Oleh: Ki Damar (*)
LANTAS, Kresna bertanya, “Mengapa kau berlari-lari seperti itu Bima? Apakah kamu merasa dipermalukan oleh Sengkuni? Hahaha,''.
Bima menjawab ''Apakah kamu terhibur ketika adikmu kalah bertarung?
Kresna, ''Siapa yang menyuruhmu maju perang melawan Sengkuni?''.
''Jangan banyak bicara. Sekarang, aku harus bagaimana? Selama berpuluh-puluh tahun pandawa disengsarakan oleh kurawa, dialah (Sengkuni) otak dari semuanya. Aku ingin dia segera lenyap,'' kata Bima.
Kresna, ''Baiklah, aku akan bercerita sedikit dan kamu sendiri yang harus mencari jawabannya,''.
''Suatu hari di Astina, kakekmu Abiyasa ingin menghadiahkan sebuah minyak kadewataan yang mempunyai khasiat. Bila minyak itu dipakai dan di oleskan pada kulit, maka semua senjata tidak akan mempan,'' ujar Kresna yang terus dingarkan Bima.
''Mendengar hal itu, Sengkuni menyundul wadah minyak tersebut. Minyak jatuh ke tanah dan tumpah. Sengkuni guling-guling ke tumpahan itu agar minyak masuk ke kulitnya,'' lanjut Kresna.
''Itulah sebabnya Sengkuni tidak mempan bila senjata kau hantamkan padanya. Tapi, ada bagian tubuh Sengkuni yang belum terolesi minyak,'' ungkap Kresna.
''Bagian mana itu?'' tanya Bima.
Bersamaan dengan itu, tidak sengaja Semar menyimak pembicaraan antara Kresna dan Bima.
''Bagian dubur,’’ terang Semar.
Mendengar perkataan Semar itu, Bima pergi tanpa pamit.
Di medan perang, Bima kembali menemui Sengkuni lalu menghajarnya kembali. Kuku pancanaka milik Bima memanjang sejengkal.
Kuku pancanaka itu ditusukkan dubur Sengkuni. Sengkuni menjerit kesakitan. Bima merasa senang.
Bima lantas merobek lalu mem-beset kulit Sengkuni. Ksatria Plasajenar itu menjadi layaknya hewan kurban yang dikuliti. Sengkuni mati di tangan Bima.
Kisah ini dapat dimaknai dari berbagai kacamata. Misal, seburuk-buruk manusia pasti ada baiknya. Pun, sebaliknya. (*/naz/habis)
(*) Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani