alexametrics
24.3 C
Madiun
Friday, May 20, 2022

Mereka yang Berjaya di Randu Alas Highlands Challenge 2019 (1)

RAHC 2019 kategori women menjadi milik Maria Dea. Pada race Sabtu lalu (31/8), cyclist asal Sleman itu menyabet Queen of Hill. Bagaimana strateginya hingga menjadi yang tercepat?

————-

ANDI CHORNIAWAN, Madiun, Jawa Pos Radar Madiun

BEBERAPA pekan sebelum Lebaran lalu, Maria Dea mengalami kecelakaan lalu lintas. Insiden itu membuatnya harus menjalani operasi di rumah sakit. Tulang pergelangan tangan kirinya mesti dimasuki sejumlah batang pen. Kondisi tersebut memaksanya tidak bisa mengayuh pedal sepeda untuk sementara waktu. ‘’Pen baru dilepas setelah sebulan dan selanjutnya proses pemulihan,’’ kata Dea.

Dua bulan pasca-insiden kecelakaan motor itu, Dea mendaftar sebagai peserta Randu Alas Highlands Challenge (RAHC) 2019. Tak disangka, gadis 27 tahun ini mampu finis pertama dari delapan cyclist kategori perempuan lainnya. Gelar Queen of Hill (QoH) pun disandang peserta bernomor punggung 205 dalam race yang digelar Polres Madiun-Pemkab Madiun bekerja sama dengan Jawa Pos Radar Madiun itu. ‘’Tidak mengira bisa juara satu,’’ ujarnya.

Dampak fisik dari kecelakaan lalu lintas sempat membuat Dea khawatir. Waswas seandainya bakal mematikan kegiatannya balap sepeda untuk selama-lamanya. Anggota Roadbike Solo Community (RBSC) itu kemudian berkonsultasi dengan dokter dan rekan-rekannya sesama cyclist. Hobinya disebut bisa tetap ditekuni seiring dengan pulihnya luka. ‘’Latihan pelan-pelan,’’ ucap cyclist asal Sleman, DIJ, tersebut.

Dea tidak melakukan persiapan khusus menyambut RAHC. Dia sekadar gowes di sekitar tempat tinggalnya seperti yang biasa dilakukan setiap hari. Juga menggali informasi seputar geografis rute balap yang melewati kawasan hutan di Desa Randu Alas, Kare, Kabupaten Madiun, tersebut. ‘’Tapi, sebatas spekulasi. Selebihnya mengalir saja,’’ paparnya.

Rangkaian RAHC 2019 sebelum race adalah gowes Madiun-Blabakan, Mejayan, sejauh 40 kilometer. Karena peloton besar dengan rombongan mencapai 300 peserta, Dea memperhatikan betul situasi dan kondisi (sikon) selama perjalanan menyusuri Jalan Raya Surabaya–Madiun itu. Mulai jalan berlubang hingga iring-iringan para cyclist. Menghindari insiden-insiden yang tidak diinginkan. ‘’Menikmati perjalanan, tapi tetap waspada,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Pantang Abai Reklamasi Untuk Lokasi Tambang yang Tak Beroperasi

Dalam adu cepat lapangan Blabakan-Randu Alas, sembilan peserta kategori women diberangkatkan lebih dulu. Mereka melaju satu barisan, kendati sesekali saling salip antara pembalap terjadi. Tiga kilometer lepas garis start, Dea stabil berada di depan. Tidak berselang lama, muncul tiga cyclist laki-laki menyalip. ‘’Spontan saya gabung mereka,’’ ujarnya.

Di tengah balapan melintasi kawasan hutan, Dea kerap bertukar posisi di depan dengan para cyclist laki-laki. Seolah saling mengerti untuk sama-sama mengatur energi demi bisa menaklukkan tanjakan dengan kontur bergelombang. Belum lagi, embusan angin pagi itu cukup kencang dan panas menyengat. ‘’Apalagi rute race cukup panjang,’’ kata perempuan berzodiak Gemini tersebut.

Gelaran RAHC 2019 yang penyerahan juaranya di Monumen Kresek itu tidak akan dilupakan Dea. Selain race pertama pasca kecelakaan, itulah untuk kali pertama dia meraih juara I event yang dihelat Jawa Pos Radar Madiun.

Sebelumnya, dosen salah satu perguruan tinggi swasta Kota Bengawan itu telah mengikuti tiga event balap koran yang digelar Jawa Pos Radar Madiun. Yakni, Cycling Party Jamus 100 Km 2017 (juara II); Srambang KoM Challenge 2018 (juara III); dan Karismatik Cycling Community Madiun 2019 (gagal podium). ‘’Jadi, tidak menyangka sekali,’’ ucapnya.

Dea memuji eventevent gowes yang digelar Jawa Pos Radar Madiun selama ini. Sebab, selalu dikemas apik dan pelayanan memuaskan. Pun biaya pendaftaran terjangkau. ‘’Mudah-mudahan acara ke depan bisa lebih meriah dengan melibatkan lebih banyak peserta,’’ harapnya. *** (isd/c1/bersambung)

RAHC 2019 kategori women menjadi milik Maria Dea. Pada race Sabtu lalu (31/8), cyclist asal Sleman itu menyabet Queen of Hill. Bagaimana strateginya hingga menjadi yang tercepat?

