Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

LAKON WAYANG | Sang Basukarna

Mizan Ahsani • Sabtu, 2 Maret 2024 | 14:30 WIB
Ilustrasi cerpen Sang Basukarna (HAKIM/RADAR MADIUN)
Ilustrasi cerpen Sang Basukarna (HAKIM/RADAR MADIUN)

Oleh: Ki Damar (*)

PAGI itu di bawah pohon yang rindang, berdiam seseorang yang sangat cakap dan bersinar.

Ia adalah seorang Raja Ngawangga bernama Karna Basusena, senopati dari Kerajaan Hastina yang sangat kuat dan pemberani.

Kekuatannya diakui oleh para satria. Lebih-lebih, dia adalah satria yang ahli dalam memanah.

Suatu hari dia terlihat merenung dalam kesedihan, dia merasa bahwa dunia tidak adil.

Kenapa? Karena dia lahir tidak mengetahui siapa ibu kandungnya.

Orang yang membesarkannya selama ini adalah seorang istri dari kusir kerajaan bernama Dewi Nada.

Sedangkan bapak yang membesarkanya bernama Adirata.

Setelah Karna menjadi raja di Ngawangga, dia mengajak sang ibu ke kerajaannya.

Namun ayah dan ibunya tak layak mendapatkan kehormatan itu.

Basukarna bertanya dengan penuh keheranan.

"Kenapa ayah dan ibu tak mau aku ajak ke Ngawangga?"

"Bukannya ini sesuatu yang sudah selayaknya dilakukan oleh seorang anak terhadap orang tuanya?”

Sang ibu menjawab dengan lembut.

"Bukan begitu anakku. Apakah ibu dan ayahmu layak kau ajak ke kerajaanmu yg penuh dengan intan permata, dinding-dinding yang berhiaskan emas dan berlian?"

"Wahai anakku, ibu adalah seorang istri dari kusir kerajaan Hastina, kerajaanmu akan kotor ketika kaki ini menginjakkan lantaimu yang terbuat dari marmer."

Jawaban sang ibu membuat Karna berlinang air mata.

"Wahai ibuku. Adakah anak yang akan tega menelantarkan ibunya setelah anaknya menerima kemuliaan?"

"Sungguh dunia akan cemburu tatkala ada seorang anak yang memuliakan ibunya," ujar Karna, mencoba meyakinkan kembali sang ibu.

"Anakku, sungguh kau tidak akan bilang seperti itu ketika kau mengetahui sebenarnya dirimu. Sungguh engkau akan kecewa ketika mendengar hal ini," tutur Dewi Nada.

"Apakah itu ibu?" Karna kembali melontarkan pertanyaan.

"Anakku, sudah saatnya kau mengetahui kebenaran ini. Setelah kuceritakan ini, ayah dan ibu akan menerima keputusanmu," jawab Dewi Nada.

Kini, mata sang ibunda mulai berkaca-kaca.

"Anakku Karna, sesungguhnya dalam pernikahanku dengan ayahmu, kita tidak memiliki seorang anak."

"Bertahun-tahun kami berdoa di Sungai Gangga, kami selalu memohon agar dikaruniai seorang bayi yang cantik ataupun bagus. Tapi tak kunjung ibumu ini diberi momongan."

Sejenak menghela napas, Dewi Nada lantas melanjutkan ceritanya.

"Tiba suatu pagi, di saat langit begitu cerah, di Sungai Gangga ini ada sebuah keranjang yang hanyut, tapi anehnya terdengar tangisan dari keranjang itu."

Karna masih memperhatikan cerita sang ibu.

"Serentak ayahmu mengambil keranjang itu. Di dalamnya ada bayi yang sangat tampan dan bercahaya. Di kala itu ayahmu berteriak, doa kita terkabul wahai istriku."

Karna hanya termenung.

Dewi Nada kembali melanjutkan ceritanya.

Saat itu, dia tertegun karena suaminya berteriak. Dewi Nada lantas terjatuh tatkala melihat isi dari keranjang tersebut.

Di dalam keranjang, terdapat bayi yang sangat tampan dengan mata yang berbinar layaknya sinar matahari.

Reflek, dia bergegas menggendong bayi itu. Tangisan bayi mungil itu berhenti. Dalam dekapan hangat Dewi Nada, si mungil tertidur pulas.

Di pagi yang cerah itu, seolah sang surya ikut tersenyum dan gembira. Di antariksa terdengar suara yang mengucapkan ''beri dia nama Basukarna atau Suryatmaja".

Pasangan itu meneteskan air mata kebahagiaan. Memeluk erat sang buah hati, meski mereka mengetahui bahwa ia bukan anak kandungnya.

Namun mereka bersyukur, karena dewa telah mengabulkan doa yang selama ini dilantunkan.

Cerita Dewi Nada seolah mendatangkan mendung gelap di langit.

Karna yang sedari tadi menyimak lantas menangis di pangkuan sang ibu dengan melempar mahkota emasnya.

Sang Basukarna berkata lirih dengan isak tangisnya yang pecah.

"Wahai ibuku, sungguh engkau bidadariku, kenapa engkau tak bilang dari dulu, kenapa menunggu aku besar dan ketika aku mendapat kejayaan?"

"Ibuku jantungku, sungguh engkau wanita yang baik hati," tutur Karna.

Dengan masih terisak, Karna melanjutkan.

"Demi dewata yang agung, akupun tak akan kecewa meski kau bukanlah ibu kandungku, engkau selalu sabar dan sayang merawat aku yang bukan anakmu."

"Engkau lebih mahal dari mahkota emasku bahkan dari singgasana tempatku berdiri. Kenapa?karena ibu kandungku mungkin tidak akan memberi kasih sayangnya seperti apa yang kau berikan padaku."

"Bahkan dengan aku membawamu ke istanaku, memberi busana sutra dan hiasan emas permata, akupun tak sanggup membeli kasihmu," ujar Karna.

Dengan lembut, Dewi Nada memberi jawaban yang melegakan hati sang anak.

"Anakku engkau mempunyai hati yang sangat baik, tidak rugi aku menemukanmu kala itu," ujarnya.

"Tapi ketahuilah anakku, sesungguhnya anak yang mulia adalah anak yang berbakti pada orang tuanya," sambungnya.

Karna kembali mengajak sang ibu pergi ke istana.

"Maka dari itu, ibuku pergilah bersama ayah, ikutlah denganku ke istana," pinta Karna.

"Tidak, bukan itu maksudku anakku, ibu yang kumaksud adalah ibu kandungmu!"

Jawaban Dewi Nada membuat Karna tersentak.

"Ibuku, engkau mengetahui bahwa aku adalah seorang laki-laki yang di buang orang tuanya. Aku bahkan tak tau siapa ibu dan ayah kandungku."

"Mereka tega membuangku. artinya mereka tidak menginginkanku," jawab Karna.

Dewi Nada masih berusaha meyakinkan sang buah hati yang kini menjelma jadi pria perkasa.

"Anakku Karna, tidak ada di dunia ini seorang ibu membuang anaknya melainkan sesuatu hal terjadi pada dirinya," ucap Dewi Nada.

"Seorang ibu tak akan rela berpisah dengan anaknya. Kenapa? Karena dia mengandungmu sembilan bulan sepuluh hari dan melahirkanmu ke dunia dengan taruhan nyawa," sambungnya.

"Lalu, apa yang harus saya lakukan demi membahagiakanmu, ibu?"

Dewi Nada memberi jawaban yang lugas.

"Carilah ibu kandungmu. Setelah itu aku akan rela ikut denganmu wahai anakku," ujarnya.

"Lalu aku harus mencarinya di mana? Apakah ibuku masih mengingat aku, apakah ibu kandungku masih mengharapkan aku, mencintaiku," kata Karna.

"Ketika engkau ditemukan oleh ayahmu, disampingmu ada satu anting emas. Ibu percaya bahwa satunya masih dibawa ibu kandungmu wahai anakku."

"Bila kau mencari seorang wanita yang mempunyai anting yang sama dengan ini, mungkin kau akan berjumpa dengan ibu kandungmu," ucap Dewi Nada, seraya memberi anting milik Karna.

"Baiklah ibu, saya melakukan ini bukan karena aku ingin, tapi karena aku patuh dengan engkau," jawab sang anak.

"Tolong engkau janganlah pernah hilang ataupun kurang cintamu padaku ibu. Karena bila aku tak menemukan ibu kandungku, hanya engkau dunia yang aku punya."

Dewi Nada meyakinkan sang anak.

"Iya anakku, bergegaslah engkau. Karena ibu merasa kebaikan akan tiba pada dirimu. Ibu dan ayahmu berdoa agar kamu menemukan jati dirimu," kata Dewi Nada.

Karna bergegas mencari wanita yang mempunyai anting yang sama dengan miliknya.

Suatu sore, ketika Basukarna kelelahan mencari wanita yang mempunyai anting yang sama dengannya, ia berteduh di pinggiran Sungai Gangga.

Dia bersandar di sebuah batu yang besar.

Bayangkan saja, seorang raja dengan tahta yang tinggi, mencari seorang ibu kandungnya sendiri tanpa didampingi senopati, panglima, ataupun prajurit.

Dengan kerendahan hati dan niat yang besar mencari ibunya.

Di dalam hati, dia bertanya pada dirinya sendiri.

"Apa salahku sehingga aku dibuang orangtuaku, apakah aku dilahirkan dari hubungan gelap? Atau karena tidak di restui? Kenapa dewa sangat kejam pada diriku?"

Benak Karna dipenuhi pertanyaan.

"Lalu apa gunanya tahta dan jabatan ini bila aku tak tau jati diriku," ujarnya dalam hati.

Dari kejauhan, dia melihat bayangan seorang wanita setengah tua, namun masih terlihat cantik dan bersahaja.

Dia melihatnya sambil terheran.

"Kenapa ada wanita yang menaburkan bunga di sungai ini? Apa dia sedang melakukan ritual atau semacamnya?" Karna bertanya-tanya.

Dia seketika terkejut tatkala wanita tersebut menghampirinya.

Basukarna kaget lantaran wanita itu adalah Dewi Kunti, ibu dari Pandawa.

Di tepian sungai itu, sang dewi berbicara dengan Karna.

Setelah berbincang-bincang, Karna bertanya.

"Sang dewi, apa yang engkau lakukan di sungai ini, sampai engkau menaburkan bunga?"

Dewi kunthi menjawab pertanyaan Karna.

"Di sini dulu adalah tempat bahagia dan sedihku, karena di sungai inilah aku melarung anakku ketika bayi," jawabnya.

"Ini juga menjadi tempat bahagiaku karena di tempat ini aku berbicara dengan sungai yang menjadi tempat kerinduan dan kasih sayangku pada anakku," imbuhnya.

Karna kembali melontarkan pertanyaan.

"Apakah sang dewi punya anak sebelum Pandawa dilahirkan?"

Dewi kunti menjawab, "benar".

"Apakah Anak sang dewi laki-laki?" Karna lagi-lagi memberi pertanyaan.

"Benar".

Muncul satu lagi pertanyaan di benak karna. Apakah sang dewi ini ibunya? Lalu, apakah itu artinya dia juga kakak dari Pandawa?

Karna memberanikan diri bertanya.

"Sang dewi, apakah engkau tahu tentang anting yang aku pakai saat ini? Ini adalah anting yang diberikan oleh ibuku ketika dia menemukanku di Sungai Gangga," kata Karna.

"Aku sedang mencari ibuku yang melahirkanku. Kiranya, ibuku memiliki anting yang sama dengan yang aku pakai," jawabnya.

Dewi Kunti bereriak lantang.

"Anakku!"

Dewi Kunti sontak merangkul Karna. Tangisnya pecah ketika melihat anting yang ditunjukkan kepadanya.

Karna bertanya, memastikan.

"Benarkah aku anakmu sang dewi?"

Kunti memberi kepastian yang dinanti-nanti Karna.

"Wahai anaku, anting itu hanya satu di Kerajaan Mandura. Engkau benar anakku, aku benar benar ingat matamu ini yang berbinar. Juga alis dan bibirmu, seperti itulah anakku," kata Dewi Kunti.

"Ketahuilah, aku membuangmu bukan karena aku benci."

"Suatu hari, di Kerajaan Mandura ada kerusuhan. Hanya dengan melarungmu, aku bisa membuatmu selamat," jelasnya.

Karna menangis sejadi-jadinya. Dia seketika percaya kepada Dewi Kunti.

Terlebih, Dewi Kunti merupakan sosok wanita yang taat dalam beribadah dan berpuasa. Apalagi dia juga seorang ibu dari Pandawa yang terkenal karena kebaikanya.

Dalam tangis, Karna kembali bertanya.

"Sang dewi, apakah engkau tahu di setiap mimpi malamku, aku selalu bermimpi ada seorang wanita yang setiap aku sedih bayangan wanita itu selalu datang."

"Dia menemuiku, mengelus rambutku, dan mencium keningku. Tapi setiap aku pandang wajahnya, tersilaukan oleh cahaya sehingga aku tak bisa menatapnya."

"Sekarang aku baru percaya bayangan yang selalu hadir dalam mimpiku itu adalah engkau, wahai ibuku," ucap Karna.

Mendengar kata-kata Karna, Dewi Kunti meminta maaf.

"Anakku, maafkan ibumu. Aku orang yang tak tahu diri. Bertemu denganmu di kala kamu sudah dewasa."

"Ibu melewatkan setiap masa pertumbuhanmu. Ibu melewatkan suka dan duka kehidupanmu. Bila kau membenciku, akupun tidak akan menyalahkanmu anakku," kata Dewi Kunti.

Jawaban Karna membuat hati sang ibu lega.

"Aku tak akan menyalahkanmu ibu. Engkau menyelamatkan aku dari kerusuhan Mandura. Pasti engkaupun berat melepasku," ujarnya.

"Ibu, bolehkah aku meminta satu hal darimu, sesuatu yang telah kau lewatkan selama ini?"

"Apakah itu anakku?" tanya Dewi Kunti.

Karna mengucapkan keinginannya selama ini.

"Bolehkah aku tidur di pangkuanmu, sambil kau elus rambutku dan kau cium keningku layaknya di mimpiku itu?"

Dewi Kunti membiarkan anaknya itu tidur di pangkuan. Sang anak yang dulu mungil, kini berubah menjadi pria nan gagah.

Dia mengusap kepala Karna dan sesekali mencium keningnya. Seketika itu pula air mata seorang ibu juga jatuh ke pipi anaknya.

Angin lembut sang surya redup tenggelam di sebelah barat. Seolah terharu dan cemburu melihat kasih sayang anak dan ibu yang baru bertemu itu.

Seolah sungai bercerita tentang ketulusan hati seorang anak dan ibu. Setinggi apapun jabatan dan kekuasaan, sebesar apapun tubuh kita, kita tetaplah anak kecilnya. (*/naz)

(*) Penulis merupakan alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#nada #basukarna #Dewi