Rabu, 22 May 2019
radarmadiun
icon featured
Peristiwa
Pilgub Jatim

Gus Ipul-Mbak Puti Berkarakter Antikorupsi, Islami dan Mengayomi

25 Maret 2018, 10: 05: 59 WIB | editor : Budhi Prasetya

Pilgub jatim

MERAH PUTIH: Cawagub Puti Guntur Soekarno berkerudung merah yang menjadi ciri khasnya. Gus Ipul-Mbak Puti membawa spirit Merah Putih.   (ISTIMEWA)

SURABAYA – Lembaga survei PolMark juga telah mengumumkan risetnya atas Pilkada Jawa Timur 2018. Hasilnya, pasangan calon (paslon) Gubernur-Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno (Gus Ipul-Mbak Puti) dipilih 42,7 persen masyarakat. 

Sedangkan paslon Khofifah-Emil 27,2 persen. Responden yang belum memilih 30,1 persen. ‘’Selisihnya 15,5 persen,’’ kata Direktur Riset Polmark Indonesia Eko Bambang Subiantoro saat mengumumkan hasil survei di Surabaya, pekan lalu (14/3). 

Dalam surveinya, PolMark juga membandingkan dua paslon kontestan Pilgub Jatim 2018 itu dalam sejumlah isu penting. Pertama, komitmen memberantas korupsi. Sebanyak 40,5 warga masyarakat percaya Gus Ipul-Mbak Puti punya karakter antikorupsi. 

Pasangan nomor 2 ini dipercaya memilki komitmen tinggi mengelola Pemprov Jawa Timur yang transparan, bersih dan baik. Sementara, Khofifah-Emil mendapat 22,9 persen kepercayaan responden. 

Kedua, mewakili masyarakat Jawa Timur yang beragam atau majemuk. Survei PolMark menunjukkan, Gus Ipul-MbakPuti mendapat kepercayaan 44,9 persen dari masyarakat. Sedang Khofifah-Emil 24,5 persen. 

Ketiga, sebanyak 46,9 masyarakat meyakini Gus Ipul-MbakPuti mampu mengemban aspirasi umat Islam Jawa Timur. Sedangkan Khofifah-Emil 24,8 persen.

Keempat, masyarakat Jawa Timur percaya Gus Ipul-MbakPuti mempunyai daya pemersatu. Tingkat kepercayaan mencapai 46,2 persen. Sedang Khofifah-Emil 22,8 persen. 

‘’Secara keseluruhan, pasangan Gus Ipul-Mbak Puti dipercaya anti-korupsi, mampu menjaga keberagaman, mampu mengemban aspirasi umat Islam, serta figur pemimpin yang mengayomi dan mempersatukan,’’ kata Eko Bambang Subiantoro.

Sementara itu, sejak pendaftaran ke KPU Jawa Timur, 10 Januari 2018 malam lalu, Gus Ipul-Mbak Puti membawa spirit merah putih. Gus Ipul selalu memakai baju takwa warna putih. 

Ini selaras dengan latar belakangnya sebagai santri dari keluarga nahdliyin. Bahkan, dia cicit KH Bisri Syansuri, pendiri NU dan mantan Rais Aam PBNU.

Sementara Mbak Puti tampil mewakili kaum nasionalis yang religius. Dia mengenakan kerudung merah. Puti adalah cucu Bung Karno, proklamator dan presiden pertama Republik Indonesia. 

‘’Alhamdullilah, Gus Ipul mendapatkan pasangan MbakPuti. Sudah saatnya Jawa Timur dipimpin gubernur dari NU. Ini namanya notonegoro (menata negara),” kata KH Abdul Ghofur, pengasuh Pondok Pesantren Sunan Drajat Paciran, Lamongan.

Sebagai figur pemimpin yang lahir dari rahim kaum nasionalis, Mbak Puti bergerak aktif menemui masyarakat Jawa Timur dari berbagai golongan dan lapisan. 

Di setiap daerah, dia selalu menyempatkan diri sowan para kiai atau bu nyai. Dia juga akrab bertemu para santri dan santriwati. Sambutan terhadap Mbak Puti pun luar biasa.

Di Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri, dan Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, Probolinggo, beberapa waktu lalu, ribuan santr-santriwati menyambut dengan gegap-gempita kehadiran Mbak Puti. 

‘’Terima kasih saya telah diterima jadi bagian keluarga besar pesantren di Jawa Timur,’’ kata Puti saat menghadiri pertemuan para ulama di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.

Ia juga menemui penganut aliran kepercayaan di Banyuwangi dan Tulungagung. Puti juga mengunjungi pemimpin Gereja Katolik Keuskupan Surabaya Mgr Vincentius Sutikno Wisaksono dan Uskup Keuskupan Malang Mgr Henricus Pidyarto Gunawan. 

‘’Saya menyampaikan salam dari Ibu Megawati Soekarnoputri (Ketum DPP PDIP). Beliau berpesan untuk teguh menjaga Pancasila dan kebhinekaan,’’ katanya kepada Henricus Pidyarto.

Mbak Puti juga aktif bertemu kaum nasionalis, marhaenis, Soekarnois. Dia juga bertemu para petani, nelayan, ibu-ibu rumah tangga, para perempuan penggiat pengajian, majelis taklim, pimpinan Aisyiyah Muhammadiyah JawaTimur, para pedagang di pasar-pasar, juga para -pekerja di banyak pabrik. 

‘’Saya juga bertemu anak-anak milenial, anak-anak muda yang kelak mewarisi bangsa ini,’’ sebutanya. 

(mn/jpr/sib/sib/JPR)

 TOP
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia