Senin, 27 May 2019
radarmadiun
icon featured
Features
Aksi Hebat Penyandang Disabilitas

Pantang Tengadahkan Telapak Tangan, Pilih Jadi Relawan Lalu Lintas

01 Oktober 2017, 17: 00: 59 WIB | editor : Budhi Prasetya

Superhero Tunawicara

Tiga sekawan tunawicara yang sukarela mengurai kemacetan di Pertigaan Wuni-Kemiri  (Bagas Bimantara/Radar Madiun)

Kerelaan ditunjukkan tiga penyandang tunawicara yang membantu mengatur lalu lintas di pertigaan Jalan Wuni dan Jalan Kemiri. Mereka membagi tugas secara sif mulai pukul 06.00 hingga 20.30 Wib. Lebih baik menjadi sukarelawan pengatur lalu lintas ketimbang berkeliling menengadahkan tangan. Kendati rupiah yang didapat bergantung keikhlasan pengguna jalan.

DENI KURNIAWAN, Madiun

PERTEMUAN arus lalu lintas di tusuk sate antara Jalan Wuni dan Jalan Kemiri kerap memicu kemacetan. Kendaraan yang lewat terpaksa berjalan merayap. 

Ada tiga sukarelawan yang biasa bahu-membahu mengurai keruwetan jalan itu. Mereka menerapkan buka dan tutup arus semampunya. 

Tanpa terdengar teriakan. Hanya bunyi peluit ditimpali isyarat tangan meminta pengguna jalan berhenti atau melaju. 

Orang kebanyakan bakal kesulitan mengajak komunikasi. Harap maklum, tiga sukarelawan pengatur lalu lintas (supeltas) itu memang terlahir kurang beruntung. Mereka menyandang tunawicara. 

‘’Punya keterbatasan kemampuan pendengaran dan bicaranya,’’ kata Hany Hendra.

Hany adalah pendamping tiga pria penyandang tunawicara yang giat mengatur lalu lintas di tusuk sate Jalan Wuni dan Jalan Kemiri itu. Peran tiga supeltas ini muncul tanpa sengaja. 

Tiga bulan lalu, Hany mendadak kedatangan tamu yang ingin membantu mengatur lalu lintas di pertigaan dekat rumahnya.  Komunikasi sedikit tersendat ketika Adytia Bagus Setiawan hendak mengutarakan maksudnya. 

‘’Beruntung dia pernah mengenyam pendidikan di SLB Wiyata Dharma Tulungagung, setara SMP,’’ terang Hany.

Merasa tidak kuasa memberi izin, Hany mencoba mencari informasi sana-sini. Dia menyilakan Adyt -sapaan Adytia Bagus Setiawan- menjadi supeltas atas kerelaannya sendiri. 

Pemandangan baru akhirnya muncul di tusuk sate Jalan Wuni dan Jalan Kemiri. Ada seorang pria mengenakan rompi secara sukarela mengatur lalu lintas. 

‘’Saya juga tidak keberatan rumah saya di dekat pertigaan dijadikan tempat istirahat,’’ ungkap Hany. 

Adyt ternyata sudah tidak asing dengan hiruk pikuk jalanan. Penyandang tunawicara yang beralamat di Dusun Satreyan, Desa Gading, Kecamatan Balerejo, Kabupaten Madiun, itu selama empat tahun menjadi juru parkir di penggal Jalan Cokroaminoto. 

‘’Lihat pertigaan sini (Jalan Wuni-Jalan Kemiri, Red) ramai, saya ingin membantu pengguna jalan,’’ ujar Adyt lewat gerak mulut dengan bantuan terjemahan dari Hany.  

Dia ingat betul kapan kali pertama menjadi supeltas. Yakni, 12 Juli 2017. Adyt hanya bermodal insting saat memutuskan arus dari arah mana yang harus didahulukan. 

Antara timur, selatan, dan barat secara berkala dan bergantian. Peluit ditiupnya sembari tangannya menyodorkan papan bundar bertulisan “stop” untuk menghentikan laju kendaraan dari dua arah sekaligus. 

‘’Kalau kepanasan, saya istirahat sebentar sambil minum air putih di dekat pertigaan,’’ terangnya. 

Berkat jasanya, banyak pengguna jalan merasa terbantu. Mulai pengendara, pengemudi, hingga pejalan kaki. Sebagian dari mereka memberikan uang jasa seikhlasnya.

 Adyt tidak memungkiri harus berpenghasilan untuk menghidupi istri dan seorang anak. Pun, sang istri rupanya juga sesama penderita tunawicara. 

‘’Anak saya normal, perempuan, sekarang kelas satu SD,’’ ungkap pria 27 tahun itu. 

Selama sebulan Adyt sendirian mengatur lalu lintas di pertigaan itu. Sengatan terik matarahi, debu, dan asap kendaraan bermotor membuatnya cepat lelah. 

Dia lalu berinisiatif menghubungi temannya yang juga penyadang tunawicara untuk membantu. Adyt selama ini bisa berkomunikasi dengan tulisan kendati pola kalimat yang dibuat susah dimengerti. 

‘’Saya hubungi Diantoro asal Tulungagung,’’ sebut Adyt lewat chat.

Tidak berselang lama, Diantoro datang. Pria 31 tahun itu selama ini indekos di Jalan Merpati, Kelurahan Nambangan Lor, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun. Diantoro kurang percaya diri saat  pertama kali diajak mengatur lalu lintas. 

Berkat dorongan dari Adyt, akhirnya sesama tunawicara itu lancar-lancar saja meminta kendaraan jalan atau berhenti. 

‘’Sebelumnya kerja di peternakan ayam, ambil telur di Tulungagung. Lama juga jadi kernet di Semarang,’’ aku Diantoro.

Tidak disangka-sangka, Aji Wicaksono kebetulan lewat di tusuk sate Jalan Wuni dan Jalan Kemiri. Nama yang disebut terakhir ini juga memiliki keterbatasan komunikasi. Sesama penyandang tunawicara ternyata punya kepekaan. 

Cara Adyt dan Diantoro meniup peluit dan menyorongkan papan stop diamati benar oleh Aji. Mereka senasib dan sepenanggungan. ‘’Saya baru tiga hari bergabung,’’ aku Aji dengan bahasa isyarat. 

Tiga supeltas tunawicara itu sepakat membagi jam kerja. Jam kerja dimulai pukul 06.00 dan baru berakhir pukul 20.30 Wib. Bertugas secara bergantian. Rupiah yang masuk kantong adalah pemberian pengguna jalan. 

Nominalnya bervariasi, mulai dari koin Rp 200 hingga lembaran Rp 5 ribu. Mereka bersepahaman lebih baik menjadi supeltas dengan hasil yang tidak pasti ketimbang berkeliling menengadahkan tangan. Adyt, Diantoro, dan Aji bekerja dengan ikhlas. **** 

(mn/mg8/sib/JPR)

 TOP
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia