Senin, 27 May 2019
radarmadiun
icon featured
Features
Siswa Berprestasi

Guntur Cendekia Isna Putra, Juara Nembang Macapat 

10 Oktober 2017, 18: 56: 41 WIB | editor : Budhi Prasetya

grebeg suro

Guntur Cendekia Isna Putra memenangkan Lomba Nembang Macapat yang dihelat bersamaan peringatan Hari Jadi Ponorogo dan Grebeg Suro 2017. (Asta Yanuar/Radar Ponorogo)

Belum pernah menyanyikan tembang Jawa, Guntur Cendekia Isna Putra jadi juara. Dia belajar nembang hanya dua pekan jelang Lomba Nembang Macapat Hari Jadi Ponorogo dan Grebeg Suro 2017. Padahal dia terbiasa dengan musik pop dan reggae.

DENI KURNIAWAN, Ponorogo

INDERA penglihatan dan pendengaran dimanjakan alunan musik budaya khas Jawa kala itu. Seorang remaja tengah fokus melantunkan tembang macapat di atas panggung. 

Mengenakan blangkon dan beskap berkelir merah muda, cengkok khas tembang Jawa mengalun merdu. Kain batik yang membalut tubuh bagian bawahnya menambah kesan budaya tradisional. 

Guntur Cendekia Isna Putra adalah peserta putra lomba nembang macapat. ‘’Menyanyikan dua tembang macapat. Macapat wajib Asmarandana, satunya lagi saya pilih Pangkur,’’ kata Guntur.

Remaja yang beralamat di Jalan Imam Bonjol, Kelurahan Kauman, Kecamatan/Kabupaten Ponorogo itu menjadi juara I putra dalam lomba tersebut. Dia berhak menjadi pemilik piala setinggi 50 sentimeter berbahan kaca. 

Pun, namanya tersemat di bagian bawah piala. Girang bukan kepalang bercampur rasa tidak percaya menyergapnya kala itu. Guntur mengaku belajar nembang macapat hanya dalam waktu dua pekan. 

‘’Mendadak ditunjuk guru untuk ikut lomba,’’ ujarnya.

Bakat olah vokal tampaknya sudah melekat pada pelajar kelas IX SMPN 2 Ponorogo ini. Bagaimana tidak, cengkok khas tembang macapat mampu dikuasainya dalam waktu yang tidak lama. 

Mempersiapkan diri menjelang lomba, Guntur berlatih tiap hari di sekolah. Mulai pukul 08.00 sampai 10.00 dia biasa mendapat kelas vokal dari guru keseniannya. 

‘’Selama dua minggu, kadang latihannya setelah jam istirahat sampai pulang sekolah,’’ jelasnya.

Guntur blak-blakan mengaku awam seputar tembang macapat. Sebelumnya dia hanya sebatas tahu, tanpa sempat mempelajari lebih dalam. 

Nada bercengkok khas budaya Jawa itu dia pelajari lebih dulu tanpa menghafal liriknya. Guntur memang sengaja begitu agar memudahkan proses belajar. 

Kiranya telah cukup menguasai, dia baru beralih menghafal larik demi larik yang termuat dalam tembang macapat. 

Anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Arif Susilo dan Pertiwi itu sulit menguasai bahasa dalam tembang macapat karena menggunakan basaha Jawa kuno. 

Meski demikian dua tembang macapat jenis Asmarandana dan Pangkur berhasil dikuasainya. Pun, mengantarkannya menjadi remaja pelantun macapat terbaik dari 27 peserta putra. 

‘’Asmarandana itu isinya tentang percintaan. Kalau Pangkur itu nasihat,’’ terangnya.

Remaja 14 tahun ini mengaku belum percaya jika dirinya menjuarai lomba nembang macapat. Raut muka keheranan itu bukan hanya karena latihan yang hanya dua pekan. 

Remaja ini lebih terbiasanya menyanyikan jenis lagu bergenre lain. Pop dan reggae lebih akrab di pita suaranya. 

‘’Saya sering main band dengan teman-teman, vokalis. Di sekolah juga ikut ekstrakurikuler grup band,’’ akunya.

Guntur lebih terbiasa berjingkrak dan berdendang bersama kelompoknya. Kendati demikian, dia mengaku suka dengan semua jenis musik, termasuk tembang Jawa. 

Guntur tidak bakal menggelengkan kepala jika ada tawaran untuk menjadi wiraswara. Namun, dia mesti belajar lebih giat lagi agar mengusai lebih banyak lagu-lagu tradisional Jawa. 

‘’Intinya saya suka nyanyi dan musik,’’ ucapnya.

Sesuatu yang digemari tentu tidak akan terasa berat saat menjalani. Begitu juga yang diyakini Guntur. 

Dia mengaku kerap lupa waktu saat bernyanyi bersama sebayanya. Dalam beberapa kesempatan, Guntur juga tidak canggung berkolaborasi dengan keluarganya. Dia biasa tampil bernyanyi diringi musik dari sejumlah saudaranya. 

‘’Mulai ayah, ibu, paman, suka dengan musik semua,’’ tuturnya.

Tumbuh dan berkembang di lingkungan pecinta musik, tampaknya membuat telinga Guntur akrab dengan berbagai nada. Tak heran jika dia tak begitu sulit menguasai tembang macapat yang mulanya belum dikenal sama sekali. 

‘’Mempelajari apa yang kita sukai itu rasanya seperti bermain,’’ ujar Guntur dilanjut tawa kecil.***

(mn/mg8/sib/JPR)

 TOP
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia