Senin, 20 Aug 2018
radarmadiun
icon featured
Features
Remaja Berprestasi 

Anak Penjual Keripik Usus asal Kota Madiun Calon Doktor Termuda 

Senin, 06 Nov 2017 12:30 | editor : Budhi Prasetya

Rhesi Kristiana

Rhesi Kristiana calon doktor berusia muda asal Kota Madiun (Ist for Radar Madiun)

Biaya bukan halangan untuk mengenyam pendidikan tinggi. Rhesi Kristiana sudah membuktikannya. Usai merengkuh gelar sarjana, dia kembali berkesempatan mendapat beasiswa untuk program magister dan doktor. Bahkan, alumnus SMAN 2 Kota Madiun ini berhak melakukan risetnya di Prancis dan Belanda. 

DILA RAHMATIKA, Madiun 

PRESTASI beasis bakal menjadi catatan emas SMAN 2 Kota Madiun, alumninya. Di usia 25 tahun, dia sudah calon doktor. 

Warga Jalan Kemuning, Oro-Oro Ombo, Kecamatan Kartoharjo, itu menuntaskan kuliah di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Diponegoro (Undip), 2014 lalu. 

Setahun kemudian, dia  mendapat beasiswa program magister doktor sarjana unggulan (PMDSU) di universitas yang sama. 

‘’Penerima beasiswa wajib menuntaskan S-2 dan S-3 hanya dalam waktu empat tahun,’’ kata Rhesi. 

Dia kini sudah bertitel magister. Keberuntungan kembali berpihak ke Rhesi karena berkesempatan melakukan riset di Prancis dan Belanda. 

Rhesi selama satu semester akan riset bersama Profesor Nathalie Bourgougnon di Universite de Bretagne-Sud Laboratoire de Biotechnologie  et Chimie Marines, Perancis. 

‘’Kemenristek Dikti meminta saya menyusun publikasi international minimal satu,’’ jelas Rhesi.

Tidak berhenti di situ, Rhesti juga diundang Prof Gerard PALS Phd dari VU University Medical Center Belanda untuk riset lanjutan selama dua bulan. 

Disertasi Rhesi tak jauh-jauh dari spesifikasinya di urusan mikrobiologi. Dia hendak menguji bioaktif yang terkandung dalam senyawa mikrooganisme laut. 

‘’Risetnya di Prancis, kalau khusus di Belanda menguji apakah bioaktif  itu beracun atau tidak. Bisa digunakan untuk manusia atau tidak,’’ paparnya. 

Rhesi merasa beruntung diundang Prof Gerard. Berawal saat seminar pelatihan publikasi internasional di Undip hingga profesor asal Belanda itu  tertarik dengan tema riset tentang bioaktif itu. Bahkan, Gerard rela menemui Rhesi di laboratorium pascasarjana Undip. 

‘’Full akomodasi dan biaya penelitian akan ditanggungnya selama di Belanda,’’ bangga Rhesi yang disertasinya dipromotori Prof Agus Sabdono dan Prof Ocky Karna Radjasa ini. 

Siapa Rhesi? Dia anak pasangan Tito Basuki dan Sri Rahayu Lestari. Orang tuanya berjualan keripik usus untuk membiayai pendidikan anak-anaknya. 

Rhesi anak ketiga dari lima bersaudara. Rhesi seminggu lalu menyempatkan diri pulang kampung sebelum terbang ke Prancis pada 9 November mendatang.  

Jika dihitung maju, dia baru pulang ke tanah air 2 Juli 2018 mendatang dengan penerbangan langsung dari Amsterdam  ke Jakarta. 

‘’Cita-cita saya menjadi dosen,’’ akunya.

Dia berpesan agar anak dari keluarga kurang mampu tidak berkecil hati untuk berani meneruskan kuliah. Biaya bukan lagi alasan. 

Rhesi mengaku mengandalkan keberlangsungan kuliahnya dari beasiswa. Selama merampungkan S-1 dan S-2, dia juga sengaja nyambi menjadi guru privat. 

‘’Di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Saya selalu belajar serius hingga akhirnya dapat seperti ini,’’ ujarnya. 

Tidak mudah ternyata menyusun jurnal penelitian yang dipublikasikan internasional. Rhesi harus meningkatkan penguasaan bahasa Inggris dan Prancis. Pun, jurnal harus ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar. 

‘’Karena akan berpengaruh pada terjemahan bahasa Inggris-nya,’’ pungkas Rhesi. 

(mn/jpr/sib/sib/JPR)

 TOP
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia