Kamis, 18 Oct 2018
radarmadiun
 
icon-featured
Mejayan

Pastikan Penyebab Evaporator Meledak, Polisi Butuh Bantuan Saksi Ahli

Jumat, 08 Sep 2017 17:28 | editor : Budhi Prasetya

Anggota polisi terlihat berjaga di sekitar mesin evoporator PG Pagotan yang meledak pada bulan Juli lalu. 

Anggota polisi terlihat berjaga di sekitar mesin evoporator PG Pagotan yang meledak pada bulan Juli lalu.  (Dok/Radar Madiun)

MEJAYAN – Penyebab pasti ledakan maut dari mesin evaporator di Pabrik Gula (PG) Pagotan 21 Juli silam masih menjadi misteri. Hingga kini polisi belum dapat menarik kesimpulan penyelidikan atas insiden yang berlangsung sekitar pukul 21.00 tersebut. 

Kasat Reskrim Polres Madiun AKP Hanif Fatih Wicaksono mengaku sudah menerima hasil penelitian dari tim Labfor Polda Jatim. Namun, berkas yang sudah diterima itu masih disimpan rapat. 

Lantaran belum dapat ditarik kesimpulan penyebab pasti insiden yang melukai tiga pekerja tersebut. ‘’Kami perlu mendatangkan saksi ahli terlebih dulu,’’ tuturnya.

Menurut Hanif, pihaknya bakal memeriksa ahli permesinan dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Keterangan dari saksi ahli itulah yang nantinya bakal menjadi penerangan atas hasil penelitian yang dilakukan tim Labfor Polda Jatim. 

Sehingga bisa diketahui penyebab pasti mesin evaporator tersebut meledak. ‘’Hanya tinggal memeriksa saksi ahli. Karena kami juga sudah menggelar olah tempat kejadian perkara (TKP) bersama tim labfor waktu itu,’’ ungkapnya.

Sehari pasca kejadian, Tim Labfor Polda Jatim yang dipimpin AKBP Sudi Haryono itu membawa serta air nira sebanyak satu botol minuman mineral ukuran tanggung. 

Air kimiawi itu diteliti guna mengetahui kandungan bahan kimia yang terdapat di dalamnya. Sehingga membuat pengelasan pada lempengan besi panci penguapan tersebut menjadi korosif dan melemah. 

Diketahui, mesin evaporator yang meledak itu melukai tiga pekerja yang tengah berada di sekitar mesin. Ketiga korban sempat dibawa ke RSUD Dolopo untuk menjalani perawatan.

Namun, lantaran luka yang diderita cukup parah, akhirnya dirujuk ke RSUD Soedono. Pun,  tim medis rumah sakit milik pemprov itu tidak dapat berbuat banyak. Sehingga harus dirujuk ke RS Lavalette Malang. 

Dua korban meninggal setelah menjalani perawatan intensif selama 10 hari, akibat luka bakar yang diderita cukup parah. 

(mn/bel/sib/sib/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia