Jawa Pos Radar Madiun - Pelatih Juventus Luciano Spalletti melontarkan pujian tinggi kepada juru taktik Bologna Vincenzo Italiano.
Menurut Spalletti, Italiano merupakan sosok pelatih yang patut menjadi incaran klub-klub besar Italia.
Nama Italiano mulai mencuri perhatian publik sepak bola Italia saat sukses membawa Spezia promosi ke Serie A untuk pertama kalinya dalam sejarah klub.
Kiprahnya berlanjut bersama Fiorentina, di mana ia mengantar La Viola tampil di final Coppa Italia serta dua kali mencapai final Conference League.
Langkah karier Italiano berlanjut ke Bologna pada musim lalu.
Keputusan tersebut langsung berbuah manis setelah ia membawa Bologna menjuarai Coppa Italia untuk pertama kalinya dalam kurun 51 tahun.
Prestasi tersebut membuat Spalletti tak ragu menyebut Italiano sebagai salah satu pelatih muda terbaik saat ini.
“Tentu ada hal-hal yang bisa Anda pelajari dari Italiano. Bagi saya, dia adalah salah satu pelatih muda terbaik yang kita miliki, dan saya telah memberi tahu semua untuk merekrut Italiano, bukan hanya Presiden De Laurentiis,” kata Spalletti seperti dilansir Football5Star dari Football Italia.
Spalletti juga menyoroti peran besar Italiano dalam membangun identitas tim dan arah permainan Bologna.
“Pujian patut diberikan kepada pelatih dan mereka yang membangun tim. Mereka memiliki kualitas yang hebat dan tahu persis ke mana mereka ingin pergi,” lanjut Spalletti.
Spalletti Tak Terpaku Sistem Permainan
Selain membahas sosok Italiano, Spalletti juga angkat bicara soal pendekatan taktiknya di Juventus.
Ia mengaku tidak ingin terjebak dalam perdebatan soal sistem permainan, termasuk soal penggunaan formasi empat bek.
“Saya masih terkejut ketika mendengar tentang sistem di lapangan. Dalam sepak bola saat ini, hal itu tak terlalu banyak membuat perbedaan. Anda tidak menang dengan menduduki posisi, tetapi dengan ruang, memutuskan ke mana Anda ingin membawa permainan,” ujar Spalletti.
Pelatih asal Italia itu menilai sepak bola modern menuntut fleksibilitas tinggi, terutama dalam duel satu lawan satu di seluruh area lapangan.
“Kami menuju ke permainan satu lawan satu di seluruh lapangan, dan kami harus beradaptasi,” katanya.
Spalletti mengakui memiliki preferensi terhadap formasi tertentu, namun menegaskan bahwa itu bukan patokan mutlak selama pertandingan berjalan.
“Memang benar bahwa saya ingin menggunakan formasi 4-3-3 atau 4-2-3-1, mencoba melakukan sesuatu yang berbeda, tetapi itu hanyalah titik awal karena permainan memaksa Anda untuk menggunakan sistem lain selama pertandingan,” sebutnya. (naz)
Editor : Mizan Ahsani