Minggu, 26 May 2019
radarmadiun
icon featured
Mejayan

Kejayaan Pasar Unggas Hanya Bertahan Empat Tahun

10 Oktober 2017, 11: 21: 22 WIB | editor : Budhi Prasetya

pasar burung

Pasar Unggas dan Kerajinan Dolopo butuh perhatian lintas OPD  (Bagas Bimantara/Radar Madiun)

DOLOPO – Suara kicauan burung terdengar saling bersahutan di Pasar Unggas dan Kerajinan Dolopo. Para pehobi burung kicau terlihat saling memberikan instruksi kepada burung-burung piaraannya. 

Sekilas pasar itu terlihat hidup dengan keramaian pengunjung pasar. Namun, selepas matahari terbenam, tak lagi terlihat aktivitas di pasar tepian Jalan Raya Madiun-Ponorogo itu. 

‘’Ramainya saat sore saja,’’ kata Edi, salah seorang warga. 

Pun saat hari terang, tak banyak aktivitas yang dapat dijumpai di pasar tersebut. Tak banyak pembeli yang lalu lalang. Sejumlah kios terlihat tutup sepanjang hari. 

Berada di tempat strategis ternyata tak menjamin pasar tradisional itu ramai dikunjungi pembeli. Kondisinya kumuh dan tak terawat. 

‘’Hanya beberapa yang mampir ke sini. Itu pun membawa burung untuk lomba saja,’’ imbuhnya.

Sejak dibangun 15 tahun silam, pasar memang sempat ramai saat pertama kali berdiri. Namun, hanya empat tahun waktu yang dimiliki pedagang untuk merasakan kejayaan pasar unggas tersebut. Selepas itu, mereka mulai meninggalkan kios dan lapak. 

‘’Karena sepi pembeli, pedagang memilih pergi,’’ ungkap Suratin, salah seorang pedagang. 

Bukan hanya kios dan lapak yang sepi. Subterminal penumpang yang diharapkan bisa sebagai akses pintu masuk kendaraan besar menuju pasar juga sudah lumpuh. 

Pasar yang sejatinya difungsikan untuk merangkap kinerja Pasar Dolopo itu tak ubahnya bangunan tua tak berpenghuni. 

‘’Dulu memang sempat ramai, tapi sebentar,’’ imbuhnya.

Kabid Pengelolaan Pasar Dinas Perdagangan Koperasi dan Usaha Mikro (Dinperdakop dan UM) Kabupaten Madiun Budi Muratno menyatakan, Pasar Unggas dan Kerajinan Dolopo memang ramai pada saat-saat tertentu. 

Yakni, pada hari pasaran. Sebab, lazimnya pasar hewan memang beroperasi di hari pasaran. Wajar jika tidak setiap hari terdapat aktivitas jual beli. 

‘’Sepinya bukan karena ditinggal pedagangnya,’’ jelasnya.

Budi tak menampik jika denyut pasar unggas itu kian melemah. Pihaknya sengaja tidak menarik tarif retribusi terhadap para pedagang yang menempati kios di sana. Jika tetap ditarik justru memberatkan pedagang yang masih bertahan. 

‘’Pasar perlu direvitalisasi,’’ tegasnya.

Budi berencana membongkar tembok pemisah antara pasar unggas dan pasar hewan. Sehingga pengunjung tidak perlu memutar untuk masuk ke sisi pasar satu ke sisi lainnya. 

Juga, pagar depan perlu dibongkar agar kendaraan besar bisa transit di dalam pasar. Tak disangka, wacana itu cukup mendapat respons positif dari para pedagang. 

‘’Kami sudah berkoordinasi dengan pedagang. Mereka setuju,’’ ungkapnya.

Sejatinya, pengelolaan pasar bukan hanya tanggungan dinperdakop dan UM. Dinas perhubungan (dishub) yang memiliki kewenangan mengelola subterminal penumpang juga ikut berperan. 

Juga, dinas pertanian dan perikanan (disperta) yang memiliki kewenangan untuk mengelola pasar ikan yang terletak di sudut pasar. Sejak pertama dibangun, pasar ikan itu belum pernah difungsikan. 

‘’Jika ingin menghidupkan kembali pasar ini, harus ada kerja sama antar-OPD (organisasi perangkat daerah),’’ pungkasnya. 

(mn/bel/sib/JPR)

 TOP
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia