Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Sejarah Bukit Angon dan Legenda Mbah Doblang

Hengky Ristanto • Sabtu, 12 November 2022 | 16:05 WIB
KHIDMAT: Warga Carangrejo, Sampung mempersiapkan ritual budaya dari sejak menjelang subuh. (AJI PUTRA/JAWA POS RADAR PONOROGO)
KHIDMAT: Warga Carangrejo, Sampung mempersiapkan ritual budaya dari sejak menjelang subuh. (AJI PUTRA/JAWA POS RADAR PONOROGO)
PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun - Tradisi Boyong Basuki Tirto Pagesangan bertalian simpul dengan cerita rakyat tentang Mbah Doblang. Sosok itu lekat dengan warga Desa Carangrejo, Sampung.

Pun, tradisi budaya ini menandai tiga tempat lintas desa dan kecamatan. Yakni Sungai Sumorobangun dan Bukit Setono Pangonan, Desa Biting, Badegan. Serta Beji Sendang Songo, Desa Carangrejo, Sampung.

Pegiat sejarah setempat, Widi Adi Purwoko, menyatakan, Mbah Doblang merupakan sosok cikal-bakal Desa Carangrejo. Diperkirakan, kisahnya dimulai pada akhir abad ke-18. Singkat cerita, Carangrejo dilanda bencana kekeringan.

Mbah Doblang kemudian menyeretkan tongkat yang bekasnya menjelma jadi aliran sungai dari Sumorobangun hingga Carangrejo. Panjangnya mencapai tujuh kilometer.

‘’Air dari Sumorobangun digabungkan dengan Sendang Beji Songo di Carangrejo karena sekarang aliran sungainya tidak sampai ke Carangrejo,’’ urainya.

Kabarnya, puncak Bukit Setono Pangonan merupakan tempat pertapaan Mbah Doblang. Terlepas dari itu, Widi meyakini Bukit Setono Pangonan dan kawasan sekitarnya memiliki akar sejarah kuat.

Konon, bukit itu pernah menjadi tempat persinggahan tiga raja Jawa. Yakni Pangeran Sambernyowo atau Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I; Pangeran Mangkubumi; serta Sri Susuhunan Pakubuwana II. ‘’Pada gejolak 1742, Pakubuwono II singgah, ini mendasar catatan Lucien Adam, Residen Madiun (1934-1938),’’ jelasnya.

Dalam catatan Lucien Adam, bukit itu disebut Pangonan Tambang. Pangonganan dari kata angon yang berarti untuk gembala ternak. ''Bukit Angon'' itu letaknya di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Barat. Di awal ke 18, bukit itu konon digunakan untuk benteng pertahanan.

Adapun bekas parit pertahanannya sampai kini masih dalam pencarian sebagai pelengkap bukti sejarah. ‘’Sejarah juga mencatat tempat itu juga menjadi persinggahan bagi Kapten Francois Tack bersama 214 kepala serdadu VOC dan 1.000 serdadu Jawa. Kapten menyebut tempat itu sebagai Pangonan Tambang,’’ ujarnya.

Ada beberapa penemuan benda bersejarah di bukit tersebut. Di puncak bukit terdapat batu menhir yang diperkirakan telah ada sejak periode klasik. Widi membeberkan, batu menhir tersebut identik dengan fungsi peribadatan.

‘’Dulu batu menhir ada dua. Temuan lain di sekitarnya ada watu lumpang, kenong, tugu batu yang diteliti oleh pegiat sejarah Desa Biting, Badegan. Kabarnya sudah dilaporkan ke BPCB Trowulan,’’ ungkapnya.

Widi berharap penelitian sejarah di tiga tempat itu terus dilakukan. Agar bukti-bukti sejarah dapat terus digali dan dikaji.

‘’Kami perkirakan tempat-tempat ini erat kaitannya dengan sejarah masa lalu. Bukit Setono Pangonan ini letaknya di ketinggian. Melihat ke arah barat dan timur sangat jelas, bisa jadi benar adanya dulu digunakan untuk benteng pertahanan,’’ pungkasnya. (kid/fin) Editor : Hengky Ristanto
#Tradisi Boyong Basuki Tirto Pagesangan #legenda #sejarah #ritual sedekah bumi #kebudayaan #tradisi