Jumat, 24 May 2019
radarmadiun
icon featured
Pacitan

Minta Rekannya Dibebaskan, Ratusan Nelayan Duduki Mapolres

05 April 2018, 20: 11: 27 WIB | editor : Wawan Isdarwanto

MASUK: Para nelayan berdemo di Polres Pacitan menolak penangkapan 10 temannya, Rabu (4/4)

MASUK: Para nelayan berdemo di Polres Pacitan menolak penangkapan 10 temannya, Rabu (4/4) (Sugeng Dwi Nurcahyo/Radar Pacitan)

PACITAN – Ratusan nelayan Pacitan menduduki mapolres setempat. Mereka menuntut korps baju cokelat membebaskan 10 rekannya yang diamankan lantaran diduga memperdagangkan bibit lobster atau benur secara ilegal. 

Mereka keberatan dengan penindakan oleh pihak berwenang itu. Pasalnya tidak ada sosialisasi sebelumnya, khususnya terkait larangan penangkapan dan memperdagangkan benur . 

Padahal profesi mereka rentan melabrak Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan nomor 1/PERMEN-KP/ 2015 tentang Penangkapan Lobster (Panulirus spp), Kepiting (Scylla spp), dan Rajungan (Portunus pelagicus spp). 

Itu seolah menjadi kado pahit jelang hari nelayan nasional yang jatuh pada Jumat (6/4). “Ada kurang lebih 10 (nelayan). Baru dugaan saja, dan ini masih kami mintai keterangan,” kata Wakapolres Pacitan Kompol Hendry Soelistiawan, Rabu (4/4)

Hendry membenarkan pihaknya telah mengamanakan nelayan yang diduga menangkap benur di perairan Tawang, Desa Sidomulyo, Ngadirojo. Berdasarkan pemeriksaan sementara, seluruhnya kedapatan membawa 2.000 benur dalam kantong plastik disertai alat oksigen. 

“Informasi awalnya ada laporan dari masyarakat. Kami datangi ternyata benar ada,” beber perwira dengan satu melati di pundak itu. 

Hendry mengungkapkan, kedatangan para nelayan dari berbagai daerah di Ngadirojo itu lantaran menanyakan kabar terbaru dari rekan mereka. 

Pun dia mengungkap akan menampung seluruh aspirasi yang disampaikan para nelayan yang berkumpul di Gedung Graha Bayangkara Polres Pacitan kemarin. 

Pihaknya menampik anggotanya melakukan tindak kekerasan pada para terduga pelaku saat ditangkap. 

“Tidak ada tindak kekerasan. Tapi kami menampung aspirasi masyarakat,” jelas Hendry. 

Sudarno, perwakilan para nelayan, mengungkapkan bahwa pihaknya hanya ingin menuntut para nelayan untuk segera dibebaskan pada hari itu juga. Mereka tahu menangkap benur adalah menyalahi undang-undang. 

Namun, para nelayan yang mayoritas berpendidikan rendah belum berpikir ke arah itu. Mereka hanya berpikir bagaimana dapur tetap mengepul. “Jadi, bahasa melanggar hukum atau tidak nelayan tidak tahu, tahunya hanya ingin mencari rezeki,” terangnya. 

Sudarno yakin seluruh rekannya akan dibebaskan pihak polres. Mengingat dari keterangan yang diterimanya, penangkapan akan dilakukan jika para warga yang ditahan murni merupakan pengepul benur. 

Pun, pihaknya berharap warga tak anarkistis dalam menyampaikan aspirasinya di Polres. “Lokasi penangkapannya di Ngadirojo, jumlahnya 10,” sebutnya. 

Sementara itu, dari 10 warga yang diamankan, tujuh di antaranya telah dibebaskan. Sedangkan sisanya belum diperbolehkan keluar. 

Diduga status ketiganya bakal segera naik dari saksi menjadi tersangka lantaran terindikasi sebagai pengepul benur hingga proses penyidikan akan tetap dilanjutkan. 

Jika seluruh warga yang ditahan tidak dibebaskan polres, para nelayan mengancam bakal menggelar aksi susulan dengan jumlah massa lebih besar. Hingga pukul 20.45 kemarin, para nelayan baru beranjak pulang dari Polres Pacitan dengan pengawalan petugas kepolisian.

(mn/jpr/isd/JPR)

 TOP
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia