JAKARTA, Jawa Pos Radar Madiun – Penghapusan Pertalite yang diganti dengan Pertamax Green 92 tahun depan memang masih sebatas rencana PT Pertamina (Persero). Dikabarkan, rencan tersebut tertuang dalam program langit biru tahap II. Pun itu masih menunggu keputusan pemerintah.
"Program ini merupakan hasil dari kajian internal di Pertamina, belum ada keputusan apapun dari pemerintah. Tentu ini kami usulkan dan dibahas lebih lanjut," ungkap Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati, seperti dilansir dari JawaPos.com, Jumat (1/9)
Namun masih banyak masyarakat yang awam dengan apa itu Pertamax Green 92. Berikut perbedaan Pertalite dengan Pertamax 92:
Kadar Oktan
Pertalite memiliki kadar oktan Ron 90 sedangkan Pertamax Green 92 memiliki RON 92 dengan campuran ethanol 7 persen.
"Pada tahun 2024, BBM subsidi akan kita naikkan kadar oktan dari RON 90 ke RON 92 karena aturan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyatakan minimum RON 91," kata Nicke
Emisi
Kadar oktan yang lebih tinggi berarti Pertamax Green 92 memiliki emisi lebih rendah daripada Pertalite. Nicke mengatakan BBM dengan kadar oktan yang lebih tinggi diharapkan lebih ramah lingkungan dan lebih bagus untuk mesin.
"Masalah polusi yang sedang ramai bisa dengan cepat kita turunkan (dengan emisi yang lebih bersih)," tambahnya.
Harga
Pertalite adalah BBM bersubsidi yang saat ini dijual dengan harga Rp 10.000 per liter. Pertamax Green 92 rencananya juga akan disubsidi tetapi kisaran harganya belum diketahui.
Impor
Dengan adanya campuran ethanol, Pertamax Green 92 bisa mengurangi impor BBM. Di sisi lain, Pertamina menargetkan penciptaan lapangan kerja dari produksi 1,2 juta kilo liter ethanol di dalam negeri. Namun, jumlah itu belum mencukupi dan masih memerlukan impor.
"Itu tidak masalah, kita tinggal mengganti impor gasoline dengan impor ethanol," kata Dirut Pertamina.
Permasalahannya, menurut Nicke Widyawati , ethanol saat ini masih dikenakan cukai karena mengandung alkohol. Pertamina berharap impor ethanol dibebaskan cukainya hingga produksi dalam negeri bisa memenuhi kebutuhan Pertamina.
Editor : Budhi Prasetya