Jawa Pos Radar Ponorogo – Ramadan menjadi ladang berkah bagi Pamujo, 78.
Warga Kelurahan Kertosari, Kecamatan Babadan itu dikenal sebagai perajin sekaligus tukang servis bedug.
Mbah Jo—sapaan akrabnya—mengaku kebanjiran pesanan selama bulan suci.
Permintaan servis bedug datang dari berbagai daerah dengan ukuran yang beragam.
’’Biasanya yang rusak kulitnya, robek karena sudah lama dipakai, jadi minta diganti,’’ kata Mbah Jo.
Dia menyebut permintaan perbaikan bedug meningkat menjelang Ramadan.
Jika pada bulan biasa hanya satu hingga dua pesanan, menjelang Ramadan bisa mencapai empat bedug.
Saat ini dia sedang mengerjakan dua pesanan perbaikan.
Proses perbaikan satu bedug membutuhkan waktu sekitar empat hingga sepuluh hari.
Dalam pengerjaannya, Mbah Jo dibantu oleh anaknya.
Kulit sapi yang telah diolah terlebih dahulu dibiarkan setengah kering.
Selanjutnya kulit tersebut ditarik menutupi kerangka bedug yang terbuat dari kayu.
Setiap sisi kemudian dipantek menggunakan paku kayu.
Satu bedug sedikitnya membutuhkan sekitar 80 pantek kayu agar kulit tertarik kuat.
’’Kalau tarikannya kurang nanti suaranya jelek, harus perlahan-lahan,’’ jelasnya.
Puluhan tahun Mbah Jo menggantungkan hidup dari jasa servis bedug.
Dia belajar secara otodidak saat memperbaiki bedug musala di desanya pada 2008.
Seiring waktu, pesanan terus berdatangan.
Untuk perbaikan bedug dengan penggantian kulit secara penuh, Mbah Jo mematok tarif sekitar Rp 2,3 juta.
Namun ada juga perbaikan ringan seperti mengganti satu sisi kulit atau pantek kayu.
’’Kalau itu lebih murah dan prosesnya lebih cepat,’’ pungkasnya. (gen/kid)
Editor : Hengky Ristanto