Senin, 24 Sep 2018
radarmadiun
icon featured
Ponorogo
Kartini Masa Kini

Urus Penuh Perusahaan, Keluarga, dan PKK

Sabtu, 21 Apr 2018 04:00 | editor : Budhi Prasetya

Sri Wahyuni Muchlissoni

MEMBAUR : Sri Wahyuni Muchlissoni memotivasi para guru PAUD di Kabupaten Ponorogo beberapa waktu lalu (Istimewa for Radar Ponorogo)

PONOROGO - Dua tahun sudah Sri Wahyuni Muchlissoni bersinggungan langsung dengan bidang pemerintahan. Perhatiannya dicurahkan penuh lantaran posisinya sebagai ketua tim penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Ponorogo. 

Sebuah konsekuensi yang harus ditanggungnya. Maklum, perempuan kelahiran Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, 8 Juni 1977, ini adalah istri Bupati Ipong Muchlissoni.   

Kiprah Sri Wahyuni mendapat respon positif dari banyak pihak. Padahal, dia juga harus membagi waktu untuk mengurusi perusahaan keluarga. 

Siti Nurkanah

PEDULI : Siti Nurkanah (berhijab) saat meninjau hasil olahan makanan warga kelurahan Brotonegaran beberapa waktu lalu (Istimewa for Radar Ponorogo)

Belum lagi, kodratnya selaku ibu tiga anak dan istri bagi suami tercinta. Peran komplit yang menggambarkan sosok perempuan seperti diidamkan Raden Ajeng Kartini seabad silam. 

‘’Perempuan juga harus mampu berkontribusi,’’ tutur Sri Wahyuni.

Dia berharap semangat Kartini bisa melecut motivasi pegawai perempuan di lingkup Pemkab Ponorogo. Kaum hawa bukan lagi konco wingking (teman belakang) yang berkutat di rumah dan sibuk memasak di dapur. 

Emansipasi yang diperjuangkan Kartini adalah persamaan derajat perempuan dengan laki-laki. ‘’Tetapi tidak meninggalkan kodratnya sebagai perempuan,’’ pesan alumnus Untag 1945 Samarinda itu.

Pun, seorang perempuan harus luwes menghadapi perkembangan zaman. Bekalnya, menurut Sri Wahyuni, kemampuan dan ilmu yang dimiliki. Ini yang kemudian disebut sebagai Kartini zaman now. 

‘’Kartini modern harus bisa berkarya di bidang yang digeluti,’’ ungkapnya. 

Menyeru Perempuan Bikin Terobosan

BANYAK jalan bagi perempuan untuk meraih emansipasi. Wakil Ketua Tim Penggerak PKK Ponorogo Siti Nurkanah Soedjarno menyeru kaumnya agar tidak bergantung pada laki-laki. 

Sebaliknya, perempuan harus mampu membuat terobosan di berbagai bidang seperti yang didamkan Raden Ajeng Kartini dulu.  ‘’Kaum perempuan harus berpikiran dan mengambil langkah maju untuk memperbaiki kualitas hidup,’’ kata istri Wabup Ponorogo Soedjarno itu.

Diakui Nur –sapaan Siti Nurkanah–, kodrat perempuan adalah seorang istri yang mendampingi suami. Selain itu, sebagai ibu yang melahirkan, merawat, dan mendidik anak-anaknya. Namun, semua itu bukanlah penghalang bagi perempuan untuk maju. 

‘’Malah seharusnya bisa menjadi penyemangat,’’ ungkapnya

Ibu tiga anak itu meminta agar para perempuan belajar banyak dari perjuangan Kartini. Meski hidup di tengah himpitan penjajah dan kultur masyarakat yang memandang sebelah mata perempuan, tapi Kartini ingin membuktikan kaumnya mampu sejajar dengan laki-laki. 

‘’Perempuan sekarang harus mampu menjadi sosok Kartini modern dengan memanfaatkan peluang meraih jenjang pendidikan yang lebih tinggi,’’ terang Nur.

Bagi Nur, peringatan Hari Kartini bukan sekadar kontes busana daerah. Namun, perlu lebih memahami esensi dan makna perjuangan pahlawan nasional asal Jepara tersebut. 

‘’Peringatan ini bisa dijadikan momen untuk terus berusaha dan meneruskan apa yang dicita-citakan Kartini,’’ ungkap perempuan 59 tahun itu. 

(mn/her/sib/JPR)

 TOP
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia