Kamis, 23 May 2019
radarmadiun
icon featured
Features
Khazanah Nusantara

Tumbuh dari Keluarga Pencinta Pusaka, Siap Tularkan Keterampilan 

29 September 2017, 21: 46: 14 WIB | editor : Budhi Prasetya

keris pusaka

Koko dipercaya merawat pusaka koleksi Pemkab Madiun sejak 2007 silam (R.Bagus Rahadi/Radar Madiun)

SUNARKO DIPROJO menganggap pusaka seperti anak sendiri. Di tangan abdi dalem Keraton Surakarta ini, pusaka senantiasa diberi perlakuan istimewa. Kecintaannya terhadap khazanah budaya nusantara ini membuat dirinya dipercaya menjaga koleksi pusaka di Pendapa Muda Graha Kabupaten Madiun.

DANAR CRISTANTO, Madiun

TUGAS mengampu pusaka milik Pemkab Madiun telah diemban pria bergelar Mas Ngabehi ini sejak 2007 silam. Namun tak sedikit pun dia merasa jengah dengan tugas yang telah diemban sepuluh tahun terakhir. 

Kecintaannya tumbuh berkat pengaruh keluarga yang merupakan pencuci pusaka. Sedari kecil, Koko—sapaannya, kerap diminta mengeluarkan pusaka dari ruangan galeri milik ayahnya. 

Rasa penasaran timbul ketika ayahnya melakukan kegiatan jamasan pusaka. Setelah intens mengamati, lambat laun Koko tergerak menjamas bersama sang ayah. 

‘’Saya juga menambah pengetahuan dari buku panduan,’’ katanya.

Pria 67 tahun ini tak hanya setia menjamas pusaka, tapi juga mengoleksinya. Tak kurang dari 40 pusaka tersimpan di rumahnya Jalan Sumber Urip 15, RT 3 RW 9, Jiwan. Beberapa dilepas karena diminati kolektor pusaka. 

‘’Beberapa koleksi juga saya bagikan ke saudara dan kolega sebagai oleh-oleh,’’ ungkapnya.

Koko sering diminta mencuci pusaka milik kerabat dan kolega. Mencuci pusaka memang tidak boleh dilakukan sembarangan orang. 

Dalam momentum Suro pun hanya ada enam hari yang dikhususkan untuk mencuci pusaka. Hari yang terbatas itu diyakini bagus menurut kalender Jawa. 

‘’Tak boleh sembarangan, ada waktunya sendiri,’’ tegasnya.

Pelanggan yang biasa menggunakan jasa Koko tak hanya dari dalam kabupaten saja. Pernah ada yang berasal dari Purworejo, Jateng. 

Dia pun tak keberatan jemput bola ke rumah pelanggan jika keris yang diminta lebih dari 10 buah. Paling banyak Koko pernah mencuci 70 keris milik pelanggannya. 

‘’Saya selalu siap jika diminta mencuci pusaka. Tapi waktunya saya yang menentukan karena tak bisa sembarangan,’’ terangnya.

Mencuci pusaka bukan tanpa risiko. Tangan Koko pernah berdarah karena salah memegang. Kebanyakan pusaka memang senjata tajam karena sejatinya digunakan untuk berperang di masa lampau. 

Belum lagi risiko rusak ketika proses pencucian. Koko meyakini setiap pusaka memiliki efek supranatural yang mampu mengubah kepribadian pemiliknya. Jika tak mawas diri, faktor itu bisa mengancam keselamatannya. 

‘’Saya harus ekstrahati-hati ketika mencuci,’’ ujarnya.

Pergeseran zaman membuat ritual mencuci pusaka tidak begitu dilirik masyarakat. Koko sebenarnya sering mempromosikan kemahirannya mencuci pusaka di pameran, namun jarang peminat. 

Meski begitu, dia selalu siap untuk menularkan ilmu dan pengalamannya secara cuma-cuma pada generasi muda. Sebagai gantinya, Koko mendidik putranya agar kelak bisa meneruskan keterampilan temurun warisan keluarga tersebut. 

‘’Sayang jika hilang begitu saja,’’ ucapnya. ***

(mn/sib/sib/JPR)

 TOP
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia