Rabu, 19 Jun 2019
radarmadiun
icon featured
Ponorogo

Masa Kejayaan Habis, Omzet Jutaan Tinggal Kenangan

17 Oktober 2017, 22: 00: 59 WIB | editor : Budhi Prasetya

reyog ponorogo

Suasana Pasar Legi Selatan atau Pasar Lanang yang sepi. Sebagian pedagang bahkan kini sudah tak lagi membuka lapaknya. (Asta Yanuar/Radar Ponorogo)

PONOROGO - Reyog langsung ada dibenak saat mendengar nama Ponorogo. Maklum, reyog kesenian tradisional yang sudah menjadi identitas  kabupaten dengan luas wilayah 1.371,78 kilometer persegi itu. 

Tiap kali ada pertunjukan reyog, masyarakat selalu tumpah-ruah. Meski demikian, ada noktah di balik kondangnya kearifan lokal asli Ponorogo itu. Salah satunya jika dilihat dari sudut pandang pedagang peranti maupun cenderamata yang berkaitan dengan reyog.

Kususiatin, 70, pedagang peranti reyog di Pasar Legi Selatan Ponorogo patut dilirik kondisinya. Perempuan yang sudah jauh dari kata muda itu menerawang, mengingat kenangan puluhan tahun silam. 

Sejumlah topeng bujangganong dan miniatur reyog yang tetap garang dipandanginya. Dia mengeluhkan kiosnya yang makin hari makin sepi pengunjung. 

‘’Saya berjualan sejak 1960. Meneruskan usaha orang tua,’’ tuturnya.

Kususiatin mengatakan, barang dagangannya dulu adalah konveksi. Kiosnya dulu dikenal lengkap menyediakan pakaian anak-anak. 

Seiring makin dikenalnya reyog di luar daerah, dia beralih berjualan pernak-pernik beraroma seni itu. Mulai dari reyog mini, topeng, bujangganong, seragam warok dan jathilan, sampai jaranan. 

‘’Sekarang sepi, sangat jauh dibandingkan dulu,’’ ungkapnya.

Baginya, naik turun jumlah pembeli itu sudah biasa bagi seorang pedagang. Namun, sepi kiosnya saat itu sudah tidak wajar lagi. 

Saat hari besar, dari yang sebelumnya dia bisa mendapatkan omzet belasan juta kini tidak ada separonya. Pun, begitu juga keadaan di hari-hari biasa, Malahan, kata Kususiatin, seharian ada pembeli juga pernah dialaminya. 

‘’Sudah banyak juga yang jualan seperti saya ini,’’ ucapnya.

Kususiatin paham dengan sejumlah pedagang lain yang meniagakan perlengkapan reyog maupun cenderamata khas di Ponorogo. Yakni pedagang di luar Pasar Legi Selatan. 

Munculnya persaingan perdagangan, lanjut Kasusiati, memang sudah bisa diprediksi. Pun, terjadi tidak hanya di Ponorogo. Dengan begitu, pembeli disediakan banyak pilihan. 

‘’Rezeki sudah ada yang ngatur,’’ pasrahnya.

Kendati turut memangkas jumlah pembeli, dia tidak semata-mata melihat dari sudut pandang itu saja. Kususiatin juga menyebut diubahnya Jalan Soekarno-Hatta menjadi satu arah menjadi salah satu penyebab pasar menjadi sepi, termasuk kios miliknya. 

‘’Pembeli dari luar daerah lebih tahu yang bejualan di alun-alun. Di sana lebih ramai,’’ ujar Kususiatin.

Ya, Jalan Soekarno-Hatta satu arah menjadi momok bagi Pasar Legi Selatan. Padahal, Kususiatin sempat berharap banyak saat tempatnya mencari nafkah direnovasi. 

Dikatakannya, seusai renovasi ada peningkatan pengunjung dia rasakan. Pasar menjadi lebih tertata dan enak dipandang. 

‘’Maklum pasar baru saat itu, lama-lama ya jadi biasa lagi. Tapi makin parah setelah ada kebijakan satu arah Jalan Soekarno-Hatta. Padahal lebar, tapi kok dibuat satu arah,’’ katanya dengan nada penuh heran. 

(mn/mg8/sib/sib/JPR)

 TOP
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia