alexametrics
23 C
Madiun
Thursday, July 7, 2022

Qodari: KIB Perkuat Kinerja Pemerintahan

JAKARTA – Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari menilai terbentuknya Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) bisa memperkuat kerja-kerja pemerintahan. Koalisi yang dibangun tiga partai, Golkar, PAN, dan PPP ini tidak akan menghambat kerja pemerintahan Presiden Joko Widodo, meskipun para ketua umumnya ada di kabinet.

Menurutnya, sejak awal kerja sama tiga partai tersebut untuk menyukseskan pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin. Hal inilah yang bisa membantah tudingan sejumlah pihak koalisi ini bakal menghambat kerja pemerintah.

‘’Koalisi ini misinya adalah menyukseskan dan melanjutkan pembangunan yang dilaksanakan oleh Pak Jokowi. Jadi justru menjadi penguatan terhadap koalisi yang sudah ada di pemerintahan saat ini,’’ tutur Qodari dalam keterangan, Jumat (22/5).

Ia menambahkan, keberadaan ketua parpol KIB dalam kabinet justru semakin memperkuat kinerja pemerintah. Sebab, kinerja menteri akan berbanding lurus dengan elektabilitas mereka sendiri.

Jika kinerja mereka sebagai menteri bisa maksimal, masyarakat bisa menilai positif yang berdampak pada tingginya insentif electoral terhadap ketum parpol. ‘’Justru kalau dia kinerjanya tidak maksimal sebagai menteri, maka itu akan memperkecil insentif politiknya,’’ tegas Qodari.

Pada posisi ini, kinerja menteri bakal sejalan dengan insentif electoral yang bisa diperolehnya. Semakin bagus kinerja seorang menteri yang juga ketum parpol, semakin besar juga insentif electoral yang bisa didapatkannya dari masyarakat.

Qodari menilai munculnya tudingan negatif pada KIB karena ketiga parpol ini sangat strategis dan diperhitungkan. Banyak parpol yang masih ragu-ragu atau kesulitan menjalin koalisi dengan parpol lainnya.

Tapi yang ditunjukkan Golkar, PAN, dan PPP seolah memagari mereka dari manuver politik instan yang tergesa-gesa. Pernyataan negatif soal KIB muncul dari PDIP karena partai yang dipimpin Megawati Soekarnoputri itu saat ini masih kesulitan untuk berkoalisi. PDIP yang bisa mengusung sendiri capres-cawapresnya tetap harus mengajak parpol Islam untuk berkoalisi.

Parpol Islam yang belum menyatakan bergabung dengan koalisi manapun tinggal PKB. Berdasar pengalaman yang lalu, PKB seringkali memutuskan koalisi menjelang akhir. Jadi, sulit bagi PDIP untuk menggandeng PKB.

Qodari menilai PDIP juga sulit menjalin koalisi dengan PKS, Demokrat, dan Nasdem. Hanya Gerindra yang paling memungkinkan bisa berkoalisi dengan PDIP, meskipun, partai berlambang burung Garuda ngotot memajukan nama Prabowo Subianto sebagai capres. ‘’Saya kira PDIP sulit untuk bisa berkoalisi hari ini,’’ tutur Qodari.

Survei INES: Airlangganomic Antarkan Ketum Golkar di Posisi Teratas Elektabilitas Capres

SURVEI Indonesia Network Election Survey (INES) menemukan mayoritas reponden memilih Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto sebagai calon presiden yang dipilihnya jika pilpres digelar hari ini. Airlangga yang meraih elektabilitas 19,1 persen, berhasil mengalahkan nama Ketum Gerindra Prabowo Subianto (16,7 persen) dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo (9,7 persen).

Baca Juga :  Kurangi Angka Kemiskinan, Menko Airlangga Salurkan Bantuan Tunai ke Nelayan

Direktur Eksekutif INES Herry Soetomo menuturkan, hasil survei lembaganya menemukan faktor yang membuat Airlangga dipilih mayoritas 1.888 reponden yakni terkait keberhasilan di bidang ekonomi.

‘’Tingginya keterpilihan Airlangga karena Airlangganomic yang dikatakan berhasil, terutama dalam kondisi ekonomi nasional menuju perbaikan. Dimana pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I/2022 mencapai 5,01 persen secara tahunan,’’ tutur Herry Soetomo dalam keterangan, Sabtu (21/5).

Selain soal kebijakan ekonomi, faktor lain yang membuat Menko Perekonomian itu memiliki elektabilitas tertinggi yakni, Airlangga dinilai sebagai tokoh yang membawa kesejukan di masyarakat. ‘’Airlangga dianggap tokoh yang perilaku politiknya membawakan kesejukan di masyarakat dan tidak menimbulkan polarsisasi,’’ ujar Herry.

Survei INES memang menunjukkan Airlangga berada di posisi bawah soal tokoh yang pernyataan dan tindakannya dianggap memunculkan polarisasi. Airlangga hanya dianggap 5,9 persen reponden yang memiliki perilaku pencitraan dan berpotensi memunculkan polarisasi.

Posisi teratas dari kategori ini memunculkan nama Anies Baswedan (89,7 persen), disusul Ganjar Pranowo (80,8 persen), dan Sandiaga Uno (50,3 persen). “Akibat perilaku politik mereka, tercipta opini di masyarakat akan satu isu tertentu tentang politik terbentuk akibat perilaku para elite. Hasilnya, masyarakat menjadi terpolarisasi,” tegas Herry.

Sementara, dari survei yang sama, Golkar menjadi partai yang paling banyak dipilih reponden. Baik dengan simulasi pertanyaan terbuka, maupun tertutup.

Pada simulasi pertanyaan terbuka, Golkar dipilih 12,2 persen responden, diikuti Gerindra (11,1 persen), PDIP (10,9 persen), dan Demokrat (9,8 persen). Selanjutnya, ada PKB dengan 5,8 persen, PKS (4,3 persen) dan Nasdem dengan 4,2 persen.

Pada simulasi pertanyaan tertutup, partai berlambang pohon beringin tetap menjadi yang teratas dengan 16,3 persen, disusul Gerindra (15,3 persen), dan PDIP dengan 14,6 persen. Posisi selanjutnya sama dengan pada simulasi pertanyaan terbuka.

Survei INES sendiri digelar mulai 13-28 April 2022. Survei ini menggunakan metode multistage random sampling dengan margin of error sekitar 2,27 persen. Tingkat kepercayaan survei sekitar 95 persen. (don/adv)

JAKARTA – Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari menilai terbentuknya Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) bisa memperkuat kerja-kerja pemerintahan. Koalisi yang dibangun tiga partai, Golkar, PAN, dan PPP ini tidak akan menghambat kerja pemerintahan Presiden Joko Widodo, meskipun para ketua umumnya ada di kabinet.

Menurutnya, sejak awal kerja sama tiga partai tersebut untuk menyukseskan pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin. Hal inilah yang bisa membantah tudingan sejumlah pihak koalisi ini bakal menghambat kerja pemerintah.

‘’Koalisi ini misinya adalah menyukseskan dan melanjutkan pembangunan yang dilaksanakan oleh Pak Jokowi. Jadi justru menjadi penguatan terhadap koalisi yang sudah ada di pemerintahan saat ini,’’ tutur Qodari dalam keterangan, Jumat (22/5).

Ia menambahkan, keberadaan ketua parpol KIB dalam kabinet justru semakin memperkuat kinerja pemerintah. Sebab, kinerja menteri akan berbanding lurus dengan elektabilitas mereka sendiri.

Jika kinerja mereka sebagai menteri bisa maksimal, masyarakat bisa menilai positif yang berdampak pada tingginya insentif electoral terhadap ketum parpol. ‘’Justru kalau dia kinerjanya tidak maksimal sebagai menteri, maka itu akan memperkecil insentif politiknya,’’ tegas Qodari.

Pada posisi ini, kinerja menteri bakal sejalan dengan insentif electoral yang bisa diperolehnya. Semakin bagus kinerja seorang menteri yang juga ketum parpol, semakin besar juga insentif electoral yang bisa didapatkannya dari masyarakat.

Qodari menilai munculnya tudingan negatif pada KIB karena ketiga parpol ini sangat strategis dan diperhitungkan. Banyak parpol yang masih ragu-ragu atau kesulitan menjalin koalisi dengan parpol lainnya.

Tapi yang ditunjukkan Golkar, PAN, dan PPP seolah memagari mereka dari manuver politik instan yang tergesa-gesa. Pernyataan negatif soal KIB muncul dari PDIP karena partai yang dipimpin Megawati Soekarnoputri itu saat ini masih kesulitan untuk berkoalisi. PDIP yang bisa mengusung sendiri capres-cawapresnya tetap harus mengajak parpol Islam untuk berkoalisi.

Parpol Islam yang belum menyatakan bergabung dengan koalisi manapun tinggal PKB. Berdasar pengalaman yang lalu, PKB seringkali memutuskan koalisi menjelang akhir. Jadi, sulit bagi PDIP untuk menggandeng PKB.

Qodari menilai PDIP juga sulit menjalin koalisi dengan PKS, Demokrat, dan Nasdem. Hanya Gerindra yang paling memungkinkan bisa berkoalisi dengan PDIP, meskipun, partai berlambang burung Garuda ngotot memajukan nama Prabowo Subianto sebagai capres. ‘’Saya kira PDIP sulit untuk bisa berkoalisi hari ini,’’ tutur Qodari.

Survei INES: Airlangganomic Antarkan Ketum Golkar di Posisi Teratas Elektabilitas Capres

SURVEI Indonesia Network Election Survey (INES) menemukan mayoritas reponden memilih Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto sebagai calon presiden yang dipilihnya jika pilpres digelar hari ini. Airlangga yang meraih elektabilitas 19,1 persen, berhasil mengalahkan nama Ketum Gerindra Prabowo Subianto (16,7 persen) dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo (9,7 persen).

Baca Juga :  Dukung Industri Perkapalan Indonesia, Airlangga Tinjau Produksi KRI Teluk Palu

Direktur Eksekutif INES Herry Soetomo menuturkan, hasil survei lembaganya menemukan faktor yang membuat Airlangga dipilih mayoritas 1.888 reponden yakni terkait keberhasilan di bidang ekonomi.

‘’Tingginya keterpilihan Airlangga karena Airlangganomic yang dikatakan berhasil, terutama dalam kondisi ekonomi nasional menuju perbaikan. Dimana pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I/2022 mencapai 5,01 persen secara tahunan,’’ tutur Herry Soetomo dalam keterangan, Sabtu (21/5).

Selain soal kebijakan ekonomi, faktor lain yang membuat Menko Perekonomian itu memiliki elektabilitas tertinggi yakni, Airlangga dinilai sebagai tokoh yang membawa kesejukan di masyarakat. ‘’Airlangga dianggap tokoh yang perilaku politiknya membawakan kesejukan di masyarakat dan tidak menimbulkan polarsisasi,’’ ujar Herry.

Survei INES memang menunjukkan Airlangga berada di posisi bawah soal tokoh yang pernyataan dan tindakannya dianggap memunculkan polarisasi. Airlangga hanya dianggap 5,9 persen reponden yang memiliki perilaku pencitraan dan berpotensi memunculkan polarisasi.

Posisi teratas dari kategori ini memunculkan nama Anies Baswedan (89,7 persen), disusul Ganjar Pranowo (80,8 persen), dan Sandiaga Uno (50,3 persen). “Akibat perilaku politik mereka, tercipta opini di masyarakat akan satu isu tertentu tentang politik terbentuk akibat perilaku para elite. Hasilnya, masyarakat menjadi terpolarisasi,” tegas Herry.

Sementara, dari survei yang sama, Golkar menjadi partai yang paling banyak dipilih reponden. Baik dengan simulasi pertanyaan terbuka, maupun tertutup.

Pada simulasi pertanyaan terbuka, Golkar dipilih 12,2 persen responden, diikuti Gerindra (11,1 persen), PDIP (10,9 persen), dan Demokrat (9,8 persen). Selanjutnya, ada PKB dengan 5,8 persen, PKS (4,3 persen) dan Nasdem dengan 4,2 persen.

Pada simulasi pertanyaan tertutup, partai berlambang pohon beringin tetap menjadi yang teratas dengan 16,3 persen, disusul Gerindra (15,3 persen), dan PDIP dengan 14,6 persen. Posisi selanjutnya sama dengan pada simulasi pertanyaan terbuka.

Survei INES sendiri digelar mulai 13-28 April 2022. Survei ini menggunakan metode multistage random sampling dengan margin of error sekitar 2,27 persen. Tingkat kepercayaan survei sekitar 95 persen. (don/adv)

Most Read

Artikel Terbaru

/