Jumat, 24 May 2019
radarmadiun
icon featured
Pacitan

Harga Naik, Petani Cabai Pacitan Justru Merugi

08 Oktober 2017, 22: 46: 59 WIB | editor : Budhi Prasetya

harga cabai

Banyak cabai merah mati kering akibat terserang penyakit kuning dan patek.  (Muhammad Budi/Radar Pacitan)

ARJOSARI – Apes. Begitulah nasib sebagian petani cabai di Kabupaten Pacitan. Tingginya harga cabai di pasaran tak bisa turut mendongkrak isi dompet mereka. 

Alih - alih memeraup untung, petani cabai justru buntung. Bahkan, mereka harus menelan kerugian hingga puluhan juta. Ini lantaran hasil panen anjlok hingga 50 persen akibat musim kemarau saat ini. 

Banyak tanaman cabai merah mati kering karena terserang penyakit kuning dan patek. Seperti yang dirasakan Katibi. Petani cabai asal Desa Gunungsari, Kecamatan Arjosari, Pacitan. 

Dirinya mengeluh jika hasil panennya jauh dari harapan. Katibi mengaku jika hasil panen tanaman cabainya turun sebanyak 5 ton. 

‘’Lahan saya ini biasanya mampu menghasilkan 8 ton cabai sekali panen. Tapi, cuaca kemarau ini membuat yang bisa dipanen tinggal 3 ton,’’ ungkapnya, Selasa (3/10).

Dia dan kelompok tani lain sedesanya hanya bisa pasrah. Luas lahan 6 hektare yang seharusnya menghasilkan cabai melimpah malah justru banyak yang kering dan membusuk. 

Alhasil, dirinya dan petani cabai lain tak menikmati untung dari harga di pasaran yang kini tembus Rp 50 ribu per kilogram. Petani menjual cabai hasil panen hanya seharga Rp 25—30 ribu per kilogram. 

‘’Kami jualnya ya ke pengepul, sekaligus mengandalkan pinjaman pada mereka agar bisa tanam kembali,’’ paparnya.

(mn/her/sib/sib/JPR)

 TOP
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia