Senin, 24 Sep 2018
radarmadiun
icon featured
Peristiwa

Penuh Lubang, Warga Desa Sukorejo Buka Warung di Tengah Jalan 

Sabtu, 21 Apr 2018 06:00 | editor : Budhi Prasetya

BLOKADE: Warga Desa Sukorejo memprotes kondisi jalan setempat yang rusak parah dan tak kunjung ditangani pemkab kemarin.

BLOKADE: Warga Desa Sukorejo memprotes kondisi jalan setempat yang rusak parah dan tak kunjung ditangani pemkab kemarin. (Asta Yanuar/Radar Ponorogo)

SUKOREJO - Jalan rusak sangat tidak nyaman bagi penggunanya. Bahkan, bisa mengakibatkan celaka. Salah satu jalan rusak yang kerap memakan korban di Ponorogo adalah ruas Sukorejo-Sampung. 

Persisnya, mulai pertigaan Puskesmas Sukorejo hingga perempatan Ngambakan. Kondisi jalan alternatif Ponorogo-Magetan sepanjang 2,5 kilometer itu rusak parah. Penuh lubang di sana-sini. Diameternya berkisar hingga tiga meter. 

‘’Sudah bertahun-tahun tidak pernah diperbaiki,’’ kata Budi Sancoko, warga Dusun Krajan, Desa Sukorejo, Jumat (20/4).

Warga pun jengah dibuatnya. Hingga mereka memblokade dengan mendirikan warung di tengah jalan. Mereka juga membentangkan sejumlah poster berisi tuntutan agar jalan secepatnya diperbaiki Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Ponorogo.

Budi mengungkapkan kerusakan jalan kabupaten tersebut akibat dilintasi kendaraan berat. Setiap hari belasan truk pengangkut bahan tambang pasir dan batu (sirtu) melintasinya.  

‘’Kalau seandainya nanti ada perbaikan, kami ingin ada quality control. Supaya jalan tidak cepat rusak lagi,’’ terangnya.

Sebelumnya, masalah jalan rusak juga jadi catatan serius DPRD atas Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPj) Bupati Tahun Anggaran 2017. 

Dewan merekomendasikan penanganan cepat dengan membentuk gugus mandor. Tugasnya, sebagai unsur subjek pelaksana reaksi cepat penanganan jalan.

Terpisah, Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni tak menampik tingkat kerusakan jalan kabupaten cukup tinggi. Penyebabnya, banyak kendaraan berat melintas di jalan yang bukan kelasnya. 

‘’Pemkab berencana menerapkan model campuran pembangunan jalan hasil karya mahasiswa Jogjakarta untuk mengatasi beberapa titik jalan rusak tersebut,’’ kata Ipong. 

Sebab, dari sisi biaya, model itu jauh lebih murah dibandingan campuran yang selama ini digunakan DPUPR untuk memperbaiki jalan hotmix dan rigid beton. 

‘’Kalau saat ini per satu meternya (aspal hotmix) Rp 315 ribu, karya mahasiswa Jogjakarta itu hanya Rp 150 ribu per meter,’’ ungkap Ipong.

Selain itu, lanjut Ipong, mampu menahan beban kendaraan dengan berat maksimal 20 ton. Sementara, kapasitas aspal jalan kabupaten saat ini hanya mampu menopang beban maksimal 12 ton. 

‘’Jadi, dari sisi biaya lebih murah 50 persen. Sedangkan, dari sisi fungsi dan manfaatnya lebih baik,’’ terangnya. 

Dia juga memastikan model itu sudah lulus uji laboratorium. Bahkan, sudah mengantongi sertifikasi dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). 

‘’Saya minta kepada DPUPR untuk mencoba model campuran itu tahun ini di beberapa titik dulu. Kalau hasilnya bagus, tahun depan diterapkan seluruhnya,’’ ujarnya.

Jika berjalan mulus, pemkab bisa menghemat anggaran. Serta proses perbaikan jalan bisa berjalan optimal. 

Sebab, alokasi anggaran pemeliharan jalan rutin tahun ini terbatas. Yakni, hanya sekitar Rp 5,68 miliar. Sementara, panjang jalan rusak berat di Ponorogo masih ada sekitar 72,320 kilometer.

Ipong mengungkapkan, bila bergantung anggaran itu dibutuhkan setidaknya sekitar delapan tahun untuk menangani masalah jalan rusak di Ponorogo. Anggaran yang mesti dialokasikan mencapai Rp 4 triliun. 

‘’Mungkin dengan menerapkan model campuran ini, penanganan jalan rusak di Ponorogo bisa lebih cepat. Diperkirakan hanya lima tahun,’’ ungkapnya.

(mn/her/sib/JPR)

 TOP
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia