Cerpen: Agnes Devi*
MENGENAL saja cukup, apalagi dapat memiliki seutuhnya. Benar-benar terasa mimpi yang menjadi nyata. Suatu pagi Anton melangkahkan kaki menuju rumah Dara Muning. Ia ingin mengutarakan maksud hatinya.
“Dara Muning, begitu lama perasaan ini kupendam sendiri. Akhirnya aku tak tahan lagi. Kuputuskan untuk meminangmu. Apakah kau mau menjadi pasangan hidupku?”
“Aku sebenarnya juga suka padamu. Tapi, apa kau mau menepati janji suci ini? Aku bersedia menjadi pendamping hidupmu, tapi kau pun harus mecintaiku saja, tidak untuk yang lain,” pinta Dara Muning.
Pernikahan pun berjalan lancar. Keduanya hidup bahagia. Terlebih ketika Dara Muning mengandung. Namun, hidup hanya dengan cinta tidaklah cukup. Selama ini mereka hidup sederhana. Anton ingin lebih membahagiakan istri dan calon anaknya. Ia pun memutuskan merantau ke kota.
“Istriku, aku akan mencari pekerjaan di kota. Kau baik-baiklah di sini bersama anak kita. Aku pasti akan kembali,” ucap Anton.
“Apa kau yakin meninggalkan aku sendiri dalam keadaan mengandung?” ujar Dara Muning bersedih.
“Aku berjanji akan pulang dengan membawa banyak uang untukmu dan anak kita. Aku meminta izinmu untuk pergi.”
Dara Muning menganggukkan kepalanya. Dia merelakan kepergian suaminya.
Tidak terasa kandungan Dara Muning semakin besar. Tibalah hari ia melahirkan. Anaknya laki-laki. Tampan seperti ayahnya. Hari demi hari, tahun demi tahun, tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Sementara Anton tak jua pulang. Dara Muning begitu kecewa. Ia tak mengharapkan lagi suaminya itu pulang. Dara Muning pun menjadi janda beranak satu.
Dara Muning dan anak laki-lakinya tinggal di desa terpencil. Tetangga sedikit. Jarak antar-rumah begitu jauh. Suatu pagi, Bujang Munang –begitu nama sang anak– ingin pergi ke hutan untuk berburu.
“Ibu, aku ingin berburu ke hutan untuk makan kita nanti.”
“Baiklah anakku, tapi jangan pulang terlalu malam,” pesan Dara Muning.
Malam telah larut, tetapi Bujang Munang belum kunjung pulang. Pagi harinya, ketika hendak memasak nasi di dapur, Dara Muning melihat Bujang Munang tergopoh-gopoh datang. Ia mengambil makanan dengan rakusnya. Sial, Bujang Munang tak sengaja menyenggol periuk nasi sampai isinya tumpah berhamburan.
“Maafkan aku, Ibu. Aku tak sengaja menabrak periuk itu. Aku begitu lapar,” sesal Bujang Munang.
“Dasar anak nakal! Pagi baru pulang, sampai rumah malah menumpahkan periuk nasi. Pergi dari sini!” umpat Dara Muning dengan amarahnya.
“Baiklah, jika itu yang Ibu mau, aku akan pergi,” ucap Bujang Munang.
***
Kejadian itu sudah lama berlalu. Bujang Munang yang diusir teringat akan kampung halamannya. Ia pun memutuskan pulang. Sesampainya di kampung halaman, Bujang Munang bertemu seorang perempuan berparas cantik.
Perempuan itu tak lain Dara Muning. Setelah ditinggal oleh anaknya, Dara Muning rajin bersolek menggunakan beras ketan yang ia rendam setiap malam, kemudian diracik menjadi lulur. Bujang Munang pun dibuat jatuh hati. Ia memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya.
“Dara Muning, sejak kali pertama kita bertemu, sejujurnya aku sudah menaruh hati padamu. Apakah kau mau menjadi kekasihku?” tanya Bujang Munang.
“Apa kau yakin? Kau belum lama mengenalku,” jawab Dara Muning.
“Sudah aku pikirkan apa yang menjadi keputusanku. Keputusan yang kupilih adalah yang paling tepat.”
Setelah menjalin hubungan beberapa lama, Bujang Munang berniat meminang Dara Muning. Pinangan pun diterima. Pernikahan keduanya akhirnya dilangsungkan. Kehidupan rumah tangga berjalan harmonis dan penuh dengan kebahagiaan.
Suatu siang Bujang Munang yang sedang duduk di teras tiba-tiba merasa kepalanya sangat gatal. Bujang Munang pun memanggil istrinya.
“Istriku, periksa kepalaku. Rasanya seperti ada kutu, sangat gatal,” pinta Bujang Munang.
“Berbaringlah, akan kucarikan kutumu,” kata Dara Muning.
Saat Dara Muning menggaruk kepala suaminya, ia tidak sengaja melihat bekas luka.
“Suamiku, yang ada di kepalamu itu bekas apa? Kenapa seperti bekas luka?” tanya Dara Muning.
“Ya, memang bekas luka. Dulu dipukul ibuku dengan sendok nasi.”
Dara Muning sontak terkejut. Ia sadar bahwa suaminya itu adalah anaknya sendiri yang dulu ia usir dari rumah.
Selang beberapa minggu setelah kejadian itu, Dara Muning dan Bujang Munang pergi ke pasar. Anehnya, selama di perjalanan warga memperhatikan mereka dengan tatapan sinis. Karena penasaran, Dara Muning bertanya pada orang sekitar itu.
“Ada apa? Mengapa kalian melihat kami dengan tatapan sinis?” tanya Dara Muning.
“Bagaimana tidak? Kami sudah tahu bahwa kalian ibu dan anak!” jawab salah seorang warga.
“Lebih baik akhiri hubungan kalian. Selain melanggar kuasa Sang Pencipta, kalian bisa kena karma!” tambah warga lainnya.
Sesampainya di rumah, pikiran Dara Muning begitu kalut. Ia ingin mengakhiri hubungan dengan suaminya. Namun, Bujang Munang menolak. Ia tidak percaya bahwa Dara Muning adalah ibunya. Ia menganggap bahwa bekas luka yang ada di kepalanya hanya kebetulan.
Karena tidak ada keputusan antara Dara Muning dan Bujang Munang, akhirnya mereka dikutuk menjadi batu. Batu Dara Muning –begitu orang-orang menamainya– sampai kini masih berdiri kokoh. []
*Agnes Devi, anggota Paguyuban Keluarga Besar Borneo Madiun (PKBBM)
Cerpen ini dimuat di koran Jawa Pos Radar Madiun pada 15 Mei 2022
Editor : Mizan Ahsani