Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Ekspor Gula Aren Pacitan Tembus 3 Negara, Perajin Gula Jawa: Kami Terabaikan

Nur Cahyono • Kamis, 12 Februari 2026 | 21:00 WIB
EKSPOR GULA AREN: Mendes PDTT Yandri Susanto didampingi Bupati Indrata Nur Bayuaji saat pelepasan ekspor di Desa Temon, Arjosari, Pacitan, Kamis (12/2). NUR CAHYONO/RADAR PACITAN
EKSPOR GULA AREN: Mendes PDTT Yandri Susanto didampingi Bupati Indrata Nur Bayuaji saat pelepasan ekspor di Desa Temon, Arjosari, Pacitan, Kamis (12/2). NUR CAHYONO/RADAR PACITAN

Jawa Pos Radar Pacitan – Ekspor gula aren organik dari Desa Temon, Arjosari, Pacitan, disambut gegap gempita.

Namun, di balik itu, perajin gula jawa atau gula kelapa merasa masih terabaikan.

Ketua Kelompok Perajin Gula Merah Pacitan Khoirul Huda menilai industri gula kelapa luput dari perhatian pemerintah.

Padahal, komoditas ini menjadi sumber penghidupan ribuan warga.

Masalah utama, kata dia, kualitas produksi. Sebab mayoritas industri gula kelapa di Pacitan masih berskala rumah tangga.

“Masih banyak petani yang belum bisa menghasilkan gula kelapa dengan kualitas bagus,” ujarnya, Kamis (12/2).

Selain itu, persoalan manajerial juga menjadi hambatan besar.

Khoirul berharap ada pelatihan maupun pendampingan dari pemerintah.

“Harapannya ada kegiatan pelatihan atau pendampingan dari pemerintah,” ucapnya.

Keluhan serupa disampaikan Slamet, penyadap nira dari Kecamatan Tulakan.

Dia menyebut pemasaran masih menjadi pekerjaan rumah.

Perajin masih bergantung pada tengkulak yang membeli dengan harga murah.

“Harga satu kilo gula merah dibeli tengkulak sekitar Rp 12-15 ribu per kilogram,” katanya.

Ironisnya, tengkulak yang kemudian mengolah ulang gula jawa menjadi produk lain justru meraup keuntungan lebih besar.

Di Pacitan sebenarnya sudah ada koperasi perajin gula merah.

Namun, Slamet menilai koperasi belum mampu memutus ketergantungan perajin pada tengkulak.

Akibatnya, harga pasar cenderung tidak stabil dan posisi tawar petani tetap lemah.

Perajin juga menilai pemerintah terkesan tebang pilih.

Mereka menyebut perhatian lebih banyak tertuju pada gula aren yang difasilitasi ekspor.

“Sementara gula jawa yang suplai produksinya lebih besar belum diberi fasilitas,” terangnya.

Bahkan, mereka menduga hanya pengusaha tertentu yang memiliki akses dan jaringan yang bisa mendapat fasilitas ekspor.

Padahal, berdasarkan data BPS Pacitan, terdapat sekitar 5.102 usaha gula merah yang menyerap 10.213 tenaga kerja.

Sementara perajin yang bergabung dalam paguyuban atau kelompok lebih dari 300 orang.

Di sisi lain, pemerintah kemarin melepas ekspor gula aren organik dari Desa Temon ke tiga negara: Belanda, Australia, dan Malaysia.

Mendes PDTT Yandri Susanto hadir dalam kegiatan itu.

“Kunci agar ekspor ini berjalan berkelanjutan adalah kualitas yang terjaga, kuantitas yang terpenuhi, dan kontinuitas produksi,” katanya. (hyo/den)

Editor : Hengky Ristanto
#pacitan #gula kelapa #gula jawa Pacitan #arjosari #ekspor gula aren Pacitan #desa temon #perajin gula merah #koperasi gula merah #tengkulak