Senin, 20 May 2019
radarmadiun
icon featured
Features
Duta Lalu Lintas Jatim

Juri Kepincut Program Gas Pas Ijo-Rem Pas Kuning Bagus dan Tari

18 September 2017, 11: 06: 25 WIB | editor : Budhi Prasetya

Bagus dan Tari ingin memberikan contoh positif seputar keselamatan berlalu-lintas di kalangan remaja.

Bagus dan Tari ingin memberikan contoh positif seputar keselamatan berlalu-lintas di kalangan remaja. (Ist/Radar Madiun)

Bagus Haria Hadi dan Rizky Dwi Antari masih tak percaya selempang Duta Lalu Lintas Jawa Timur tersemat di pundak. Ekspresi kegembiraan keduanya terpancar pascaberhasil meraih Juara III. Perjuangan tidak mudah dilalui saat berkompetisi dengan 39 pasang pemuda unggulan dari seluruh daerah di Jawa Timur.

DANAR CRISTANTO, Madiun

SEMRINGAH wajah Bagus Haria Hadi dan Rizky Dwi Antari masih terlihat jelas. Keduanya tak menyangka bakal dipilih Polres Madiun untuk mewakili kompetisi di Balai Diklat Surabaya, 28 Agustus lalu.

Maklum, keduanya tak merasa berhak dipilih lantaran bukan wakil 1 dari Paguyuban Kangmas dan Nimas Kabupaten Madiun. Namun, pihak Polres meminta paguyuban menyeleksi ulang sebelum mengirim perwakilan di tingkat provinsi.

‘’Takdir berkata lain,’’ ungkap Antari.

Ingin menjadi contoh positif bagi orang lain menjadi motivasi utama menerima kepercayaan tersebut. Keduanya memang ingin menjadi pelopor keselamatan berlalu lintas, khususnya kalangan remaja di Jawa Timur.

Sekaligus membantu kepolisian menyosialisasikan pengurangan angka kecelakaan lalu lintas. ‘’Sekecil apa pun yang kami lakukan, pasti berdampak baik di kemudian hari,’’ timpal Bagus.

Antari sendiri mengaku tergerak menjadi duta karena ingin menertibkan lalu lintas di daerahnya. Gadis 22 tahun itu pun sempat membuat karya tulis ilmiah (KTI) berjudul Penerapan Program Gas Pas Ijo-Rem Pas Kuning sebagai etika keselamatan berlalu lintas di Kecamatan Mejayan.

Setelah terpilih, keduanya dituntut merealisasikan KTI menjadi program nyata. Seiring pelatihan lanjutan di Polda Jatim bulan ini.

‘’Kepedulian dan dukungan dari warga sekitar turut memotivasi kami mengikuti kompetisi ini,’’ jelasnya.

Persiapan mental menjadi fondasi lantaran harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Kemudian persiapan administrasi seperti kelengkapan surat-surat.

Kostum juga perlu disiapkan lantaran bakal tampil di depan banyak orang dan pejabat. Materi yang disampaikan di hadapan dewan juri pun tak boleh asal-asalan.

‘’Jadi, banyak yang harus kami siapkan sedari awal,’’ ujarnya.

Banyaknya pertemuan dengan orang baru selama karantina menjadi pengalaman berharga. Sekaligus menepis anggapan tentang kepolisian yang tersemat di benak mereka.

‘’Setelah intens berkomunikasi dengan panitia yang notabene polisi, kami jadi berani. Terus terang, awalnya kami takut kalau bertemu polisi,’’ akunya. ***

(mn/sib/sib/JPR)

 TOP
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia