Senin, 24 Sep 2018
radarmadiun
icon featured
Features

Pengalaman Harmini Jadi Spionase Cilik Curi Perhatian Pecinta Buku

Selasa, 24 Apr 2018 05:00 | editor : Budhi Prasetya

PRODUKTIF : Harmini menunjukkan buku kumpulan puisi karyanya yang disusun di usia yang tak lagi muda 

PRODUKTIF : Harmini menunjukkan buku kumpulan puisi karyanya yang disusun di usia yang tak lagi muda  (Bagas Bimantara/Radar Madiun )

Harmini termasuk salah satu sosok wanita yang spesial. Dirinya masih produktif mengubah lagu dan puisi meski usianya sudah mencapai 78 tahun. Hingga kini perempuan itu telah menulis sedikitnya 58 lagu. Pun karya puisinya sudah tak bisa dihitung jari dan salah satunya yang mengisahkan pengalaman masa kecilnya menjadi spionase telah dibukukan.  

DILA RAHMATIKA,Madiun 

JARI jemari Harmini Suprijadi sudah tampak keriput. Namun, masih terlihat lincah saat memainkan tuts organ tua berkelir cokelat di salah satu sudut rumahnya. 

Instrumen musik bernuansa jadul pun mengalun merdu. Sembari memainkan organ, perempuan tersebut menggoyangkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri mengikuti musik gubahannya itu. 

Satu lagu berlalu, Harmini lantas beranjak dari kursi dan mengambil sebuah buku bersampul batik dari kamarnya. Dibukanya halaman demi halaman berisi lirik lagu lengkap dengan not baloknya itu. 

Pada buku tersebut terdapat sedikitnya 58 lagu tentang lansia karyanya. Harmini kemudian menunjukkan buku berjudul Sebuah Balada Aku adalah Bunga, Aku adalah Baja. Di atas judul buku itu tertulis nama Harmini beserta gelar pendidikan dan hajahnya. 

‘’Saya mantan guru bahasa dan sastra Indonesia di SMA 1. Waktu itu juga jadi seorang pembina Teater Bara Bhima dan paduan suara,’’ kata Harmini sambil melirik sebuah foto dengan latar belakang gedung SMAN 1 Kota Madiun di dinding ruang tamunya. 

Setelah puluhan tahun mengajar di sekolah itu, pada 2000 silam Harmini pensiun. Kendati begitu, nenek dua cucu ini tetap produktif berkarya hingga kini usianya menginjak 78 tahun. 

Maret lalu, misalnya, dia menerbitkan sebuah buku berisi kumpulan puisi seputar pengalaman masa kecilnya menjadi spionase perempuan Jawa saat agresi militer Belanda 1948. 

Bertepatan dengan peringatan Hari Kartini Jumat lalu (21/4) Harmini menggelar acara bedah buku di Perpustakaan Kota Madiun. Tak disangka, buku karyanya yang berjudul Sebuah Balada Aku adalah Bunga, Aku adalah Baja laris dibeli pengunjung. 

Mereka penasaran dengan kisah Harmini kecil menjadi spionase utusan ibunya, R. Ngt Soedji Raharjoe. ‘’Itu saya tulis tahun 1994,’’ ungkap warga Jalan Margobawero, Mojorejo, Taman, ini.

Karya itu pula yang diikutkan sayembara penulisan naskah buku bacaan yang digelar Pusat Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Karya tersebut meraih juara II. Harmini juga mengirimkan karya berjudul Yang Kuminta Hanyalah yang menyabet juara III. 

‘’Yang dibukukan yang dapat juara II itu,’’ sebutnya.

Harmini masih ingat betul saat menjadi spionase cilik. Kala itu oleh ibunya disuruh mengirimkan sebuah pesan rahasia kepada seorang asisten rumah tangga salah satu keluarga Belanda bernama Mbok Mirna. 

Pesan pada secarik kertas itu diselipkan di lipatan bagian bawah roknya. ‘’Mbok Mirna itu anggota TGP (Tentara Genie Pelajar, Red),’’ ujarnya. 

Harmini tidak tahu persis apa isi pesan itu. Hanya, diduga berisi strategi perang untuk mengusir Belanda. 

‘’Ditulis pakai batang sabun. Saya pernah lihat ada yang menyalakan lilin atau korek api di bawah kertas itu, lalu muncul tulian seperti sandi morse,’’ kenangnya.

Harmini memang hobi menulis sejak kecil. Pada masa itu dia biasa menggoreskan curahan hatinya menggunakan pisau atau benda tajam lainnya di batang pohon. Baru saat kertas mudah didapat, Harmini menggunakan media buku. ***

(mn/jpr/sib/JPR)

 TOP
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia