Kamis, 23 May 2019
radarmadiun
icon featured
Features
Lima Bersaudara yang Terlahir Tuna Netra

Tetap Bahagia Asal Selalu Bersama, Menghibur Diri dengan Alunan Saron

31 Juli 2017, 14: 00: 03 WIB | editor : Budhi Prasetya

(Dari kiri ke kanan) Tukiem, Sajimin, Sainem, Tukijah, dan Tukinah.

(Dari kiri ke kanan) Tukiem, Sajimin, Sainem, Tukijah, dan Tukinah. (Muhammad Budi/Radar Madiun)

Lima bersaudara Tukiem, Sajimin, Sainem, Tukijah, dan Tukinah, terlahir dengan kondisi kurang sempurna. Indera penglihatan mereka tidak berfungsi normal. Tukiem dan keempat adiknya tetap bisa beraktivitas. Termasuk, menikmati hiburan di televisi. 

MIZAN AHSANI, PACITAN 

NARASI berita terakhir yang dibacakan presenter salah satu stasiun televisi mengakhiri kebersamaan Tukiem dan empat sudara kandungnya. 

Mendengarkan siaran televisi  jadi sarana hiburan sehari - hari bagi Tukiem dan keempat adiknya yang tuna netra.

Mendengarkan siaran televisi  jadi sarana hiburan sehari - hari bagi Tukiem dan keempat adiknya yang tuna netra. (Muhammad Budi/Radar Madiun)

Warga Desa Bodag, Kecamatan Ngadirojo, Pacitan, itu memang selalu mendengarkan siaran televisi bersama keempat adiknya. 

Saat ini, kelima penderita tuna netra sedari lahir itu tinggal serumah. Mereka kompak kembali beraktivitas biasa seusai siaran berita berakhir. 

‘’Saya terlahir dengan kondisi seperti ini (tuna netra),’’ ujar Tukiem kepada Jawa Pos Radar Pacitan.

Selain Tukiem, empat orang adiknya Sajimin, Sainem, Tukijah, dan Tukinah juga tidak pernah mengetahui seperti apa rupa dunia. Berbeda dengan Saimun (adik Tukinem sebelum si bungsu Tukinah). 

Dia terlahir dengan penglihatan normal. Namun sayang, Saimun sudah meninggal di usia muda. Beberapa tahun lalu, Tukinem, menyusul Saimun. 

‘’Sekarang tinggal berlima. Kami semua tidak bisa melihat. Tetapi, tetap bisa beraktivitas sehari-hari,’’ katanya.

Tukiem dan keempat adiknya menghabiskan hari dengan kebersamaan. Mulai dari memasak, mencuci pakaian, sampai menikmati siaran berita. 

Mereka tidak pernah jauh dari rumah. Paling jauh, hanya berkunjung ke rumah kerabat yang masih satu dusun. Itu pun, ditemani sang kerabat. 

‘’Paling sering ya hanya di rumah. Tidak berani jauh-jauh,’’ terangnya.

Tukiem sudah berusia 90 tahun. Keempat adiknya juga sama-sama lansia, di atas 75 tahun. Faktor usia yang menapak senja dan menyandang disabilitas membuat mereka tidak bisa berbuat banyak. 

Kendati berniat tidak ingin menggantungkan hidup pada bantuan orang lain, toh mereka tetap memerlukan bantuan orang lain. Kebutuhan hidup sehari-hari Tukiem dari bantuan kerabat dan tetangga. 

‘’Beberapa kali sempat dikasih bantuan dari desa. Kalau untuk bekerja, kami sudah tidak kuat,’’ katanya.

Tukiem menceritakan, kedua orang tuanya awalnya tidak mengalami gangguan penglihatan. Entah apa penyebabnya, tiba - tiba saja kedua orang tuanya tak lagi bisa melihat. Pun kejadian itu dialami Tukiem juga empat adiknya. 

‘’Awalnya ibu bilang pernah mimpi matanya tertup kabut, saat hamil saya. Setelah itu bapak buta, Kemudian saya dan adik-adik terlahir buta. Ibu juga kemudian mengalami kebutaan,’’ terangnya.

Selain televisi, hiburan lainnya bagi keluarga Tukiem adalah radio. Khusus Sajimin, dia juga menyukai alat musik yang bisa menghasilkan bunyi-bunyian. 

Dia paling suka saron. Instrumen khas Jawa itu kerap dia mainkan di waktu senggang. Sayangnya, kini Sajimin tak lagi bisa memainkannya. 

Ini setelah saron yang jadi sarananya menghibur diri bersama saudaranya itu rusak. Dia berharap mendapat saron baru sebagai hiburan di rumah. 

‘’Ya seperti ini hiburan bagi kami (memainkan saron),’’ ujarnya. ***

(mn/naz/sib/JPR)

 TOP
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia