Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Sepanjang 2022, Terjadi 340 Bencana di Ponorogo, Kermat Capai Rp 1,7 M

Hengky Ristanto • Jumat, 13 Januari 2023 | 00:41 WIB
BANGKIT DARI BENCANA: Rentetan kejadian bencana alam sepanjang 2022 lalu meningkat dibanding tahun sebelumnya. (AJI PUTRA/JAWA POS RADAR PONOROGO)
BANGKIT DARI BENCANA: Rentetan kejadian bencana alam sepanjang 2022 lalu meningkat dibanding tahun sebelumnya. (AJI PUTRA/JAWA POS RADAR PONOROGO)
PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Mari sejenak menengok ke belakang. Mumpung hitungan kalender belum jauh berjalan. 24 Oktober 2022 silam, masih lekat dalam ingatan ketika warga Desa Talun, Ngebel harus berkejaran dengan guguran tanah longsor di tingkah gelapnya malam.

Ratusan orang terpaksa mengungsi akibat Gunung Banyong longsor. Tiga hari sebelumnya (21/10/2022), ratusan warga Desa Sriti, Sawoo lebih dulu mengungsi ke pasar setelah retakan tanah meluas hingga memicu terjadinya longsor.

Di saat bersamaan jalur Ngebel-Dolopo (Kab. Madiun) masuk Desa Ngrogung, Ngebel juga putus total tertimbun tanah longsor hebat.

Rentetan bencana alam itu menambah panjang daftar amuk alam sepanjang tahun lalu. BPBD Ponorogo menginventarisir 340 kejadian bencana alam sepanjang 2022.

Terdiri dari 173 longsor, 99 banjir, 5 tanah gerak, 1 tanah amblas, 6 tanah retak, 47 angin kencang, 8 kebakaran, dan 1 kekeringan. Jumlah itu meningkat drastis dibanding tahun sebelumnya dengan total 230 bencana alam.

Kalaksa BPBD Ponorogo Henry Indrawardhana mengungkapkan peningkatan bencana diakibatkan perubahan cuaca ekstrem yang memicu terjadinya bencana hidrometeorologi. Tidak menutup kemungkinan bencana tersebut masih mengintai di sepanjang tahun ini.

‘’Cuaca ekstrem, curah hujan tinggi menyebabkan kejadian bencana meningkat sepanjang tahun lalu,’’ katanya.

Kerugian material yang ditimbulkan akibat bencana tembus Rp 1,7 miliar. Kerusakan paling parah berupa rumah roboh di 448 titik. Kerusakan infrastruktur terdiri 48 jalan, 16 jembatan, 38 plengsengan, serta 50 tanggul. Serta fasilitas umum lainnya seperti sekolah, masjid, dan tiang listrik dengan total 23 unit.

Adapun kerusakan lahan akibat bencana teridentifikasi seluas 54,1 hektare. ‘’Ada jembatan yang putus total, ada yang tergerus seperti di Pengkol, itu juga masuk pendataan,’’ lanjutnya.

Hasil inventarisasi BPBD ini telah dilaporkan ke pimpinan. Untuk ditindaklanjuti dengan menyusun skema penanganan pasca bencana. Untuk kerusakan infrastruktur, BPBD juga telah melayangkan laporan tembusan ke dinas terkait.

Untuk kerusakan jembatan, kewenangan penanganannya di Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Ponorogo. Sedangkan kerusakan gedung sekolah menjadi tanggung jawab dinas pendidikan (dindik) setempat.

‘’Semua penanganan pasca bencana dilakukan oleh dinas terkait sesuai aturan yang berlaku,’’ ujarnya. (kid/fin)

AMUK ALAM SEPANJANG 2022
340 total bencana alam
173 tanah longsor
99 banjir
5 tanah gerak
1 tanah amblas
6 tanah retak
47 angin kencang

DAMPAK BENCANA
Rp 1,7 miliar kerugian material
448 rumah roboh
48 jalan rusak/putus
38 plengsengan rusak/jebol
50 tanggul rusak/jebol
23 fasum lainnya (sekolah, masjid, tiang listrik)
54,1 hektare luas lahan terdampak

BENCANA BESAR

21 Oktober 2022
Tanah retak di Desa Sriti, Sawoo meluas dan memicu tanah longsor
Ratusan warga mengungsi ke pasar desa

21 Oktober 2022
Longsor terjadi di Desa Ngrogung, Ngebel
Jalur Ngebel-Dolopo (Kab. Madiun) putus total

24 Oktober 2022
Gunung Banyon longsor saat malam hari
Ratusan warga mengungsi di rumah kades dan sekolah Editor : Hengky Ristanto
#bencana alam #BPBD Ponorogo #kerugian material #banjir ponorogo #angin kencang #longsor #Bencana hidrometeorologi #bencana #Tanah gerak #banjir #longsor ponorogo