Rabu, 19 Dec 2018
radarmadiun
icon featured
Features
Kerajinan Kreatif

Sering Gunakan Uang Mainan untuk Hiasan Mahar Pernikahan

02 Oktober 2017, 17: 46: 20 WIB | editor : Budhi Prasetya

Rina Wahyuningsih dan Imam Mochtar, pasangan suami istri yang menekuni usaha hiasan mahar pernikahan.

Rina Wahyuningsih dan Imam Mochtar, pasangan suami istri yang menekuni usaha hiasan mahar pernikahan. (Muhammad Budi/Radar Pacitan )

Rina Wahyuningsih dan Imam Mochtar adalah salah satu pasangan suami-istri yang ulet. Berbekal keterampilan dan kreatif, mereka mampu meraup rupiah dari usaha kerajinan yang digeluti. Berawal dari coba - coba membuat keterampilan tangan dalam bentuk aksesori, mereka kini sukses berbisnis kotak seserahan dan hiasan mahar pernikahan.

HENGKY RISTANTO, Pacitan

HANYA mengenakan kaus oblong, tangan Imam Mochtar sangat terampil melipat uang mainan. Uang mainan tersebut kemudian ditata sedemikian rupa di sebuah kotak berfigura. Semua itu tidak dilakukan secara asal oleh Imam. Dia menatanya dengan cantik. 

‘’Bentuknya nanti seperti model wayang,’’ celetuk Rina Wahyuningsih, istri Imam.

Sambil membantu suaminya menghias mahar, Rina sedikit bercerita tentang usaha kreatif yang digelutinya tersebut. Dia mengungkapkan, hiasan mahar dapat disesuaikan dengan desain dan keinginan calon pengantin. 

Kalau ingin warna mencolok, dapat digunakan lembaran uang mainan. Warnanya lebih cerah. ‘’Tetapi, semuanya bergantung selera sih. Kalau pemesan maunya uang asli, juga tidak masalah,’’ ujarnya.

Ya, perempuan yang bekerja sebagai staf kantor Kelurahan Ploso itu mengaku, lebih mudah membuat hiasan mahar dengan menggunakan uang mainan. 

Selain praktis, uang mainan gampang didapat. Pun, uang mainan itu bisa dipotong sesuai kebutuhan. Berbeda bila pakai uang rupiah asli. 

‘’Selain dilarang dipotong, uang asli biasanya sulit untuk mendapatkannya. Harus pesan dulu untuk nominal tertentu. Padahal, biasanya pemesan itu memesannya dadakan. Dan, belum tentu uang asli yang diinginkan untuk hiasan mahar itu tersedia di bank,’’ jelas Rina.

Warga Lingkungan Krajan Lor, Kelurahan Ploso, Kecamatan Pacitan itu memperlihatkan bentuk-bentuk desain uang yang sering kali digunakan dalam mahar. 

Uang dapat digulung, lalu digabungkan menjadi satu dengan pita. Bisa juga dibentuk seperti bunga mawar. Desain-desain uang tersebut dikombinasikan dengan teknik decoupage.

Selain itu, menurut Rina, uang kertas lebih diminati dan cocok sebagai bahan mahar bila dibandingkan dengan uang koin. 

‘’Uang koin biasanya digunakan untuk pengingat tanggal pernikahan,’’ kata ibu dua anak tersebut. 

Misalnya tanggal pernikahan 20 Januari 2016. Dengan begitu, uang yang digunakan Rp 2.012.016. Satuan sebagai pelengkap jumlah tersebut barulah menggunakan uang koin.

Perempuan kelahiran 22 Februari 1987 itu mengaku jika bisnis hiasan mahar pernikahan yang digeluti bersama suaminya itu sudah dirintis sejak bulan Oktober 2015. Bermula ketika dirinya mengikuti pelatihan atau workshop. 

Rina kemudian tertarik untuk terjun dalam bisnis tersebut. Hasilnya, cukup memuaskan. Orderan mengalir deras. Terutama pada saat hari-hari besar. Karena pada hari itu merupakan musim orang menikah. 

‘’Setiap hiasan mahar harganya bervariasi. Tergantung tingkat kesulitan. Paling sederhana biasanya Rp 150 ribu. Serta, paling mahal Rp 1,3 juta,’’ terang Rina. *** 

(mn/her/sib/JPR)

 TOP
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia