Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

LAKON WAYANG | Kikis Tunggarana (2) - Sejarah Terungkap

Mizan Ahsani • Jumat, 15 Maret 2024 | 03:30 WIB

 

Ilustrasi lakon wayang Kikis Tunggarana (RADAR MADIUN)
Ilustrasi lakon wayang Kikis Tunggarana (RADAR MADIUN)
 

Oleh: Ki Damar          

SEMENTARA, di Pringgondani, Prabu Anom Arya Gatutkaca sedang bersama pamannya, Patih Prabakesa, dan yang lain.

Mereka menerima tamu dari Kadipaten Tunggarana, Adipati Kahana. Kala itu ia datang bersama Resi Sumberkatong.

Adipati Kahana menyampaikan keluhan selama menjadi bawahan di Trajutrisna.

Selama ini Prabu Boma memerintah dengan semena-mena dan menindas Tunggarana.

Pembayaran pajak dan upeti Tunggarana lebih besar dibanding dengan kadipaten lainnya.

Dan baru-baru ini, Prabu Boma mengumumkan bahwa pembayaran pajak dalam setahun dibayar tiga kali.

Bila ini dilakukan maka rakyat kadipaten bisa menjadi miskin karena hasil jerih payah mereka lebih banyak diangkut ke ibu kota dibandingkan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Mendengar itu, Arya Gatutkaca merasa prihatin.

Namun dia mengatakan tak bisa melakukan apa-apa karena itu sama saja Pringgondani ikut campur dalam menata kebijakan kerajaan lain.

Resi sumberkatong yang saat itu menjabat patih di Tunggarana menerangkan bahwa dulu Tunggarana ada di bawah kerajaan Pringgondani.

"Yaitu pada masa Prabu Tremboko, eyangnya Gatutkaca," ujarnya.

Meninggalnya sang prabu membuat kekuatan Pringgondani berkurang.

Alhasil, Tunggarana dijarah Prabu Bomantara.

Belakangan, Bomantara dikalahkan oleh Prabu Sitija atau Prabu Boma Narakasura.

Dan sampai saat ini kadipaten pindah kekuasaan ke Trajutrisna. "Padahal dulu di bawah pringgondani," sebutnya. (naz/bersambung)

Editor : Mizan Ahsani
#Gatutkaca #kerajaan #adipati #prabu