ramai dengan 144 peserta.
Disusul 82 bonsai semi matang serta 26 bonsai matang.
Jenisnya beragam. Mulai serut, sancang, wahong, hingga beringin kimeng yang dikenal memiliki karakter batang kuat dan estetika tinggi.
Di tiap kelas, panitia bersama dewan juri memilih 10 bonsai terbaik berdasarkan sejumlah kriteria penilaian.
“Penilaian meliputi karakter bahan, gerak batang, percabangan, hingga keharmonisan bentuk pohon,” tambah Triyono.
Meski sebagian besar bonsai yang dipamerkan masih tergolong muda, nilainya tetap mencengangkan.
Rata-rata usia tanaman berkisar tiga hingga lima tahun, namun harga jualnya bisa mencapai belasan hingga puluhan juta rupiah.
Bahkan, ada bonsai yang ditaksir bernilai hingga Rp 50 juta karena kualitas dan karakter pohonnya dianggap istimewa.
“Ini juga sebagai sarana edukasi masyarakat untuk mengenal seni bonsai lebih dekat,” pungkasnya. (hyo/den)
Editor : Hengky Ristanto