————-

ANDI CHORNIAWAN, Madiun, Jawa Pos Radar Madiun

BEBERAPA pekan sebelum Lebaran lalu, Maria Dea mengalami kecelakaan lalu lintas. Insiden itu membuatnya harus menjalani operasi di rumah sakit. Tulang pergelangan tangan kirinya mesti dimasuki sejumlah batang pen. Kondisi tersebut memaksanya tidak bisa mengayuh pedal sepeda untuk sementara waktu. ‘’Pen baru dilepas setelah sebulan dan selanjutnya proses pemulihan,’’ kata Dea.

Dua bulan pasca-insiden kecelakaan motor itu, Dea mendaftar sebagai peserta Randu Alas Highlands Challenge (RAHC) 2019. Tak disangka, gadis 27 tahun ini mampu finis pertama dari delapan cyclist kategori perempuan lainnya. Gelar Queen of Hill (QoH) pun disandang peserta bernomor punggung 205 dalam race yang digelar Polres Madiun-Pemkab Madiun bekerja sama dengan Jawa Pos Radar Madiun itu. ‘’Tidak mengira bisa juara satu,’’ ujarnya.

Dampak fisik dari kecelakaan lalu lintas sempat membuat Dea khawatir. Waswas seandainya bakal mematikan kegiatannya balap sepeda untuk selama-lamanya. Anggota Roadbike Solo Community (RBSC) itu kemudian berkonsultasi dengan dokter dan rekan-rekannya sesama cyclist. Hobinya disebut bisa tetap ditekuni seiring dengan pulihnya luka. ‘’Latihan pelan-pelan,’’ ucap cyclist asal Sleman, DIJ, tersebut.

Dea tidak melakukan persiapan khusus menyambut RAHC. Dia sekadar gowes di sekitar tempat tinggalnya seperti yang biasa dilakukan setiap hari. Juga menggali informasi seputar geografis rute balap yang melewati kawasan hutan di Desa Randu Alas, Kare, Kabupaten Madiun, tersebut. ‘’Tapi, sebatas spekulasi. Selebihnya mengalir saja,’’ paparnya.

Rangkaian RAHC 2019 sebelum race adalah gowes Madiun-Blabakan, Mejayan, sejauh 40 kilometer. Karena peloton besar dengan rombongan mencapai 300 peserta, Dea memperhatikan betul situasi dan kondisi (sikon) selama perjalanan menyusuri Jalan Raya Surabaya–Madiun itu. Mulai jalan berlubang hingga iring-iringan para cyclist. Menghindari insiden-insiden yang tidak diinginkan. ‘’Menikmati perjalanan, tapi tetap waspada,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Kekompakan Antar MVC Eksis hingga Dua Dekade

Dalam adu cepat lapangan Blabakan-Randu Alas, sembilan peserta kategori women diberangkatkan lebih dulu. Mereka melaju satu barisan, kendati sesekali saling salip antara pembalap terjadi. Tiga kilometer lepas garis start, Dea stabil berada di depan. Tidak berselang lama, muncul tiga cyclist laki-laki menyalip. ‘’Spontan saya gabung mereka,’’ ujarnya.

Di tengah balapan melintasi kawasan hutan, Dea kerap bertukar posisi di depan dengan para cyclist laki-laki. Seolah saling mengerti untuk sama-sama mengatur energi demi bisa menaklukkan tanjakan dengan kontur bergelombang. Belum lagi, embusan angin pagi itu cukup kencang dan panas menyengat. ‘’Apalagi rute race cukup panjang,’’ kata perempuan berzodiak Gemini tersebut.

Gelaran RAHC 2019 yang penyerahan juaranya di Monumen Kresek itu tidak akan dilupakan Dea. Selain race pertama pasca kecelakaan, itulah untuk kali pertama dia meraih juara I event yang dihelat Jawa Pos Radar Madiun.

Sebelumnya, dosen salah satu perguruan tinggi swasta Kota Bengawan itu telah mengikuti tiga event balap koran yang digelar Jawa Pos Radar Madiun. Yakni, Cycling Party Jamus 100 Km 2017 (juara II); Srambang KoM Challenge 2018 (juara III); dan Karismatik Cycling Community Madiun 2019 (gagal podium). ‘’Jadi, tidak menyangka sekali,’’ ucapnya.

Dea memuji eventevent gowes yang digelar Jawa Pos Radar Madiun selama ini. Sebab, selalu dikemas apik dan pelayanan memuaskan. Pun biaya pendaftaran terjangkau. ‘’Mudah-mudahan acara ke depan bisa lebih meriah dengan melibatkan lebih banyak peserta,’’ harapnya. *** (isd/c1/bersambung)

Most Read

Artikel Terbaru

/