Jawa Pos Radar Madiun – Jika biasanya perjalanan ke stadion diiringi hiruk-pikuk lalu lintas, klakson mobil, atau antrean panjang bus suporter.
Maka pengalaman menuju Stadio Pier Luigi Penzo sama sekali berbeda. Stadion milik Venezia FC ini hanya bisa dicapai dengan perahu.
Ya, benar-benar perahu, menembus kanal-kanal laguna, sebelum akhirnya tiba di salah satu stadion paling unik di dunia.
Stadion di Tengah Laguna
Terletak di Pulau Sant’Elena, Penzo berdiri sejak 1913, menjadikannya stadion tertua kedua di Italia setelah Luigi Ferraris di Genoa.
Posisinya yang dikelilingi air membuat atmosfer pertandingan terasa sangat khas. Suara sorakan penonton bercampur dengan deru ombak dan tiupan angin laut Adriatik.
Bagi turis, pengalaman ini adalah daya tarik tersendiri. Berangkat dengan vaporetto (bus air khas Venezia), lalu menyaksikan pertandingan Serie B atau Serie A.
Sepak bola di kota kanal ini benar-benar berbeda dari tempat lain.
Sejarah Panjang dengan Sentuhan Lokal
Awalnya stadion ini hanyalah lapangan sederhana untuk turnamen lokal.
Pada 1920-an, tribun pertama dibangun, dan setelah Perang Dunia II, stadion terus diperluas hingga mencapai kapasitas 26 ribu penonton pada masa kejayaan Venezia di Serie A.
Namun karena keterbatasan ruang dan kerusakan akibat badai 1970-an, kapasitas kini menyusut menjadi sekitar 11 ribu kursi.
Suasana dan Tradisi Tifosi
Meski kecil, atmosfer di Penzo sangat intim. Tribun yang dekat dengan lapangan membuat sorakan tifosi Venezia menggema kuat.
Ditambah lagi, latar belakang laguna yang menawan menjadikan setiap pertandingan terasa seperti drama teatrikal—di mana seni, air, dan sepak bola berpadu dalam satu panggung.
Tifosi Venezia juga dikenal kreatif. Koreografi warna hijau, oranye, dan hitam sering menghiasi tribun, menciptakan kontras indah dengan langit biru dan air yang mengelilingi stadion.
Ikon Kota yang Mendunia
Kini, Stadio Pier Luigi Penzo bukan hanya rumah bagi Venezia FC, tetapi juga ikon pariwisata olahraga.
Banyak wisatawan datang bukan hanya untuk menyaksikan pertandingan, tetapi untuk merasakan pengalaman unik: menonton sepak bola di stadion yang terletak di kota tanpa mobil. (cor)
Editor : Andi Chorniawan