Jawa Pos Radar Ponorogo – Warga Dusun Purworejo, Desa Gedangan, Ngrayun, harus bertaruh nyawa saat keluar masuk kampung.
Jembatan swadaya sepanjang 70 meter roboh pada 2 Januari lalu.
Sejak itu, warga mengandalkan lori gantung untuk menyeberangi derasnya arus Sungai Jabak.
Lori gantung yang mirip gondola itu memanfaatkan rangkaian besi tua dan tali sling baja sepanjang 40 meter.
Gondola ditarik secara manual oleh beberapa orang dari seberang sungai.
Alat sederhana yang dibangun dari dana swadaya warga senilai Rp 10 juta tersebut kini menjadi akses utama penghubung Dusun Purworejo dengan Desa Depok, Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek.
“Jembatannya tinggal setengah ambrol terkena banjir. Sebelum ada kereta ini warga tidak bisa menyeberang,” kata Suyanto, warga setempat yang mengelola gondola.
Tak ada pilihan lain bagi warga selain memanfaatkan gondola.
Berada di ujung perbatasan Ponorogo, akses darurat itu digunakan 50–100 warga setiap hari.
Mulai untuk belanja, mengakses pelayanan publik, hingga sekolah.
“Sakit berobatnya ke Trenggalek karena lebih dekat daripada ke Ngrayun (pusat kecamatan, Red). Ini jembatan satu-satunya. Kalau memutar jauh, harus lewat Pacitan,” jelasnya.
Riski Kurniawan, salah satu warga, setiap hari mengandalkan kereta gantung tersebut untuk menyeberang.
Kendati waswas, akses itu menjadi satu-satunya jalan menuju sekolahnya di SMAN 1 Panggul, Trenggalek.
Tak jarang Riski absen beberapa hari saat debit sungai meningkat.
“Sejak TK saya sekolah di Trenggalek karena sekolah terdekat memang di sana. Sekarang kelas XII SMA, jujur, sangat takut,” kata Riski.
Warga berharap Pemkab Ponorogo segera merealisasikan pembangunan jembatan permanen.
Sebab, akses itu menjadi jalur utama untuk layanan dasar pendidikan, kesehatan, serta aktivitas ekonomi.
“Semoga segera ada jembatan lagi,” tandasnya. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto