alexametrics
25.2 C
Madiun
Thursday, May 19, 2022

Mereka yang Berjaya di Randu Alas Highlands Challenge 2019 (2)

Eko Bayu Nur Hidayat tak terbendung di kategori MTB Randu Alas Highlands Challenge 2019. Dia menyabet King of Hill menyisihkan puluhan kompetitornya. Apa rahasianya hingga berhasil menjadi yang tercepat?

================

ANDI CHORNIAWAN, Madiun, Jawa Pos Radar Madiun

SEJAK start di lapangan Desa Blabakan, Mejayan, Eko Bayu Nur Hidayat langsung mengayuh kencang pedal mountain bike (MTB) miliknya. Lima kilometer menjelang finis, empat cyclist termasuk dirinya terlibat adu sprint.

Memasuki 500 meter terakhir, dua pembalap tercecer, menyisakan dirinya dan seorang cyclist. Namun, Eko yang akhirnya berhasil mencapai finis pertama. ‘’Pastinya senang bisa juara,’’ akunya.

Ya, Eko meraih King of Hill (KoH) kategori MTB Randu Alas Highlands Challenge (RAHC) 2019 yang digelar Sabtu lalu (31/8). Warga Desa Karangrejo, Boyolangu, Tulungagung, itu berhasil mengungguli 25 cyclist lain di kategori tersebut. ‘’Ini prestasi balap pertama saya untuk kategori MTB on road,’’ katanya.

Eko sejatinya sudah lama bergelut dengan dunia balap sepeda. Namun, sebelumnya fokus di nomor road bike. Baru tahun ini dia menekuni balap MTB. ‘’Sebelum ini ikut race di Jombang, Ponorogo, dan Trenggalek, tapi medannya off road,’’ ujar pria 28 tahun tersebut.

Baca Juga :  Bisnis Kuliner di Kawasan Gunung Wilis Menjamur

Eko merasa tidak kesulitan menaklukkan rute RAHC sekalipun menggunakan MTB. Sebab, medan on road secara karakteristik tidak jauh berbeda dengan track road bike. Termasuk teknik maupun posisi badan saat menggenjot sepeda. ‘’Modal pengalaman sebagai pembalap road bike,’’ sebutnya.

Dia juga tidak menerapkan latihan khusus menyambut RAHC. Hanya, dua pekan sebelumnya memperoleh informasi dari teman cyclist asal Bojonegoro tentang geografis rute balap yang bakal ditaklukkan. ‘’Sebatas gowes setiap hari di daerah Tulungagung yang karakteristiknya serupa,’’ tutur Eko.

Kendati demikian, bapak satu anak itu tetap merasakan siksaan. Misalnya, sempat dehidrasi karena cuaca yang lumayan panas. Kedua pahanya juga nyaris gempor di setengah kilometer sebelum finis. Menaklukkan tanjakan berelevasi cukup tinggi dengan kontur bergelombang. ‘’Karakteristiknya nanjak, lalu datar, terus begitu. Rasa-rasanya ingin menyerah, tapi saya urungkan dan tetap ngepush sampai finis,’’ bebernya.

Eko bukan cyclist sembarangan. Pria yang kini membuka toko sepeda itu sudah malang melintang di berbagai event olahraga bergengsi. Prestasi paling mentereng adalah saat meraih medali perunggu balap sepeda velodrome SEA Games 2017 Kuala Lumpur, Malaysia. ‘’Medali lainnya dari PON Riau 2012 dan PON Jawa Barat 2016,’’ sebutnya. (isd/c1/bersambung)

Eko Bayu Nur Hidayat tak terbendung di kategori MTB Randu Alas Highlands Challenge 2019. Dia menyabet King of Hill menyisihkan puluhan kompetitornya. Apa rahasianya hingga berhasil menjadi yang tercepat?

================

ANDI CHORNIAWAN, Madiun, Jawa Pos Radar Madiun

SEJAK start di lapangan Desa Blabakan, Mejayan, Eko Bayu Nur Hidayat langsung mengayuh kencang pedal mountain bike (MTB) miliknya. Lima kilometer menjelang finis, empat cyclist termasuk dirinya terlibat adu sprint.

Memasuki 500 meter terakhir, dua pembalap tercecer, menyisakan dirinya dan seorang cyclist. Namun, Eko yang akhirnya berhasil mencapai finis pertama. ‘’Pastinya senang bisa juara,’’ akunya.

Ya, Eko meraih King of Hill (KoH) kategori MTB Randu Alas Highlands Challenge (RAHC) 2019 yang digelar Sabtu lalu (31/8). Warga Desa Karangrejo, Boyolangu, Tulungagung, itu berhasil mengungguli 25 cyclist lain di kategori tersebut. ‘’Ini prestasi balap pertama saya untuk kategori MTB on road,’’ katanya.

Eko sejatinya sudah lama bergelut dengan dunia balap sepeda. Namun, sebelumnya fokus di nomor road bike. Baru tahun ini dia menekuni balap MTB. ‘’Sebelum ini ikut race di Jombang, Ponorogo, dan Trenggalek, tapi medannya off road,’’ ujar pria 28 tahun tersebut.

Baca Juga :  PSM Madiun Cari Manajer Definitif

Eko merasa tidak kesulitan menaklukkan rute RAHC sekalipun menggunakan MTB. Sebab, medan on road secara karakteristik tidak jauh berbeda dengan track road bike. Termasuk teknik maupun posisi badan saat menggenjot sepeda. ‘’Modal pengalaman sebagai pembalap road bike,’’ sebutnya.

Dia juga tidak menerapkan latihan khusus menyambut RAHC. Hanya, dua pekan sebelumnya memperoleh informasi dari teman cyclist asal Bojonegoro tentang geografis rute balap yang bakal ditaklukkan. ‘’Sebatas gowes setiap hari di daerah Tulungagung yang karakteristiknya serupa,’’ tutur Eko.

Kendati demikian, bapak satu anak itu tetap merasakan siksaan. Misalnya, sempat dehidrasi karena cuaca yang lumayan panas. Kedua pahanya juga nyaris gempor di setengah kilometer sebelum finis. Menaklukkan tanjakan berelevasi cukup tinggi dengan kontur bergelombang. ‘’Karakteristiknya nanjak, lalu datar, terus begitu. Rasa-rasanya ingin menyerah, tapi saya urungkan dan tetap ngepush sampai finis,’’ bebernya.

Eko bukan cyclist sembarangan. Pria yang kini membuka toko sepeda itu sudah malang melintang di berbagai event olahraga bergengsi. Prestasi paling mentereng adalah saat meraih medali perunggu balap sepeda velodrome SEA Games 2017 Kuala Lumpur, Malaysia. ‘’Medali lainnya dari PON Riau 2012 dan PON Jawa Barat 2016,’’ sebutnya. (isd/c1/bersambung)

Most Read

Artikel Terbaru

/