Jawa Pos Radar Madiun – Kota Madiun tak hanya dikenal sebagai kota pecel, kereta api, dan wisata buatan yang belakangan semakin dikenal.
Di balik geliat kotanya yang modern, tersimpan kekayaan hayati khas yang layak dibanggakan. Ada flora dan fauna khas. Yakni, jeruk Nambangan dan Kepodang Batu.
Keduanya bukan sekadar simbol kearifan lokal, tapi juga bagian dari identitas ekologis yang merekatkan warga dengan alam sekitar.
Jeruk Nambangan merupakan varietas jeruk legendaris yang dahulu banyak tumbuh di kawasan Nambangan Lor dan Nambangan Kidul, Kecamatan Manguharjo.
Buah ini memiliki ukuran sedang, kulit berwarna hijau kekuningan, dan aroma yang khas. Rasanya manis segar dengan sedikit sensasi asam yang menyegarkan.
Keistimewaan jeruk ini terletak pada adaptasinya terhadap iklim dan tanah Kota Madiun yang cenderung panas.
Konon, jeruk Nambangan sudah dikenal sejak zaman kolonial dan menjadi buah tangan favorit bagi tamu dari luar kota.
Sayangnya, populasi jeruk ini sempat menurun akibat alih fungsi lahan dan kurangnya regenerasi petani.
Kepodang Batu (Oriolus chinensis) menjadi fauna khas Kota Madiun yang mulai langka namun tetap melegenda.
Satwa ini dikenal masyarakat sebagai burung berbulu kuning keemasan dengan garis hitam mencolok.
Suara kicauannya merdu dan melengking tajam. Pun, gemar hidup di pepohonan tinggi dan menjadi penanda ekosistem yang masih lestari.
Di budaya Jawa, kepodang sering disebut sebagai lambang keharmonisan dan keindahan.
Dalam mitos lokal, suara kepodang dipercaya membawa kabar baik bagi siapa saja yang mendengarnya di pagi hari.
Pelestarian lewat edukasi ke sekolah-sekolah dan komunitas pecinta burung terus digalakkan.
Jeruk Nambangan dan Kepodang Batu bukan sekadar aset alam.
Flora dan fauna khas itu juga simbol ekologis dan identitas lokal yang perlu dijaga bersama.
Upaya pelestarian keduanya harus menjadi bagian dari narasi pembangunan kota yang berkelanjutan. Yakni, kota yang tumbuh tanpa mencabut akarnya. (den)
Editor : Deni Kurniawan