Senin, 24 Sep 2018
radarmadiun
icon featured
Magetan

Tumpeng Gono Bahu Dikawal Pasukan Berkuda

Senin, 16 Apr 2018 01:56 | editor : Wawan Isdarwanto

Larungan Telaga Sarangan

TRADISI: Sesaji tumpeng Gono Bahu sesaat sebelum ditenggelamkan ke Telaga Sarangan. (Eric Wibowo/Radar Magetan )

MAGETAN – Puncak acara Labuhan Sarangan berlangsung meriah. Ribuan warga memadati tepian telaga menyaksikan tumpeng Gono Bahu dilarung. Berbagai pertunjukan kesenian mengiringi arak-arakan tumpeng setinggi dua meter itu. 

Enam pasukan berkuda mengawal di barisan depan. Disusul drumben, peragaan model, para duta wisata, dan kesenian jaranan. Pada barisan lain ada cucuk lampah, ki dan nyi lurah, dhomas, kejawen, dan talang pati. 

Kemudian tumpeng Gono Bahu, dua buah tumpeng Wulu Wektu, serta empat tumpeng gunungan. Isi semua tumpeng itu berupa hasil bumi. Barisan paling akhir ada kesenian reyog. 

‘’Hampir setiap tahun nonton. Tapi, tahun ini yang paling bagus karena ada festival jeruk pamelo,’’ kata Aulia Ristiana, salah seorang pengunjung, kemarin (15/4). 

Bupati Sumantri menyatakan, tahun ini pemkab all-out menyelenggarakan kegiatan labuhan. Acara yang sudah menjadi agenda wisata di Pemprov Jawa Timur kali ini dikemas dengan festival selama tiga hari pelaksanaan dimulai Jumat lalu (13/4). 

Pengemasan berbeda itu sebagai upaya mengembangkan wisata agrobisnis dan promosi wisata. Pihaknya berharap wisatawan Sarangan bisa menyentuh 5 juta orang per tahun. 

‘’Kalau saat ini baru sekitar 1 juta,’’ sebutnya. 

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Magetan Siran menambahkan, event larung sesaji sebagai upaya meningkatkan potensi wisata Telaga Sarangan. Sekaligus agar dikenal lebih luas oleh wisatawan domestik maupun luar negeri. 

Acara larung juga diharapkan membuat para pengunjung betah berlama-lama di Sarangan sehingga berimbas pada peningkatan okupansi hotel. 

‘’Dalam tiga hari acara ada sekitar 20 ribu wisatawan yang datang,’’ ujarnya. 

Kegiatan larung tumpeng Gono Bahu merupakan bentuk wujud syukur kepada Tuhan. Sekaligus sebagai penolak bala atau bencana dan upaya melestarikan adat budaya. Pihaknya juga bertekad menjaga kearifan lokal agar tidak tergerus arus globalisasi. 

‘’Larung sesaji merupakan acara sakral yang dilakukan setahun sekali turun temurun, tapi juga bisa menjadi hiburan,’’ papar Siran. (cor/c1/isd) 

(mn/jpr/isd/JPR)

 TOP
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia