Selasa, 26 Mar 2019
radarmadiun
icon featured
Ponorogo

BPCB Temukan Data Akrkeologi di Situs Sendang Beji 

30 Agustus 2017, 19: 19: 41 WIB | editor : Budhi Prasetya

Petugas tim BPCB Trowulan mengukur detail area kolam di Sendang Beji, Bendo, Karangpatihan.

Petugas tim BPCB Trowulan mengukur detail area kolam di Sendang Beji, Bendo, Karangpatihan. (Latiful Habibi/Radar Ponorogo)

PONOROGO – Warga Kabupaten Ponorogo bakal punya situs bersejarah baru. Ini setelah terbukanya kemungkinan pemugaran situs Sendang Beji di Dusun Bendo, Karangpatihan, Balong. 

Tim Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan, Mojokerto berhasil menemukan sekitar 80 persen data arkeologi. Itu setelah mereka melakukan ekskavasi pada situs yang diyakini peninggalan zaman kerajaan Majapahit tersebut. 

‘’Untuk pengajuan pemugaran, minimal harus ada sekitar 75 persen data arkeolgi yang tersisa dari sebuah situs,’’ kata Wicaksono Dwi Nugroho, arkeolog BPCB Trowulan,  Selasa (29/8).

Tapi, kata ketua tim ekskavasi itu, untuk proses pemugaran harus melalui beberapa tahapan. Menurutnya, tahap ekskavasi ini hanya sebatas pengumpulan data arkeologi. Setelah itu akan dilakukan studi kelayakan. 

Pihaknya akan menghitung berapa persen situs tersebut bisa direkonstruksi. Jika melebihi 75 persen, situs tersebut layak dilakukan pemugaran. Temuan data arkeologi ketika proses ekskavasi juga mempengaruhi layak tidaknya situs dipugar. 

‘’Kemungkinan baru tahun depan (studi kelayakan, Red),’’ jelasnya.

Jika dinyatakan layak, tidak serta merta bisa dipugar. Perlu berkoordinasi dengan bagian perencanaan untuk studi teknis. Dalam tahap terebut, bagian perencanaan akan membuat detail engineering design. 

Sekaligus akan dihitung berapa biaya yang dibutuhkan untuk pemugaran. Baru hasilnya dikoordinasikan dengan pemkab setempat. 

‘’Sebenarnya layak atau tidak pun tetap harus dikoordinasikan dengan pemkab,’’ jelasnya.

Ditambahkan, cepat lambatnya proses pemugaran juga tergantung pemkab. Karena pihaknya hanya melakukan kajian dan pelaksanaan. Sedangkan untuk pembiayaan menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. 

Namun, jika pemkab menyerahkan sepenuhnya kepada BPCB, tidak masalah. Tapi dipastikan proses pemugaran akan sangat lama. 

‘’Karena ada ratusan atau bahkan ribuan situs yang diajukan untuk dipugar. Pasti akan ada skala prioritas,’’ tegasnya.

Sebenarnya, lanjut Ucoy -sapaan Wicaksono Dwi Nugroho- situs tersebut bisa dimanfaatkan pemkab maupun pemerintah desa. Salah satunya sebagai tempat wisata sejarah. 

Dengan catatan, pengelola berkoordinasi dulu dengan BPCB Trowulan. Dan, BPCB akan mempelajari desain dan konsep wisatanya. Itu diperlukan agar tidak berdampak pada rusaknya situs. 

‘’Prinsipnya kami tidak melarang. Tapi harus ada koordinasi lebih dulu,’’ tegasnya.

Sementara itu, dari hasil ekskavasi hari terakhir kemarin, diketahui lebih jelas data arkeologi situs tersebut. Sendang Beji memiliki luas sekitar 16 x 16 meter (64 kotak gali arkeologi). 

Di dalam situs tersebut terdapat kolam dengan luas bersih 12,5 x 12,5 meter. Ketebalan dinging sekitar tiga meter serta ketinggiannya 2,32 meter. 

Di sebelah barat daya kolam tersebut terdapat dua bilik berukuran 5,4 x 5,4 meter. Di kolam tersebut juga terdapat bangunan baru. Diperkirakan hasil rehab pada zaman Belanda. 

‘’Bangunan itu kemungkinan akan kami hilangkan, agar bangunan situs utuh,’’ sebutnya.

Situs Sendang Beji menghadap ke timur laut. Di bagian depan terdapat dua arca. Yang satu teridentifikasi Arca Dwarapala dan satunya belum jelas. Diperkirakan ada sebuah tangga masuk yang berada persis di depan pintu masuknya. 

Di sisi tenggara terdapat miniatur lumbung. Sekitar 24 meter arah barat daya situs, juga terdapat sebuah pancuran air yang berfungsi mengisi air kolam. Temuan lainnya adalah koin zaman kerajaan dan koin zaman penjajahan. 

Pun, ditemukan beberapa pecahan gerabah. Termasuk, potongan keramik yang diduga peninggalan zaman kejaraan. 

Kepala Desa Balong, Eko Mulyadi mengungkapkan, pihaknya berencana mengelola situs tersebut sebagai wisata desa. Kebetulan lokasi situs tersebut berada di tanah kas desa. Tapi, rencana itu belum dikoordinasikan dengan pihak-pihak terkait. 

Dia berharap bisa secepatnya mengajukan desain wisata di kawasan situs itu. Selain menonjolkan situs, area di sekitarnya akan disulap menjadi ruang terbuka hijau (RTH). 

(mn/tif/sib/JPR)

 TOP
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia