Senin, 20 May 2019
radarmadiun
icon featured
Features
Komunitas Penyayang Binatang

Tak Kapok Meski Pernah Digigit Ular Peliharaan 

17 Oktober 2017, 19: 30: 59 WIB | editor : Budhi Prasetya

Fajar Sotya (paling kanan, duduk) dan beberapa anggota PEAK berpose bersama binatang reptil piaraannya

Fajar Sotya (paling kanan, duduk) dan beberapa anggota PEAK berpose bersama binatang reptil piaraannya (Asta Yanuar/Radar Ponorogo)

Hobi memelihara binatang sudah biasa. Tapi jika binatangnya ular, iguana, biawak dan reptil lainnya mungkin tidak banyak. Itulah yang digeluti Fajar Setyo Aji Pamungkas dan anggotanya di Komunitas PEAK. 

LATIFUL HABIBI, Ponorogo

BEBERAPA kotak kayu berukuran agak besar diletakkan di dekat pagar bangunan berbentuk joglo. Kotak tersebut ada yang bertingkat dua. Kaca bening terpasang di salah satu sisi kotak. 

Kelihatannya sang pemilik kotak itu memang sengaja agar orang lain dapat melihat isi di dalamnya. Benar saja, beberapa ular berukuran lumayan besar melingkar di dalam kotak yang disusun rapi itu. 

Meski terlihat seram, namun stand tersebut yang paling banyak dikunjungi masyarakat, terutama anak-anak. 

‘’Jenisnya ada sanca kembang, piton dan juga boa,’’ kata Fajar Sotya Aji Pamungkas.

Fajar bersama teman-temannya yang tergabung dalam komunitas Ponorogo Exotic Animals Keeper (PEAK) memang ikut memeriahkan kegiatan Ponorogo Tempo Doeloe beberapa waktu lalu. 

Di sela kesibukannya, salah seorang pendiri komunitas PEAK itu menceritakan pengalamannya memelihara binatang reptil. Hingga akhirnya membentuk komunitas PEAK bersama temannya yang juga punya hobi sama. 

‘’Saya dari dulu suka binatang. Cuma kalau untuk jenis reptil mulai suka dan ikut memeliharanya sekitar tiga tahun lalu,’’ kenangnya.

Pemuda 29 tahun ini mulai menyukai binatang reptil saat tahu saudaranya memelihara ular. Dari ketertarikannya itu muncul keinginan ikut melakukan hal serupa. 

Apalagi menurut saudaranya, memelihara ular itu ternyata simpel alias tidak ribet. Lalu dia memutuskan ikut memelihara ular. Kala itu Fajar membeli seekor ular jenis sanca kembang dari Madiun dengan harga Rp 100 ribu. 

‘’Masih kecil, ya kalau umur sekitar baby up (di atas bayi ular) dengan ukuran sekitar sejempol kaki besarnya,’’ jelasnya.

Semakin lama Fajar pun semakin suka memelihara ular. Menurutnya, memelihara ular memang mudah. Tidak seribet memelihara hewan lain seperti kucing atau burung. 

Warga Jalan Zaenal Mustofa 13 Kelurahan Kauman, Ponorogo ini mengungkapkan, untuk ular seukuran baby up hanya perlu diberi makan sekali dalam sepekan. 

Dengan makanan kepala ayam potong yang bisa didapat dengan murah di pasar. Untuk ukuran ular kurang lebih dua meter, perlu lima kepala ayam dalam sepekan. 

‘’Kalau yang besar makannya ayam tiren. Biasanya dua minggu sekali ngasihnya. Sekali makan satu ekor,’’ paparnya.

Meski terlihat praktis dan mudah, lulusan STKIP PGRI Ponorogo itu menyebut memelihara ular juga butuh ketelatenan. Untuk ular hasil budidaya sendiri biasanya lebih mudah perawatannya. 

Beda dengan ular yang didapat dari hasil tangkapan masyarakat. Menurut Fajar, butuh perawatan ekstra untuk memeliharanya. 

Karena karakternya berbeda dengan ular hasil budidaya. Misalnya pola makannya, untuk ular hasil tangkapan biasanya sulit makan di hadapan orang. 

‘’Kalau salah penanganan juga bisa stres. Kalau sudah gitu, bisa mati,’’ jelasnya.

Selama menggeluti hobinya, bukan berarti Fajar tidak pernah mengalami kesulitan. Bungsu dari dua bersaudara ini tidak jarang digigit ular piaraannya. Tapi dia tidak pernah jera untuk tetap dekat dengan binatang tersebut. 

‘’Mungkin menurut orang awam, ular dan lainnya itu dianggap musuh karena bisa mencelakai. Tapi kalau sudah dekat seperti ini, bisa menjadi teman’’ ujarnya tersenyum.

Ketua Komunitas PEAK ini memiliki seekor ular sanca kembang dan dua ekor jenis boa. Selain ular, kini Fajar juga memelihara dua ekor iguana, dua ekor leopard gecko, seekor varanus (biawak) dan kucing persia. 

Saking sukanya pada binatang, Fajar mengajak temannya membentuk komunitas. Akhirnya Maret 2017 lalu terbentuklah Ponorogo Exotic Animals Keeper. 

‘’Tujuannya untuk wadah. Karena selama ini jarang ada komunitas yang menampung semua jenis binatang piaraan. Biasanya kalau ular ya ular semua dan seterusnya,’’ paparnya.

Selain itu, dengan komunitas bisa saling berbagi pengalaman. Karena dari jumlah anggota 28 orang tidak sama binatang piaraannya. 

Selain itu, melalui komunitas dia bersama temannya ingin mengedukasi masyarakat. Mereka prihatin karena banyak binatang terutama ular yang dikaitkan dengan mitos. Dan lebih sering dibunuh ketika atau diambil kulitnya. 

‘’Padahal kalau diperlakukan dengan baik, juga bisa bermanfaat bagi manusia,’’ ujarnya.***

(mn/tif/sib/JPR)

 TOP
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia