Jawa Pos Radar Madiun - Laga final telah berakhir. Barca juara. Real Madrid merana.
Pertandingan pada Senin 12 Januari 2026 dini hari WIB itu memculkan skor akhir 3-2 untuk kemenangan Barca.
Di balik itu semua, ternytaa nama Jose Luis Munuera Montero kembali menjadi sorotan tajam setelah memimpin laga final Barcelona vs Real Madrid.
Pertandingan sarat tensi itu memang telah berakhir, namun cerita tentang sang wasit justru tak kalah ramai dari drama lima gol dan satu kartu merah itu.
Laga El Clasico di partai puncak sejatinya berjalan terbuka dan intens.
Barcelona tampil efektif memaksimalkan peluang, sementara Real Madrid terus menekan hingga menit akhir.
Namun di luar ketatnya duel dua raksasa Spanyol itu, keputusan-keputusan Munuera Montero kembali memicu perdebatan panjang, terutama di kalangan pendukung Madrid.
Tak sedikit fans Los Blancos menilai arah kepemimpinan laga cenderung merugikan tim kesayangan mereka.
Media sosial pun dipenuhi kritik, menjadikan Munuera Montero sebagai figur sentral pasca-final, bukan hanya karena hasil 3-2, tetapi karena persepsi lama yang kembali terbuka.
Bagi pendukung Real Madrid, nama Munuera Montero bukan sekadar wasit biasa.
Ia sudah lebih dulu dicap sebagai “musuh nomor satu” sejak insiden kontroversial di laga Osasuna vs Real Madrid pada jornada 24 Liga Spanyol 2024/2025, Sabtu (16/2/2025).
Dalam pertandingan tersebut, saat Madrid unggul 1-0, Munuera Montero secara mengejutkan mengeluarkan kartu merah langsung kepada Jude Bellingham pada menit ke-39.
Keputusan itu dinilai sangat keras dan hingga kini masih dianggap sebagai salah satu momen paling merugikan Madrid dalam beberapa musim terakhir.
Bayang-bayang keputusan itu kembali mencuat.
Meski konteksnya berbeda, kecurigaan dan ketidakpercayaan Madrid terhadap sang wasit seakan sudah terlanjur mengakar.
Secara regulasi, Munuera Montero tetap menjalankan tugasnya sesuai kewenangan wasit utama.
Tidak ada keputusan yang secara resmi dianulir atau dianggap melanggar aturan pasca-final.
Namun dalam sepak bola modern, persepsi publik sering kali lebih kuat daripada penjelasan teknis.
Bagi Barcelona, hasil 3-2 adalah bukti efektivitas dan mental juara.
Bagi Real Madrid, kekalahan ini terasa semakin pahit karena kembali dibingkai oleh wasit yang sama.
Final ini menegaskan satu hal, bahwa Jose Munuera Montero adalah wasit yang namanya selalu melekat pada laga-laga besar dan keputusan kontroversial.
Dicintai oleh satu kubu, dibenci oleh kubu lain, ia menjadi simbol betapa tipisnya garis antara netralitas wasit dan persepsi ketidakadilan di mata publik.
Di El Clasico, pemenang memang Barcelona. Namun dalam narasi besar sepak bola Spanyol, Jose Munuera Montero kembali keluar sebagai figur yang paling banyak dibicarakan, bahkan setelah peluit panjang berbunyi. (den)
Editor : Deni Kurniawan