Kamis, 18 Oct 2018
radarmadiun
 
icon featured
Features

Menang Karya Cipta Presiden SBY, Sepanggung dengan Endah Laras 

Selasa, 23 Jan 2018 12:23 | editor : Budhi Prasetya

Anik Jenong Sinden Ngawi

Anik Jenong, Sinden Muda Pemenang Karya Cipta Presiden SBY, Sepanggung dengan Endah Laras (Loditya Fernandez/Radar Ngawi)

Di usianya yang masih muda, Anik Purwanti mantap memutuskan pilihan hidupnya menjadi sinden. Tak cukup bermodal kecakapan bernyanyi sedari kecil, dia terus mengasah kemampuannya hingga melanjutkan pendidikan sesuai profesinya di Jurusan Karawitan Universitas Seni Indonesia (ISI) Surakarta. 

LODITYA FERNANDEZ, Ngawi

JALAN yang ditapaki Anik Purwati sebagai seniman tidak mudah. Hidup dari keluarga serba terbatas, putri buruh tani itu menyambung hidupnya dengan berjualan sayur keliling. Rutinitas itu mulai dijalaninya sejak masih duduk di bangku kelas IV sekolah dasar. Hasil ider sayur itu digunakannya sebagai uang saku dan kebutuhan lain. Sebagian ditabung untuk membeli kambing. ‘’Embek (kambing, Red) itu saya pelihara sampai berkembang biak. Waktu mau masuk SMP saya jual untuk biaya sekolah,’’  kenangnya.

Gadis bernama panggung Anik Jenong itu tidak menyangka bakal meniti karir sebagai sinden. Awalnya dia penyanyi kasidah di lingkungan rumahnya, sekadar mengisi waktu luang bersama sang ibu. Hingga gadis kelahiran 27 Juni 1996 itu diminta menyumbangkan lagu di salah satu stasiun radio lokal. Mendengar suaranya yang merdu, salah seorang pemilik grup electone di desanya kepincut menggandengnya. Anik lantas diminta tampil sebagai penyanyi campursari. ‘’Setiap kali tampil biasanya dapat upah Rp 25 ribu. Make-up dan pakaian dipinjami anak pemilik grup,’’ terangnya.

Dari sana Anik makin rajin mengikuti latihan bernyanyi setiap pulang sekolah. Setelah kemampuannya kian terasah, guru sekolahnya yang juga juru rias tak sungkan menawarkan jasa menyanyi ke tempat yang mempekerjakannya. Job demi job dilakoni. Seiring berjalannya waktu, putri pasangan Jarman-Suharti itu kenal dengan Sukadi, pemilik Sanggar Mastuti Budoyo. Lantaran beranggotakan remaja yang sepantaran dengannya, Anik tak canggung bergabung. ‘’Akhirnya mulai meninggalkan campursari dan memutuskan pindah ke karawitan sebagai sinden,’’ paparnya.

Awal menekuni profesi sinden, Anik sempat dibuat minder dengan bodi tubuhnya. Sebagai gadis yang sedang tumbuh remaja kala itu, badannya terbilang rata. Tidak jarang dirinya mendapat ejekan dari teman prianya. Sebab, kebanyakan sinden memiliki tubuh yang seksi dan berisi. Lucunya, Anik memiliki trik nyeleneh. ‘’Akhirnya disumpeli kresek setiap mau tampil, ’’ selorohnya.

Gadis asal Desa Sumberbening, Kecamatan Bringin, Ngawi, itu tak ingin setengah hati menekuni profesinya sebagai sindan. Dia rajin ngunthul (ikut) tampil dengan sinden senior. Seperti sinden Karni dan Jami. Tidak jarang pula Anik sampai tidur di rumah sinden tersebut. ‘’Sekadar belajar meski waktu tampil tidak diupah,’’ ungkapnya.

Begitu tahu menyanyi bisa menjadi tambahan penghasilan, Anik makin bersemangat menekuni latihan olah vokal. Orang tua pun mendukung. Dia hampir selalu diantar sang ayah saat latihan maupun tampil. Anik mengaku kerap ribut dengan orang tuanya sebelum mengantar gara-gara tidak punya ongkos. ‘’Sampai cari-cari pinjaman. Orang tua saya memang keras. Kalau mau apa, ya harus berusaha sendiri. Tapi tidak lantas diumbar, apa pun tetap diusahakan untuk anak, ’’ tuturnya.

Kini Anik mulai kerap mendapatkan panggilan tampil di berbagai festival dalang hingga lomba sinden. Selain tampil bersama yogo sepuh sebagai ayon-ayon (pemanis), dirinya juga rajin tampil dengan yogo muda saat festival seni maupun lomba dalang dan sinden. Dari sana, Anik kerap mendapatkan juara. ‘’Pernah menang lomba karya cipta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang digelar di Kodim Ngawi. Cuma gagal waktu bersaing dengan ratusan orang di Pacitan,’’ kenangnya.

Kemampuannya yang makin moncer membuat Anik mulai kebanjiran undangan tampil. Tidak hanya di Ngawi, juga sejumlah kota besar lainnya. Seperti Magetan, Madiun, Nganjuk, Karanganyar, Wonogiri, Surakarta, Semarang, Bandung, dan Jakarta. Dia pun menjadi sinden langganan Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Ngawi di berbagai kota. ‘’Meskipun tidak sekondang yang lain, saya tidak pernah ditinggalkan,’’ senangnya.

Pengalaman tidak mengenakkan sempat terjadi saat tampil di Anjungan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta. Di sana Anik sempat pingsan akibat kecapekan dan serangan tifus. Padatnya jadwal nyinden membuat kondisinya drop. Anik sampai dilarikan ke rumah sakit. Sedangkan pengalaman lucunya saat tampil di Klaten. Anik dibuat kelimpungan. Maklum, jarit yang digunakannya mendadak robek. Padahal dia tidak membawa jarit cadangan. ‘’Akhirnya ditutupi jaket dari awal sampai akhir. Saat dipanggil dalang untuk maju, saya beralasan izin halangan, bocor,’’ selorohnya.

Di usianya yang masih muda, Anik sudah banyak mendapatkan pengalaman menarik. Di antaranya satu panggung bersama sinden atau seniman kondang idolanya. Mulai sinden Endah Laras, Ki Manteb Sudarsono, Kirun, dan lainnya. Pengalaman itu jelas membuat Anik bangga. ***

(mn/odi/sib/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia