alexametrics
24.6 C
Madiun
Thursday, August 18, 2022

Antisipasi Pemalsuan, Kesampingkan Nilai Kelulusan

ZONASI tak menyurutkan hasrat masyarakat untuk mendaftarkan anaknya ke sekolah favorit. SMPN 1 Ponorogo langsung diserbu calon siswa baru di hari pertama pendaftaran Senin (27/5). Hingga pukul 11.30, calon pendaftarnya tembus 440 orang dari pagu yang disediakan 288 siswa. ‘’Penerapan zonasi kali ini memang jauh lebih ramai,’’ kata Kepala SMPN 1 Ponorogo Yuli Dwi Astuti, kemarin.

Seperti sekolah lainnya, SMPN 1 mengacu aturan main PPDB 2019/2020 dalam Perbup 39/2019 tentang Tata Cara PPDB TK, SD, dan SMP di Ponorogo. Tiga jalur pendaftaran dibuka, zonasi (90 persen), mutasi (5 persen), dan prestasi (5 persen). Jalur zonasi yang paling ramai. Bahkan sejumlah orang tua siswa yang ditemui Radar Ponorogo kemarin menyebut telah mengantre di sekolah sejak 06.00. ‘’Ada orang tua yang takut. Karena ada salah satu ketentuan, kalau pendaftar di satu radius zona itu sama jumlahnya. Dipanggil yang nomor pendaftarannya lebih dahulu,’’ sebutnya.

PPDB kali ini, sekolah wajib menerima calon peserta didik yang domisilinya masih satu kecamatan dengan sekolah yang didaftar. Cara kedua adalah penentuan berdasar radius; maksimal lima kilometer dari sekolah. Sempat muncul kekhawatiran banyak calon peserta didik yang menyiasati radius. Kartu keluarga (KK) wajib disertakan. Selain surat keterangan domisili dari ketua RT/RW –mengetahui kepala desa atau kelurahan. ‘’Kami sudah antisipasi kalau ada upaya pemalsuan,’’ kata dia.

Baca Juga :  Puluhan Warga Keracunan usai Santap Berkat

Saat mendaftar, wali murid diminta mengisi surat pernyataan untuk tidak melakukan upaya pemalsuan data saat PPDB. Jika ketahuan, pendaftaran akan digugurkan. Di samping itu, penghitungan jarak dari rumah ke sekolah juga menggunakan satu aplikasi yang sama dan dihitung oleh teknisi khusus. ‘’Upaya memanipulasi jarak juga ditekan,’’ tegasnya.

Berjubelnya pendaftar membuat antrean cukup panjang. Hingga pukul 11.30, yang sudah diproses baru 106 dari 440 pendaftar. Kebijakan zonasi yang mengesampingkan nilai kelulusan tak dikhawatirkan. ‘’Kami meyakini setiap anak punya potensi akademik dan non akademik yang sama. Prestasi tetap bisa diraih siapapun asal mau belajar,’’ pungkasnya. (naz/fin)

ZONASI tak menyurutkan hasrat masyarakat untuk mendaftarkan anaknya ke sekolah favorit. SMPN 1 Ponorogo langsung diserbu calon siswa baru di hari pertama pendaftaran Senin (27/5). Hingga pukul 11.30, calon pendaftarnya tembus 440 orang dari pagu yang disediakan 288 siswa. ‘’Penerapan zonasi kali ini memang jauh lebih ramai,’’ kata Kepala SMPN 1 Ponorogo Yuli Dwi Astuti, kemarin.

Seperti sekolah lainnya, SMPN 1 mengacu aturan main PPDB 2019/2020 dalam Perbup 39/2019 tentang Tata Cara PPDB TK, SD, dan SMP di Ponorogo. Tiga jalur pendaftaran dibuka, zonasi (90 persen), mutasi (5 persen), dan prestasi (5 persen). Jalur zonasi yang paling ramai. Bahkan sejumlah orang tua siswa yang ditemui Radar Ponorogo kemarin menyebut telah mengantre di sekolah sejak 06.00. ‘’Ada orang tua yang takut. Karena ada salah satu ketentuan, kalau pendaftar di satu radius zona itu sama jumlahnya. Dipanggil yang nomor pendaftarannya lebih dahulu,’’ sebutnya.

PPDB kali ini, sekolah wajib menerima calon peserta didik yang domisilinya masih satu kecamatan dengan sekolah yang didaftar. Cara kedua adalah penentuan berdasar radius; maksimal lima kilometer dari sekolah. Sempat muncul kekhawatiran banyak calon peserta didik yang menyiasati radius. Kartu keluarga (KK) wajib disertakan. Selain surat keterangan domisili dari ketua RT/RW –mengetahui kepala desa atau kelurahan. ‘’Kami sudah antisipasi kalau ada upaya pemalsuan,’’ kata dia.

Baca Juga :  Polisikan Calo PPPK!, Bupati Ponorogo Segera Panggil Korban Penipuan

Saat mendaftar, wali murid diminta mengisi surat pernyataan untuk tidak melakukan upaya pemalsuan data saat PPDB. Jika ketahuan, pendaftaran akan digugurkan. Di samping itu, penghitungan jarak dari rumah ke sekolah juga menggunakan satu aplikasi yang sama dan dihitung oleh teknisi khusus. ‘’Upaya memanipulasi jarak juga ditekan,’’ tegasnya.

Berjubelnya pendaftar membuat antrean cukup panjang. Hingga pukul 11.30, yang sudah diproses baru 106 dari 440 pendaftar. Kebijakan zonasi yang mengesampingkan nilai kelulusan tak dikhawatirkan. ‘’Kami meyakini setiap anak punya potensi akademik dan non akademik yang sama. Prestasi tetap bisa diraih siapapun asal mau belajar,’’ pungkasnya. (naz/fin)

Most Read

Artikel Terbaru

/